Gerakan ‘Akar Rumput’ di NTT Melawan Perubahan Iklim

di Nusa Tenggara Timur (NTT), beberapa Komunitas ‘akar rumput’ sudah memulai gerakan peduli lingkungan secera berkelanjutan.

Milenial Pecinta Malaka (MPM) melakukan gerakan menanam pohon melawan perubahan iklim (dok. MPM)

Milenial Pecinta Malaka (MPM) melakukan gerakan menanam pohon melawan perubahan iklim (dok. MPM)

Kupang – Perubahan iklim saat ini menjadi isu yang hangat dibicarakan. Mulai dari Pemerintah, organisasi masyarakat tingkat nasional hingga lokal turut menyuarakan isu tersebut.

Lembaga pemantauan iklim Uni Eropa melaporkan, rekor terpanas secara global terjadi dalam 7 tahun terakhir ini. Copernicus Climate Change Service (C3S) dalam laporannya menyebutkan tahun 2021 merupakan rekor terpanas kelima secara global, sedikit lebih panas dari tahun 2015 dan 2018.

Komitmen Indonesia menghadapi perubahan iklim ini diwujudkan melalui Undang-undang nomor 16 tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to The United Nations Framework Convention on Climate Change (Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Perubahan Iklim).

Manfaat pengesahan Persetujuan Paris bagi Indonesia, salah satunya adalah peningkatan perlindungan wilayah Indonesia yang rentan terhadap perubahan iklim melalui mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Dengan disahkannya Persetujuan Paris akan meningkatkan pengakuan terhadap komitmen nasional Indonesia dalam upaya menurunkan emisi dari berbagai sektor, pelestarian hutan, peningkatan energi terbarukan serta peran masyarakat lokal dan masyarakat adat dalam isu global ini.

Pelibatan masyarakat diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Program Kampung Iklim (Proklim). Mengutip laporan ANTARA, Indonesia menargetkan 20.000 Proklim hingga 2024. Program ini dimulai tahun 2021 dengan menargetkan 3.270 Proklim, dilanjutkan pada 2022 sebanyak 5.000, pada 2023 meningkat menjadi 6.000 dan pada 2024 sebanyak 5.730 Proklim.

Selain melalui Program Kampung Iklim, di Nusa Tenggara Timur (NTT), beberapa Komunitas ‘akar rumput’ sudah memulai gerakan peduli lingkungan ini secera berkelanjutan. Dari perbatasan Indonesia dan Timor Leste, Komunitas Pecinta Malaka (MPM) gencar menaman pohon sejak Desember 2021. Sudah 8 kali mereka melakukan penanaman dengan jumlah anakan mencapai 4.000 lebih pohon.

Roy Tey Seran dari MPM mengatakan, aksi menaman pohon terutama di daerah aliran sungai (DAS) dimulai setelah badai Seroja menerjang NTT April tahun lalu. Badai Seroja memakan korban jiwa dan harta benda masyarakat.

Dampak perubahan iklim turut menjadi penggerak warga untuk memulai aksi peduli lingkungan itu.

“Berkontribusi bagi dunia ditengah ancaman global warming, krisis lingkungan, bencana alam dan menambah oksigen dunia dari Malaka,” ujar Roy.

Gerakan serupa dilakukan oleh Tazkia Aarian Project di Kota Kupang. Komunitas yang bergerak dibidang sosial dan pendidikan yang terbentuk pada April 2021 lalu ini melakukan aksi menanam pohon dan membersihkan sampah di pantai.

Nur Narang mengatakan, aksi tersebut melibatkan anak-anak yang belajar di komunitas tersebut.  Aksi tersebut juga melibatkan orang tua dari anak-anak tersebut.

“Jadi selain pengetahuan yang mereka dapatkan dari les gratis yang kita adakan dua kali seminggu, mereka juga bisa peka terhadap lingkungan sekitar,” kata Nur.

Tidak berhenti pada menanam, Nur mengatakan, mereka juga melakukan perawatan terhadap pohon-pohon yang sudah ditanam. Hal serupa dilakukan oleh Komunitas Pecinta Malaka. Menurut Roy, mereka selalu mengecek anakan yang sudah ditanam pada aksi-aksi berikutnya.

Roy menjelaskan, partisipasi masyarakat untuk ikut serta dalam aksi peduli lingkungan semakin meningkat. Sekitar 20 lebih orang terlibat dalam aksi pertama dan terus bertambah hingga aksi terakhir lebih dari 100 orang berpartisipasi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutan (DLHK) NTT, Ondy Christian Siagian mengatakan, NTT memiliki kawasan hutan seluas 1.742.399 Ha. Kawasan ini terbagi dalam 3 fungsi hutan konservasi seluas 521.412 Ha, hutan lindung seluas 684.572 Ha dan hutan produksi seluas 536.415 Ha.

“Pemerintah menetapkan satu kawasan menjadi hutan, itu sebetulnya menjaga kehidupan bagi masyarakat banyak,” kata Ondy.

Ondy mengatakan, hutan yang dijaga dengan baik akan memberikan dampak bagi perubahan iklim. Menurutnya, perubahan iklim yang terjadi karena fungsi kawasan hutan yang mulai kritis.

Kawasan hutan yang kritis, kata Ondy, dilakukan rehabilitasi melalui kolaborasi antara Kementerian LHK, Dinas LHK bersama Pemerintah daerah dan Komunitas-komunitas.

Lahan kritis di kawasan hutan, menurut Ondy, bisa disebakan oleh bencana alam dan ada juga yang disebabkan oleh oknum-oknum tertentu. Saat badai Seroja pada April 2021 lalu, sejumlah kawasan hutan terkena dampak seperti di wilayah pulau Timor, Rote, Sabu, sebagian Flores dan Sumba Timur.

 Ondy mengatakn, untuk menghadapi perubahan iklim, perlu kesadaran dan kolborasi antara pemerintah di tingkat Kabupaten dan Kota bersama dengan Pemerintah Provinsi. Kolaborasi ini bisa diwujudkan bersama melalui program kerja yang berdampak pada upaya menghadapi perubahan iklim.

Yurgen Nubatonis dari Koalisi KOPI, program Suara Orang Muda untuk Aksi Iklim wilayah NTT mengatakan, pemerintah harus membuat kebijakan ataupun perencanaan pembangunan yang berpihak pada mereka yang terkena dampak dari perubahan iklim. Yurgen mengatakan, kebijakan itu terutama harus berpihak pada para petani dan nelayan.

Roy mengatakan, keterlibatan masyarakat dalam aksi menghadapi perubahan iklim sangat penting. Mereka selalu berupaya melibatkan masyarakat yang berada di daerah aliran sungai untuk berpartisipasi terutama dalam merawat pohon yang sudah ditanam.

“Targetnya (menanam pohon) di daerah aliran suangai Benenai di Malaka, Belu dan TTU,” kata Roy.

Nur mengatakan, melalui aksi-aksi peduli lingkungan yang dilakukan, masyarakat semakin sadar untuk menjaga lingkungan. (K-04)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *