17 Anak Sumba Diduga Jadi Korban Kejahatan Perdagangan Manusia

Sekitar 17 anak yang diduga korban perdagangan manusia ini direkrut Cinderella Agensi pada 10 Oktober lalu dengan tujuan ke Jakarta.

Ilustrasi Anak jadi Korban Perdagangan Manusia

Ilustrasi Anak jadi Korban Perdagangan Manusia

Sumba –Kejahatan perdagangan manusia (Human trafficking) diduga menjerat anak-anak Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Informasi dari Romo Yanus, sekitar 17 anak yang diduga korban perdagangan manusia ini direkrut Cinderella Agensi pada 10 Oktober lalu dengan tujuan ke Jakarta.

Enam anak di antaranya berasal dari Kecamatan Kodi, Sumba Barat Daya (SBD), dua anak dari Sumba Timur. Sisanya berasal dari Kecamatan Loli, Sumba Barat, dan Sumba Tengah.

“Ini beberapa informasi yang saya dapatkan dari salah satu anak yang saat ini sedang berada bersama teman lain di Jakarta,” ujar Yanus dalam keterangan tertulisnya di Whatsapp.

Mereka diberangkatkan dari SBD dengan bus travel ke Waingapu, Sumba Timur. Mereka ditemani oleh Marta dan Asti. Di Waingapu mereka ditampung di salah satu rumah di kampung Arab.

Baca Juga: Jalan Panjang Mariance Kabu, Korban TPPO Menggapai Keadilan

Pada 15 Oktober, mereka berangkat dari pelabuhan Waingapu menuju ke Tanjung Perak di Surabaya dengan menggunakan KM. AWU.

“Mereka ditemani oleh Asti dan Apli, mungkin dari Cinderella Agensi,” sebut Yanus.

Pada 20 Oktober 2022, pukul 02.00 WIB mereka tiba di Jakarta. Dijemput oleh seseorang bernama Ina.

Yanus menyebut, belum diketahui pasti berapa jumlah anak-anak saat ditampung di Waingapu dan yang diberangkatkan ke Surabaya.

Namun, informasi terakhir yang ia dapat menyebut, 15 anak saat ini berada di kantor dan dua anak sudah diantar ke majikan.

Agensi Cinderella sendiri tidak terdaftar di Dinas Tenaga Kerja SBD.

Sekretaris Daerah Sumba Barat Daya, Fransiskus Adi Lalo mengatakan, pihaknya belum mendapat informasi dari Dinas Ketenagakerjaa tentang dugaan terjadi perdagangan manusia di wilayahnya.

“Saya baru dapat laporan kemarin dan saya minta Kadis Nakertrans untuk jajaki kasusnya. Saya masih menunggu informasi dari penelusuran staf di Nakertrans.” Ujar Fransiskus saat dihubungi pada Senin, 24 Oktober 2022. *****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *