• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Jumat, Mei 15, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Pemilu 2024

Buruknya Media Para Politisi di Pemilu 2024

Tim Redaksi by Tim Redaksi
2 tahun ago
in Pemilu 2024, Pilihan Editor
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Buruknya Media Para Politisi di Pemilu 2024
0
SHARES
83
VIEWS

Kupang – Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2Media) pada November ini menerbitkan hasil riset bernama Kepemilikan dan Afiliasi Politik Media di Indonesia.

Riset sejak November 2022 hingga Agustus 2023 ini menemukan media di Indonesia sangat berisiko disetir oleh kepentingan politik praktis karena dominannya pemilik media yang berperan sebagai politikus.

Media nasional pun memiliki kecenderungan conglomerate ownership dan media lokal memiliki tipe chain ownership. Catatan PR2Media, media-media lokal yang merupakan jaringan dari media nasional pun merupakan bagian dari conglomerate ownership.

BacaJuga

Marselianus, ayah dari siswa SMPN 8 Kota Kupang yang dirawat di UGD SK Lerik.

Keracunan Massal di SMPN 8 Kota Kupang: Sayur Basi, Rendang Berjamur

28 Juli 2025
Bundaran Tirosa, ikon Kota Kupang, menjadi tempat berkumpul orang-orang muda di NTT. (Novi/KatongNTT)

Kesaksian Generasi Cemas di NTT: Upah Murah, Jam Kerja Panjang, Sarjana Susah Cari Kerja

14 Juli 2025

Baca juga : AJI Sentil Jurnalis Nyaleg Tapi Masih Produksi Berita

PR2Media menyebut kebebasan media di Indonesia masih dibatasi, bukan karena kekuasaan otokratis, melainkan karena dominasi aktor-aktor politik yang menguasai media.

“Aktor-aktor politik ini menjadi pemilik media dan masuk ke gelanggang pemerintahan yang memiliki kuasa untuk mengatur kepemilikan dalam pasar media,” sebut PR2Media dalam riset itu.

Riset itu juga mendeskripsikan bentuk-bentuk afiliasi politik jurnalis atau media baik secara langsung maupun tidak langsung.

Baca juga : Bawaslu Bentuk Satgas Atasi Caleg Rangkap Wartawan

Afiliasi langsung seperti jurnalis atau pemilik media pernah atau sedang menjadi pengurus parpol, maupun pernah atau sedang menjabat dalam posisi tertentu di institusi pemerintahan, juga masuk ke gelanggang politik praktis dengan mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif.

Sedangkan afiliasi tidak langsung terlihat dari hubungan kedekatan jurnalis atau pemilik media dengan aktor-aktor politik.

“Afiliasi jenis ini memang lebih sulit untuk dideteksi atau dibuktikan,” sebut riset itu.

Baca juga : Kemiskinan NTT Diduga Langgeng Demi Jualan Politisi

Beberapa narasumber menyampaikan jurnalis seringkali memiliki sikap yang berbeda dengan pemilik medianya terkait dengan isu politik dan lainnya. Tidak lain ini adalah dampak dari bentuk-bentuk afiliasi politik tersebut.

“Perbedaan ini membuat jurnalis selalu dalam posisi yang rentan karena dipaksa untuk memenuhi agenda pemilik medianya. Kondisi ini semakin meningkat khususnya di dalam periode pemilihan umum,” tekan PR2Media dalam riset itu.

Dampaknya juga pada agenda redaksi medianya, lanjut riset itu, dimana para pemilik media terlibat di dalam posisi dan saling mendukung kandidat yang berbeda.

Baca juga : Mantan Napi Korupsi Nyaleg DPRD Kota Kupang

Konflik kepentingan juga muncul dari jurnalis yang mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif yang mana sudah terlihat kecenderungan atau bias politiknya.

“Ini tentu berpengaruh terhadap bias atau sikap politik ketika mereka tidak terpilih sebagai anggota legislatif dan kembali menjadi wartawan. Bias semacam ini tetap bisa mempengaruhi cara sebuah informasi diberitakan,” paparnya.

Baca juga : Ragu Pemilu 2024 Demokratis, Kurawal Serukan Pengawasan Internasional

Maka dalam pemilu 2024 yang akan datang kondisi ini sangat mungkin terjadi lagi. Dengan situasi demikian, yang dirugikan tentu publik karena diskursus yang lebih objektif akan sulit terjadi.

Riset ini juga mengkonfirmasi adanya kompleksitas pada tiga pihak yaitu regulator media, regulator pemilu, dan regulator persaingan usaha.

Penelitian ini sendiri melalui studi pustaka, kajian dokumen hukum, analisis isi pemberitaan, wawancara, dan FGD.

Media arus utama nasional dan lokal yaitu Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan menjadi obyek riset itu. Riset ini juga memetakan ekosistem media yang semakin liberal dan digital terutama mendekati Pemilu 2024.

Baca juga : Riset Anti Korupsi BUMD NTT Dapati Fakta Buruk

Rekomendasi kebijakan dari riset itu ialah perubahan regulasi terkait kepemilikan media dan partisipasi politik dengan memproduksi regulasi baru atau minimal revisi aturan mengenai permasalahan ini.

Selain itu dibutuhkan penguatan posisi dan peran Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia, peningkatan konsolidasi masyarakat sipil, termasuk asosiasi jurnalis seperti AJI dan PWI dalam penegakan kode etik bagi anggotanya.

Hasil riset tersebut bisa dilihat pada laman resmi PR2Media yaitu https://pr2media.or.id/publikasi/kepemilikan-dan-afiliasi-politik-media-di-indonesia/ ****

Tags: #AJI#Mediapolitik#PolitikMedia#politisipemilikmedia#PR2Media#PWI#RisetPR2Media
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Marselianus, ayah dari siswa SMPN 8 Kota Kupang yang dirawat di UGD SK Lerik.

Keracunan Massal di SMPN 8 Kota Kupang: Sayur Basi, Rendang Berjamur

by Rita Hasugian
28 Juli 2025
0

Kupang – Gionino, siswa kelas 7 SMP Negeri 8 Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengungkapkan, sajian makan bergizi gratis...

Bundaran Tirosa, ikon Kota Kupang, menjadi tempat berkumpul orang-orang muda di NTT. (Novi/KatongNTT)

Kesaksian Generasi Cemas di NTT: Upah Murah, Jam Kerja Panjang, Sarjana Susah Cari Kerja

by KatongNTT
14 Juli 2025
0

Setelah lulus SMA di Niki-Niki, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Rita—bukan nama sebenarnya—memutuskan merantau ke Kota Kupang. Tidak ada lapangan kerja...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati