• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, Mei 13, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Cuaca, Iklim dan Lingkungan

Alasan Pedagang Oesapa Bertahan Kena Gelombang Pesisir Tiap Tahun

Tim Redaksi by Tim Redaksi
2 tahun ago
in Cuaca, Iklim dan Lingkungan
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Alasan Pedagang Oesapa Bertahan Kena Gelombang Pesisir Tiap Tahun

Lapak-lapak di Pasar Oesapa terendam banjir dari gelombang pasang laut. (Putra Bali Mula - KatongNTT)

0
SHARES
84
VIEWS

Kupang – Pantai Warna Oesapa selalu dihantam gelombang pesisir saat cuaca buruk tiap tahun. Kafe dan lapak para pedagang pun sudah langganan rusak parah dan ditumpuk berton-ton sampah yang dibawa gelombang.

Kafe dan lapak kecil memang berderet sepanjang pesisirnya. Ada pula Pasar Oesapa di sisi area wisata pantai itu yang tak luput dari gelombang pesisir, Selasa 12 Maret 2024. Semua barang dagangan terendam. Puing-puing kafe berserakan saat air laut surut.

BacaJuga

Desa Tablolong. (Rita Hasugian/KatongNTT)

Cerita Rumput Laut dari Tablolong: Petani Kesulitan Bibit, Hama Lendir, dan Tercemar Mikroplastik

11 Februari 2026
Jalur sebelah barat pembuangan limbah air pendingin mesin untuk merawat turbin dan pipa PLTU Timor-1 yang dibuang ke Laut Timor. Limbah itu mengandung serpihan batubara, oli dan solar. Jalur barat lokasinya berdekatan dengan lokasi budidaya rumput laut petani Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang, NTT. (Dok.Oktaf Sekatu)

4 Lembaga Uji Lab, Petani: Limbah Pendingin Mesin PLTU Timor-1 Dibuang ke Laut

9 Januari 2026

Para pedagang pun tak kapok dan meninggalkan tempat itu. Tiap tahun ritual yang sama mereka lakukan. Mereka memperbaiki lagi lapak atau kafe yang rusak. Sambung hidup, jadi alasan utama.

Baca juga : Kehidupan Anak Pekerja Migran Yang Terabaikan

Bia Nggelan, salah seorang nelayan yang juga berdagang kecil-kecilan di pantai itu. Ia tidak bisa melaut saat gelombang tinggi dan karena usianya sudah senja. Pilihannya adalah berjualan seperti biasa meskipun hari itu air laut mengguyur habis lapaknya.

Salah satu kafe di Pantai Oesapa rusak parah setelah gelombang pesisir. (Putra Bali Mula – KatongNTT)

“Tetap jual saja, habis mau bagaimana kita punya mata pencaharian di sin selain melaut,” jawab Bia saat ditemui di lapak mungilnya.

Sudah sejak Januari lalu Bia berhenti melaut dan kini mengurusi jualan di kios dan lapak dagangannya.

Ia memiliki satu kapal yang telah dijauhkan dari pesisir pantai agar tak dihantam gelombang pesisir.

Baca juga : Angin Puting Beliung Rusak 15 Rumah di Kupang dan Pulau Semau 

“Tahun ini lebih parah. Banyak yang rusak. Perahu-perahu banyak rusak. Gelombang naik sampai di sini. Ini tahun yang parah,” tambah dia Selasa siang sore itu.

Bia menjual pisang dan jagung bakar serta berbagai minuman di lapak kayu yang beratap rendah itu. Atap sengnya yang berkarat ditumpuk banyak balok kayu dan batu agar tak copot saat angin kencang.

Pada sore itu pria 60 tahun ini tengah menyalakan bara api dengan arang dan tempurung kelapa di lapaknya. Sementara bahan makanan dan minuman akan diambil kemudian di rumah.

Baca juga : NTT Waspada Bencana Akibat Cuaca Ekstrem Selama Sepekan

Lapak kayu yang dilapisi berbagai baliho bekas ini basah kuyup hingga termasuk meja dan kursi di dalamnya. Jarak tempat jualannya itu memang hanya 5 meter dari tanggul pantai.

“Kebanyakan yang tempat kecil-kecil ini rata-rata nelayan yang punya,” kata dia.

Pasar Oesapa dekat pantai terendam air laut dari gelombang pesisir. (Putra Bali Mula – KatongNTT)

Sementara kiosnya tidak dibuka karena beberapa hari terakhir ini barang dagangannya terkena gelombang laut yang datang usai menghantam tanggul.

Bia telah menekuni bisnis ini sejak 2010 demi menghidupi keluarganya di samping melaut. Ia memiliki 7 orang anak yang juga sudah dewasa.

Baca juga : Waspada! Badai Siklon Tropis Muncul di Wilayah NTT

Kerugian paling besar ia alami saat Badai Seroja terjadi beberapa tahun lalu. Ia merugi Rp 18 juta karena kios dan lapaknya rusak.

Gelombang laut beberapa hari terakhir ini memang tidak menyebabkan kerusakan besar namun berpengaruh pada kunjungan konsumen.

Ia membuka lapaknya mulai sore hari hingga tengah malam. Istrinya biasa membantu menyiapkan bahan jualan dan langsung pulang lagi untuk membuat kue lagi. Bia yang selalu berjaga di lapak itu hingga tengah malam.

Keuntungan jualan di lapaknya pun bergantung cuaca. Rata-rata ia bisa mendapat Rp 200 hingga Rp 300 ribu saat cuaca baik sehingga kunjungan ramai. Namun kala cuaca buruk seperti ini biasanya ia sulit mendapat untung.

Baca juga : 8.000 Keluarga Miskin Ekstrem NTT Dapat Jatah Beras 

“Hujan begini nanti sepi. Kalau cuaca bersahabat kita bisa kumpul uang tapi kalau tidak ya sulit,” jelasnya.

Memang tanggul pantai itu telah diperbaiki pasca Badai Seroja akan tetapi gelombang pesisir tahun ini lebih mengerikan dan sampai mengenai lapak mereka.

“Dari kemarin, malamnya, tadi lagi air laut naik,” kata dia.

Sampah menumpuk di pesisir Pantai Oesapa setelah gelombang pesisir. (Putra Bali Mula – KatongNTT)

Untuk kafe-kafe yang dihantam gelombang laut pun tiap tahun merugi hingga ratusan juta karena harus dibangun dari awal lagi.

“Habis itu kafe-kafe di sana,” tukasnya.

Penjabat Wali Kota Kupang, Fahrensy Priestley Funay, juga telah mengeluarkan ketetapan status tanggap darurat bencana alam akibat cuaca ekstrem di Kota Kupang. Status ini berlangsung hingga 19 Maret 2024. Fahren dalam surat itu menyebut Kota Kupang dalam keadaan darurat bencana selama 7 hari ke depan.

Sementara Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tenau, Yandri Anderudson T. Tungga, mengatakan gelombang pasang dan banjir rob perlu diwaspadai.

Baca juga : Gelombang Rossby Ekuator Picu Banjir di Sumba Timur

“Ada potensi gelombang pasang dan banjir rob pada periode 16-17 Maret 2024 yaitu wilayah pesisir Pulau Flores – Alor, Pesisir Pulau Sabu Raijua, Pesisir Pulau Sumba, dan Pesisir Pulau Timor – Rote,” katanya.

Yandri mengatakan masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area pesisir berpeluang mengalami gelombang pasang dan banjir rob.

“Dihimbau untuk tetap waspada dan siaga terutama pada saat fase pasang maksimum untuk mengantisipasi dampak dari gelombang pasang dan banjir rob,” tukasnya. ****

Tags: #BanjirRob#BMKGNTT#Gelombangpasang#GelombangPesisir#PantaiwarnaOesapa#PedagangPantaiWarnaOesapa#WaliKotaKupang
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Desa Tablolong. (Rita Hasugian/KatongNTT)

Cerita Rumput Laut dari Tablolong: Petani Kesulitan Bibit, Hama Lendir, dan Tercemar Mikroplastik

by Rita Hasugian
11 Februari 2026
0

Pada Jumat sore, 30 Januari 2026, Indrawati Doroh duduk berselonjor di teras rumahnya di Desa Tablolong, Kabupaten Kupang, NTT bersama...

Jalur sebelah barat pembuangan limbah air pendingin mesin untuk merawat turbin dan pipa PLTU Timor-1 yang dibuang ke Laut Timor. Limbah itu mengandung serpihan batubara, oli dan solar. Jalur barat lokasinya berdekatan dengan lokasi budidaya rumput laut petani Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang, NTT. (Dok.Oktaf Sekatu)

4 Lembaga Uji Lab, Petani: Limbah Pendingin Mesin PLTU Timor-1 Dibuang ke Laut

by Rita Hasugian
9 Januari 2026
0

 Kupang – Klaim PT PLN (Persero) untuk mengusut dan memvalidasi dugaan batubara sebagai bahan bakar PLTU Timor-1 memunculkan pertanyaan. Sebab...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati