• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Kamis, April 16, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Pekerja Migran dan Perdagangan Orang

Deportasi 77 Warga NTT dari Malaysia, Ada Bayi Setahun

Tim Redaksi by Tim Redaksi
2 tahun ago
in Pekerja Migran dan Perdagangan Orang
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Deportasi 77 Warga NTT dari Malaysia, Ada Bayi Setahun

WNI yang bekerja di Malaysia sebagai PMI dipulangkan Kemlu. (Dok. Kemlu RI).

0
SHARES
6.2k
VIEWS

Kupang – Sepanjang 2024 ini pemerintah telah memulangkan 77 warga Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Malaysia. Pemulangan pertama yaitu 56 orang pada 5 Juni dan 21 orang pada 10 Juni ini.

Pemulangan pertama 56 warga NTT ini bersamaan dengan 232 WNI yang difasilitasi oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia Kota Kinabalu, Malaysia.

BacaJuga

Tiga istri nelayan Papela, Rote bersama-sama anaknya menjenguk suami mereka di LP Baa, Rote Juli 2024. Suami mereka yang sehari-hari sebagai nelayan tergiur iming-iming uang puluhan juta oleh sindikat penyelundupan manusia untuk mengantar imigran ke Australia tahun 2022. (Dok. KatongNTT.com)

Memberangus Penyelundupan Manusia: Kisah Nelayan Rote Bertahan dari Jerat Sindikat

6 September 2025
Anggota Keluarga bersama masyarakat menggotong jenazah melintasi area longsor di Takari pada Minggu 19 Februari 2023 (Putra Bali Mula - KatongNTT.com)

Tak Relevan, NTT Harus Ganti Perda TPPO

4 Agustus 2024

Proses pemulangan sejak 27 Mei lalu hingga mereka tiba di NTT pada 5 Juni 2024 menggunakan KM Lambelu.

Baca juga: Awal 2024, NTT Terima 24 PMI Sakit dan Meninggal 

Dalam data yang diberikan Kepala BP3MI NTT, Suratmi Hamidah, diketahui para deportan ini dipulangkan karena berbagai penyebab. Penyebab terbanyak warga NTT dipulangkan ini karena lahir di Sabah, Malaysia, atau belum pernah memiliki pasport. Jumlahnya mencapai 25 orang.

Umur deportan warga NTT dari Malaysia yang paling muda adalah dua bayi berusia setahun. Pertama bayi asal Sikka yang lahir pada 24 Februari 2023. Kemudian bayi asal Flores Timur yang lahir 11 April 2023.

Kasus lainnya yaitu 18 orang dengan paspor atau izin yang hilang atau sudah habis masa berlakunya, 11 orang yang masuk ke Malaysia secara ilegal, dan seorang yang mengonsumsi atau mengedarkan narkoba.

Berdasarkan asal kabupaten, jumlah paling banyak adalah yang berasal dari Flores Timur yaitu 32 orang dan diikuti 10 orang dari Sikka.

Baca juga : Efek Patriarki, PMI NTT Paling Banyak Perempuan

“Ini 55 orang tambah 1 orang yang sakit jadi 56 orang yang melalui pelabuhan Maumere dan Flotim,” tukasnya.

Sementara 21 warga NTT yang dipulangkan pada 10 Juni difasilitasi oleh Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dari pemulangan 216 WNI.

Baca juga : Kemenlu Pulangkan 216 WNI dari Malaysia, Ada 21 Warga NTT

Suratmi mengatakan 21 warga NTT ini sementara dalam proses pemeriksaan dan perekaman data kependudukan setelah tiba di Indonesia. Ia masih belum bisa memastikan kapan mereka akan tiba di NTT.

“Ada 21 orang. Mereka masih dibantu terkait NIK oleh Kemendagri. Hari ini baru perekaman,” tanggapnya saat dihubungi 11 Juni 2024.

Terkait jumlah per kabupaten asal, usia dan data lainnya masih dalam pendataan lanjutan. Sementara ini, kata Suratmi, data sementara masih berdasarkan provinsi asal. ***

Tags: #BayilahirdiMalaysia#bp3mintt#deportasi#deportasiwargaNTT#KJRI
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Tiga istri nelayan Papela, Rote bersama-sama anaknya menjenguk suami mereka di LP Baa, Rote Juli 2024. Suami mereka yang sehari-hari sebagai nelayan tergiur iming-iming uang puluhan juta oleh sindikat penyelundupan manusia untuk mengantar imigran ke Australia tahun 2022. (Dok. KatongNTT.com)

Memberangus Penyelundupan Manusia: Kisah Nelayan Rote Bertahan dari Jerat Sindikat

by Rita Hasugian
6 September 2025
0

Pengantar: Kejahatan penyelundupan manusia (people smuggling) di Provinsi Nusa Tenggara Timur teridentifikasi marak sejak tahun 2000-an. Kejahatan ini telah melibatkan...

Anggota Keluarga bersama masyarakat menggotong jenazah melintasi area longsor di Takari pada Minggu 19 Februari 2023 (Putra Bali Mula - KatongNTT.com)

Tak Relevan, NTT Harus Ganti Perda TPPO

by Tim Redaksi
4 Agustus 2024
0

Rekomendasi ini keluar setelah Kemenkumham NTT mengkaji ulang Perda Provinsi NTT Nomor 14 tahun 2008 tentang pencegahan dan penanganan korban...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati