Dipicu Pandemi, Parlam dan Retna Hadirkan Jamu “Sari Bumi” di NTT

Parlam dan Retna, Pelaku UMKM Jamu di NTT (KatongNTT-Ruth)

Parlam dan Retna, Pelaku UMKM Jamu di NTT (KatongNTT-Ruth)

Kupang – Pebisnis UMKM Parlam dan Retna Wijaya tidak menyangka produk jamu produksinya diminati masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bisnis jamu ini lahir dipicu pandemi Covid-19. Segala pekerjaan dituntut dilakukan dari rumah. Parlam, yang adalah seorang distributor buku pelajaran, seketika pekerjaannya harus berhenti karena anak-anak sekolah mulai belajar dari rumah.

Ini membuat pendapatan keluarganya berkurang. Sedangkan ada dua anak, istri, dan dirinya yang punya kebutuhan untuk tetap hidup.

Baca Juga: Kreativitas Remaja NTT Herlin Rato, Hasilkan Tenun dan Aksesoris Unik

Melihat ini, Retna, istri Parlam memilih membuat UMKM jamu dengan merek Sari Bumi. Misalnya Kunyit Asam, Beras Kencur, Kunyit Asam Sirih, Kunyit Putih Asam, Jahe Asam, dan Sari Jahe.

“Awalnya hanya untuk konsumsi pribadi. Lalu bawa ke tempat pengajian, ibu-ibu pada suka,” cerita perempuan 42 tahun ini.

Mendapat respons positif dan terus dicari orang-orang, Retna kemudian memilih untuk memasarkannya. Per botol ia jual dengan harga Rp10 ribu.

Produk Olahan UMKM Sari Bumi, Minuman Herbal berbagai rasa buatan Retna (Dok. Retna)

Awal penjualan saat Covid, pasangan asal Solo, Jawa tengah ini bisa memproduksi sekitar 60-140 botol per hari. Sehingga sebulan bisa meraup untung hingga Rp20 juta. Hal ini karena minuman jamu cenderung dicari orang ketika pandemi.

Akan tetapi setelah angka Covid-19 menurun, penjualannya turun karena tingkat kebutuhan masyarakat pun menurun.

“Padahal, minum ini beberapa orang katakan bagus kalau dalam keadaan tidak fit. Misalnya lagi flu, juga melancarkan pencernaan,” ucap Parlam.

Kini, Retna dan Parlam memproduksi 40 botol per hari. Untuk sebulan penjualan bisa mencapai 1.200 botol.

Sekitar pukul sembilan malam, Retna mulai memproduksi minuman herbal ini. Satu setengah jam prosesnya. Namun harus menunggu lama sampai minuman benar-benar dingin baru kemudian dikemas.

Keesokkannya, Parlam kemudian mengantarnya ke para pelanggan. Ke warung-warung, ke penjual sayur keliling dan beberapa kali ke Dekranasda NTT.

Besar harapan keduanya untuk nanti mampu memasarkan produknya ke luar dan lebih luas jangkauannya.

“Saat ini kami terkendala di izin BPOM. Karena belum punya rumah produksi dan dana yang cukup, tapi kami sedang mengusahakannya,” ujar Parlam, pria 43 tahun itu.

Baca Juga: Elsye Lesik Olah Rumput Laut di NTT Jadi Cemilan Sehat

Ke depan, Retna berharap produk UMKM miliknya mampu berkembang dan berdaya saing dengan UMKM lainnya. Walau kini mulai banyak pesaing dengan produk yang sama, Retna tetap melakukan yang terbaik agar kualitas rasanya tidak berubah.

“Jamu kan identik dengan dari Jawa, nah sekarang NTT sudah punya jamu sendiri karena bahannya dari lokal semua ini,” pungkas Retna.*****

 

Silakan hubungi nomor +6281329926909 jika berminat untuk membeli produk UMKM ini. Ayo kita dukung kemajuan UMKM NTT!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *