• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Jumat, April 17, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Pekerja Migran & Perdagangan Orang

Cegah PMI Ilegal, Indonesia Perlu Ikuti Vietnam Soal Visa Pertanian Australia

Rita Hasugian by Rita Hasugian
4 tahun ago
in Pekerja Migran & Perdagangan Orang
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Pekerja memanen pisang di Australia (dfat.gov.au)

Pekerja memanen pisang di Australia (dfat.gov.au)

0
SHARES
196
VIEWS

Jakarta – Vietnam akan menjadi negara pertama dalam program visa pertanian Australia (Australian Agriculture Visa). Indonesia perlu mengikuti jejak Vietnam karena gelombang pengiriman pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Informasi yang dikumpulkan KatongNTT.com, Senin (2/5/2022) menguatkan bahwa kekurangan tenaga kerja di Australia menjadi peluang pengiriman PMI ilegal. Sejak Januari 2022, sekitar 200 calon PMI ilegal batal diberangkatkan dari sejumlah wilayah di Indonesia. Terakhir, pengiriman 26 PMI digagalkan Polisi Air dan Udara (Polairud) Nusa Tenggara Timur (NTT). Keberangkan calon PMI melalui sejumlah pelabuhan atau jalur tikus dari penyelundup. Rangkaian gagalnya pengiriman itu menunjukkan penyelundupan ke Australia cukup tinggi seiring kebutuhan tenaga kerja yang cukup besar.

BacaJuga

Rumput laut milik nelayan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang rusak disebabkan limbah batubara PLTU Timor-1. (Dok. Oktaf Saketu)

PLN Klaim Usut Dugaan Batubara PLTU Timor-1 Cemari Laut Timor

8 Januari 2026
Penjara Kluang, Johor, Malaysia tempat PMI NTT tak berdokumen menjalani hukuman sebelum dideportasi pulang. (icrc.uthm.edu)

PMI NTT Ungkap Penjara dan Detensi Imigrasi Malaysia Tidak Manusiawi

27 Desember 2025

Baca : Sejak Januari, Diperkirakan 200 PMI Ilegal Gagal Diselundupkan ke Australia

“Harga buah dan sayuran di beberapa kota Australia meningkat bukan karena kurang produksi tapi minimnya tenaga untuk memanen selama pandemi,” ujar salah satu warga Indonesia di Australia, pekan lalu.

Saat bersamaan, Australia mendorong program visa pertanian untuk menjamin pasokan tenaga kerja pertanian dan industri primer. Di bawah program ini, seperti ditulis dalam www.foreignminister.gov.au, karyawan direkrut di berbagai sektor pertanian, termasuk hortikultura, susu, wol, biji-bijian, perikanan, dan layanan pendukungnya.

Dalam kunjungannya ke Indonesia pada Februari 2022 lalu, Menteri Pertanian dan Wilayah Utara Australia David Littleproud menawarkan visa pekerja pertanian tersebut. Tawaran itu sudah disampaikan kepada Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Hal yang sama juga disampaikan pihak Australia dalam pertemuan dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Menaker Ida Fauziyah menyambut baik inisiatif tersebut. Namun, masih banyak hal yang harus didalami seperti upah, perlindungan sosial, kontrak kerja, dan struktur pendapatan. Syahrul Yasin Limpo (SYL) mendorong kerja sama bagi petani milenial Indonesia. Namun, perbedaan kondisi Indonesia dan Australia sehingga perlu pelatihan pendahuluan dan penyesuaian.

Baca : Alumni IPB NTT Sambut Tawaran Visa Pertanian Australia

Berbeda dengan Indonesia, Vietnam cepat menangkap peluang itu. Belum lama ini, Menteri Luar Negeri Australia, Marise Payne, mengatakan nota kesepahaman (MoU) program visa pertanian telah ditandatangani dengan Vietnam. “Australia dan Vietnam berbagi agenda yang kuat dan optimistis dalam hubungan kami,” kata Payne dalam sebuah pernyataan.

Menteri Pertanian David Littleproud menyambut baik kesepakatan dengan Vietnam tersebut dan mengatakan hal itu merupakan “salah satu pencapaian terbesar Partai Nasional tahun ini”. Bisa jadi, Vietnam menjadi negara pertama yang akan bekerja sama dalam program visa pertanian tersebut.

Baca : Investasi Kabel Laut Australia-Singapura, Bisakah NTT Mengambil Peluang?

Sebelum masa pandemi, para petani Australia sudah menyerukan visa pertanian untuk mendatangkan pekerja guna membantu panen. Sektor pertanian diperkirakan memerlukan tambahan sekitar 26 ribu pekerja pada puncak pandemi, namun sejumlah sumber menyebutkan kekurangan 10 ribu tenaga kerja. Sementara itu, Skema Pergerakan Pekerja Pasifik Australia yang mendatangkan pekerja dari kawasan Pasifik dan Timor Leste, sudah menyetujui penambahan 55 ribu orang untuk datang dan bekerja di sektor pertanian, pengolahan daging, perawatan lansia, pariwisata, dan perhotelan. [VNA/K-02]

Tags: #Australia#Vietnam#VisapertanianAustralia
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Rumput laut milik nelayan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang rusak disebabkan limbah batubara PLTU Timor-1. (Dok. Oktaf Saketu)

PLN Klaim Usut Dugaan Batubara PLTU Timor-1 Cemari Laut Timor

by Rita Hasugian
8 Januari 2026
0

Kupang – PT PLN sedang menelusuri dan memvalidasi informasi dari nelayan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang bahwa aktivitas bongkar muat batubara...

Penjara Kluang, Johor, Malaysia tempat PMI NTT tak berdokumen menjalani hukuman sebelum dideportasi pulang. (icrc.uthm.edu)

PMI NTT Ungkap Penjara dan Detensi Imigrasi Malaysia Tidak Manusiawi

by Rita Hasugian
27 Desember 2025
0

Kupang – Marselinus Seke menahan rasa sakit pada kedua kakinya yang bengkak setiap kali melangkah. Kulit kakinya melepuh,  mengeluarkan cairan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati