• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Kamis, Juli 2, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Kolaborasi Dekranasda Provinsi NTT

Dipicu Pandemi, Parlam dan Retna Hadirkan Jamu “Sari Bumi” di NTT

Tim Redaksi by Tim Redaksi
4 tahun ago
in Dekranasda Provinsi NTT
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Parlam dan Retna, Pelaku UMKM Jamu di NTT (KatongNTT-Ruth)

Parlam dan Retna, Pelaku UMKM Jamu di NTT (KatongNTT-Ruth)

0
SHARES
161
VIEWS

Kupang – Pebisnis UMKM Parlam dan Retna Wijaya tidak menyangka produk jamu produksinya diminati masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bisnis jamu ini lahir dipicu pandemi Covid-19. Segala pekerjaan dituntut dilakukan dari rumah. Parlam, yang adalah seorang distributor buku pelajaran, seketika pekerjaannya harus berhenti karena anak-anak sekolah mulai belajar dari rumah.

BacaJuga

Produk 'Dosa', yang adalah cuka tradisional dari Rote, NTT (Ruth-KatongNTT)

Mengenal ‘Dosa’, Cuka Tradisional dari Rote, NTT

27 Mei 2023
Proses produksi garam di CV. Raja Baru milik Ferdinand Latuharu (Dok. CV. Raja Baru)

Pabrik Garam Ferdinand Latuheru Kesulitan Bahan Baku

21 Mei 2023

Ini membuat pendapatan keluarganya berkurang. Sedangkan ada dua anak, istri, dan dirinya yang punya kebutuhan untuk tetap hidup.

Baca Juga: Kreativitas Remaja NTT Herlin Rato, Hasilkan Tenun dan Aksesoris Unik

Melihat ini, Retna, istri Parlam memilih membuat UMKM jamu dengan merek Sari Bumi. Misalnya Kunyit Asam, Beras Kencur, Kunyit Asam Sirih, Kunyit Putih Asam, Jahe Asam, dan Sari Jahe.

“Awalnya hanya untuk konsumsi pribadi. Lalu bawa ke tempat pengajian, ibu-ibu pada suka,” cerita perempuan 42 tahun ini.

Mendapat respons positif dan terus dicari orang-orang, Retna kemudian memilih untuk memasarkannya. Per botol ia jual dengan harga Rp10 ribu.

Produk Olahan UMKM Sari Bumi, Minuman Herbal berbagai rasa buatan Retna (Dok. Retna)

Awal penjualan saat Covid, pasangan asal Solo, Jawa tengah ini bisa memproduksi sekitar 60-140 botol per hari. Sehingga sebulan bisa meraup untung hingga Rp20 juta. Hal ini karena minuman jamu cenderung dicari orang ketika pandemi.

Akan tetapi setelah angka Covid-19 menurun, penjualannya turun karena tingkat kebutuhan masyarakat pun menurun.

“Padahal, minum ini beberapa orang katakan bagus kalau dalam keadaan tidak fit. Misalnya lagi flu, juga melancarkan pencernaan,” ucap Parlam.

Kini, Retna dan Parlam memproduksi 40 botol per hari. Untuk sebulan penjualan bisa mencapai 1.200 botol.

Sekitar pukul sembilan malam, Retna mulai memproduksi minuman herbal ini. Satu setengah jam prosesnya. Namun harus menunggu lama sampai minuman benar-benar dingin baru kemudian dikemas.

Keesokkannya, Parlam kemudian mengantarnya ke para pelanggan. Ke warung-warung, ke penjual sayur keliling dan beberapa kali ke Dekranasda NTT.

Besar harapan keduanya untuk nanti mampu memasarkan produknya ke luar dan lebih luas jangkauannya.

“Saat ini kami terkendala di izin BPOM. Karena belum punya rumah produksi dan dana yang cukup, tapi kami sedang mengusahakannya,” ujar Parlam, pria 43 tahun itu.

Baca Juga: Elsye Lesik Olah Rumput Laut di NTT Jadi Cemilan Sehat

Ke depan, Retna berharap produk UMKM miliknya mampu berkembang dan berdaya saing dengan UMKM lainnya. Walau kini mulai banyak pesaing dengan produk yang sama, Retna tetap melakukan yang terbaik agar kualitas rasanya tidak berubah.

“Jamu kan identik dengan dari Jawa, nah sekarang NTT sudah punya jamu sendiri karena bahannya dari lokal semua ini,” pungkas Retna.*****

 

Silakan hubungi nomor +6281329926909 jika berminat untuk membeli produk UMKM ini. Ayo kita dukung kemajuan UMKM NTT!

Tags: #Dekranasda#DekranasdaNTT#Jamu#JamuNTT#KunyitAsam#Minumanherbal#UMKM#UMKMJamu#UMKMNTT
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Produk 'Dosa', yang adalah cuka tradisional dari Rote, NTT (Ruth-KatongNTT)

Mengenal ‘Dosa’, Cuka Tradisional dari Rote, NTT

by Tim Redaksi
27 Mei 2023
0

Produknya ia beri nama Dosa, yang berasal dari bahasa Rote, yang artinya Cuka. “Tujuannya hanya untuk memperkenalkan saja kalau kami...

Proses produksi garam di CV. Raja Baru milik Ferdinand Latuharu (Dok. CV. Raja Baru)

Pabrik Garam Ferdinand Latuheru Kesulitan Bahan Baku

by Tim Redaksi
21 Mei 2023
0

“Sebelumnya itu bahan baku dari tahun lalu bisa bertahan sampai sekarang,” ujar laki-laki yang pernah mengikuti pendidikan di PT. Garam...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati