• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Minggu, Agustus 16, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Bisnis Agribisnis

Dilema Penjual Sayur Tradisional Hadapi Pandemi di TTS

Tim Redaksi by Tim Redaksi
5 tahun ago
in Agribisnis, Bisnis
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Penjual-sayur-berjualan-di-badan-jalan-setelah-Pasar-Inpres-Niki-Niki-ditutup-untuk-menekan-pandemi-Covid-19-di-Kabupaten-TTS-NTT.-Gi-KatongNTT.com

Penjual-sayur-berjualan-di-badan-jalan-setelah-Pasar-Inpres-Niki-Niki-ditutup-untuk-menekan-pandemi-Covid-19-di-Kabupaten-TTS-NTT.-Gi-KatongNTT.com

0
SHARES
125
VIEWS

Pemerintah Kabupaten TTS (Timor Tengah Selatan), provinsi Nusa Tenggara Timur telah menutup pasar Inpres Niki-Niki karena PPKM(Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) untuk menekan laju pandemi Covid-19.

Penutupan pasar tradisional itu membuat para penjual sayur mayur terpukul karena penghasilan mereka drastis menurun. Sementara mereka harus memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka setiap hari. Bersamaan itu mereka harus mencegah diri tertular dari Covid-19.

BacaJuga

Produk olahan hasil laut NTT oleh UMKM CV Elitism di Kupang Exotic Festival 2025 di halaman kantor Gubernur NTT, 26 Juni 2025. (Rita Hasugian/KatongNTT)

UMKM NTT Mulai Olah Hasil Laut Jadi Produk Unggulan

29 Juni 2025
Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

12 September 2024

Tak menyerah, para penjual sayur mayur memilih berjualan di badan jalan negara. Mereka hanya ingin bertahan hidup.

Yuliana Benu, penjual sayur ketika ditemui KatongNTT pada Kamis 13 Agustus 2021 mengatakan, dirinya berjualan di badan jalan hanya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup keluarganya.

“Kakak e kami jual di pinggir jalan ini hanya untuk makan minum sehari-hari saja,” kata Yuliana.

“Pasar ini pasar kecil, sudah begitu ditutup lagi karena Covid-19, kami mau makan minum dengan cara apa lagi, satu-satunya cara adalah jual di pinggir jalan,” ujarnya.

Yuliana menjelaskan, jual sayur mayur merupakan pekerjaan pokoknya yang sudah digeluti puluhan tahun. Penutupan pasar Inpres Niki-Niki membuat dia kesulitan untuk beralih profesi.

Penghasilan berjualan sayur mayur mencapai Rp 150.000 per hari. Dari pendapatan tersebut sebagian disisihkan untuk makan minum dan kebutuhan sekolah anaknya.

“Pendapatan setiap hari ini hanya untuk beli makan minum, karena sebagian harus simpan untuk beli sayur dan jual lagi,” tutur Yuliana.

Pemerintah Daerah TTS menginstruksikan penutupan pasar tradisional di tingkat desa dan kecamatan. Hanya Pasar Inpres Soe yang beroperasi setiap hari.

Sudah hampir sebulan Yuliana berjualan di pinggir jalan. Lapak jualan terbuat dari pelupuh bambu dan dibalut terpal seadanya untuk berteduh sambil menanti pembeli.

Nelci Bula, warga RT 018/RW 03 Dusun C Desa Tetaf Kecamatan Kuatnana Kabupaten TTS, sering menyuplai sayur ke Pasar Niki-Niki. Namun aktivitasnya itu terpaksa berhenti karena Pasar Inpres Niki-Niki ditutup.

Nelci kesulitan memasok sayur mayurnya ke pelanggannya di pasar itu.

“Saya ada langganan, jadi kalau sayur yang saya antar sudah habis dijual baru hubungi untuk saya antar lagi,” kata Nelci.

Nelci dengan dua anak masih bersekolah menanam sayur dan didrop ke Pasar Niki-Niki.

Pandemi Covid-19 menurut Nelci membuat dirinya dilematis dalam mencari nafkah. (Gi)

Tags: #Covid-19#Kabupatentts#pandemi#Pasarinpresniki-niki#Penjualsayur
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Produk olahan hasil laut NTT oleh UMKM CV Elitism di Kupang Exotic Festival 2025 di halaman kantor Gubernur NTT, 26 Juni 2025. (Rita Hasugian/KatongNTT)

UMKM NTT Mulai Olah Hasil Laut Jadi Produk Unggulan

by Rita Hasugian
29 Juni 2025
0

Di tengah laut biru dan pantai berpanorama indah, potensi ekonomi dari hasil laut di Nusa Tenggara Timur masih tersembunyi di...

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

by Rita Hasugian
12 September 2024
0

Boleh jadi kita tidak pernah terlintas cari tahu tentang jenis jagung yang kita konsumsi, apakah berasal dari bibit jagung lokal...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati