Ganti Rugi Pencemaran Laut Timor, Rp 2 Triliun untuk Nelayan dan Petani Rumput Laut

Luhut mengatakan uang Rp 2 triliun itu di luar ganti rugi terhadap kerusakan lingkungan. Uang tersebut merupakan ganti rugi bagi nelayan dan petani rumput laut yang terdampak tumpahan minyak di Laut Timor.

Lokasi Anjungan Montara dan area pencemaran minyak di Laut Timor (istimewah)

Lokasi Anjungan Montara dan area pencemaran minyak di Laut Timor (istimewa)

Jakarta – Perusahaan minyak dan gas bumi (migas) Thailand, PTT Exploration and Production (PTTEP) setuju membayar ganti rugi pencemaran Rp 2 triliun (192,5 juta dolar Australia). Ini merupakan kompensasi atas tumpahan migas dari ladang Montara di Laut Timor yang merembes hingga ke perairan Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Atas putusan pengadilan, mereka akan membayar AUD 192,5 juta, atau US$129 juta,” kata Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marinves) Luhut Binsar Panjaitan, Kamis (24/11/2022).

Luhut mengatakan uang Rp 2 triliun itu di luar ganti rugi terhadap kerusakan lingkungan. Uang tersebut merupakan ganti rugi bagi nelayan dan petani rumput laut yang terdampak tumpahan minyak di Laut Timor.

Baca juga: Kemenko Marinves Besok Bahas Pencemaran Laut Timor dan Pulau Pasir, Ada Solusi?

Sebelumnya, seperti ditulis Energyvoice.com, manajemen PTTEP juga sudah sepakat untuk membayar ganti rugi atas insiden pada 21 Agustus 2009 lalu di perairan Australia. Ledakan ladang migas itu kemudian mencemari Laut Timor hingga pesisir pantai selatan wilayah NTT.

Operator kilang migas Montara adalah Jadestone Energy yang berbasis di Singapura setelah diakusisi dari PTTEP yang merupakan badan usaha milik negara (BUMN) pada tahun 2018.

Ketua Satgas Penanganan Kasus Tumpahan Minyak Montara Purbaya Yudhi Sadewa menyebut PTTEP hanya mau membayar kepada satu orang dengan nominal ratusan dolar. Namun PTTEP kalah di pengadilan hingga mau berunding dengan Indonesia.

Baca juga: Investasi Kabel Laut Australia-Singapura, Bisakah NTT Mengambil Peluang?

“Di sana PTTEP mau berunding dengan kita, itu enggak gampang juga. Kita ancam juga kalau pemerintah ikut campur, pasti bayarnya tiga kali lipat. Untungnya mereka takut sedikit,” jelasnya.

Saat ini tim satuan tugas di NTT sedang mengumpulkan feedback ke masyarakat atas hasil ini. Menurut Purbaya, kemungkinan masyarakat akan setuju dengan jumlah ganti rugi.

Dikatakan, tumpahan minyak dengan volume lebih dari 23 juta liter mengalir ke Laut Timor dan berdampak pada ratusan ribu nelayan dan pembudidaya rumput laut.

Rencananya, masing-masing nelayan yang terdampak akan memperoleh AUD 6 ribu-AUD 7 ribu. Jumlah ini setara dengan Rp 63 juta-Rp 73,5 juta. [K-02]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *