Friets Mone Merawat Budaya Sabu Melalui Kamus

“Saya bikin kamus tidak ada niat untuk memperjual belikannya.Saya hanya betul-betul ingin memperkenalkan saja. Bahwa ada Bahasa di dunia ini yang mempengaruhi sedikit umat manusia di Sabu”

Friets Mone membaca kembali kamus Bahasa Sabu buatannya pada 2018 lalu (KatongNTT)

Friets Mone membaca kembali kamus Bahasa Sabu buatannya pada 2018 lalu (KatongNTT)

Kupang – Lahir dan tumbuh besar dalam budaya yang masih kental di Desa Mebba, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuat Friets Mone tumbuh dengan kecintaan yang lebih pada budayanya.

Berbicara dengan Bahasa daerah, menggunakan kain tenun, mengonsumsi kelapa sebagai pengganti beras, menjadi hal biasa yang ia temui semasa kecil.

Baginya, hal-hal ini membuat dirinya makin menjiwai budaya di daerah kelahirannya tersebut.

Hingga pada perubahan zaman yang cepat, menghantarnya pada satu situasi di mana dia menemukan adanya pergeseran budaya yang dulu akrab dengan kehidupannya di Sabu, kini mulai memudar.

Penggunaan Bahasa daerah misalnya, yang dia temui kini perlahan terkalahkan oleh bahasa asing.

Kenyataan yang nampak ialah orang-orang yang merantau, bahkan yang masih tinggal di Sabu pun, kini mulai meninggalkan sedikit demi sedikit bahasa ibu mereka.

“Ada keprihatinan di dalam batin bahwasannya sekarang generasi muda kita saat ini lambat laun mulai meninggalkan budaya ibu. Padahal budaya itu kan karakter kita,” ucap pria 49 tahun itu.

Berangkat dari keprihatinannya tersebut, pria bernama lengkap Friets Dominggus Bua Mone itu memilih untuk mengabadikan Bahasa Sabu dalam bentuk kamus.

Baca Juga: Tinggalkan Konsultan Teknik, Icha Djawas Fokus Berbisnis Aneka Sambal

Baginya, bahasa daerah sebagai salah satu budaya perlu dilestarikan agar tak hilang tergerus zaman.

Minimal dengan kata-kata yang digunakan sehari-hari, Friets mulai merangkum sedikit demi sedikit untuk dijadikan satu dalam kamus Bahasa Sabu. Kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, bahkan ke Bahasa Inggris.

“Sehingga suatu saat dalam pandangan saya Bahasa Sabu ini bisa dikenal bukan saja oleh orang Sabu, bukan juga hanya orang NTT, tetapi bisa dikenal masyarakat dunia,” katanya.

Di akhir 2018, buku bertajuk ‘Kamus Sederhana, Bahasa Sabu – Indonesia – Inggris’ selesai dibuat, dan pada 2019, Friets kemudian mencetaknya.

Oleh karena keterbatasan dana, ia hanya mencetak 50 eksemplar lalu membagi-bagikannya secara gratis ke para rekannya.

Hingga di tahun yang sama di 2019, kamusnya dilirik Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat sebagai satu hal baik yang diciptakan dan ditujukan untuk masyarakat NTT, terkhususnya masyarakat Sabu.

Kamus Bahasa Sabu – Indonesia – Inggris yang dibuat Friets dengan tujuan mengabadikan budaya bahasa daerahnya agar tak hilang tergerus zaman. (KatongNTT)

Untuk itu, kamusnya dicetak sebanyak 1000 eksemplar dan kemudian Gubernur membagikannya ke masyarakat Sabu secara gratis pada pembukaan Festival Kelabba Madja.

Selanjutnya, kamus buatannya itu hingga kini disimpan di Galeri Dekranasda NTT. Terpajang di etalase berkaca paling sudut bersama buku tentang Komodo. Sulit dijangkau mata dibanding produk kuliner lainnya. Di halaman paling depan, tertempel tulisan Rp25.000. Harga kamus tersebut.

Namun Friets mengaku tak berniat untuk mendagangkan hasil kerjanya tersebut.

Inginnya hanya satu, untuk menjaga budayanya tersebut dalam bentuk tulisan agar tak hilang seiring berkurangnya penutur, agar tetap ada sepanjang hayat kehidupan manusia.

“Saya bikin kamus tidak ada niat untuk memperjual belikannya. Saya tidak ambil fee-nya. Saya hanya betul-betul ingin memperkenalkan saja. Bahwa ada budaya, ada Bahasa di dalam dunia ini yang minimal mempengaruhi sedikit umat manusia yang ada di Sabu sana,” jelasnya.

Baca Juga: Dortia Mbura Di Usia Senja Kelola UMKM Setia Kawan

Walau tak berlatar pendidikan sejarah maupun budaya, namun pria lulusan dari jurusan kimia di Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogjakarta pada 1998 itu tak berkurang minatnya pada budaya di Indonesia, terkhususnya di NTT.

Walau sibuk menjadi Aparatur Sipil Negara di UPT Pendapatan daerah Kabupaten Kupang, Friets sudah menulis sebuah buku tentang kehidupan dan budaya orang Sabu.

Tujuannya agar para generasi bangsa tak lupa akan budayanya. Dengan adanya perbedaan zaman tentu menciptakan generasi yang berbeda pula.

Akan tetapi, semuanya terlahir dan hidup dari adanya budaya. Walau didapati beberapa budaya yang ‘sakit’ dengan semakin memiskinkan atau menyusahkan beberapa pihak.

Namun sejatinya ada budaya lain seperti Bahasa daerah ini yang seharusnya menjadi penciri dari diri seorang manusia.

Sehingga Friets mengharapkan, adanya kesadaran dalam diri para generasi muda untuk mau terus mengakui dan hidup dalam budaya leluhurnya. *****

 

Silakan hubungi nomor +628113821173 jika berminat untuk membeli produk UMKM ini. Ayo kita dukung kemajuan UMKM NTT!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *