Investasi Kabel Laut Australia-Singapura, Bisakah NTT Mengambil Peluang?

Ilustrasi kabel Laut Timor (Ist)

Ilustrasi kabel bawah laut Australia-Singapura (Ist)

Jakarta – Kabel bawah laut dari Australia ke Singapura yang akan melalui Indonesia dinilai memiliki sejumlah peluang menarik.  Namun, investasi yang melintasi perairan Laut Timor itu belum menunjukkan tanda-tanda yang menguntungkan bagi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ferdi Tanoni selaku pemerhati Laut Timor mengatakan kegiatan investasi tersebut seharusnya memberikan peluang bagi NTT dan Indonesia secara umum.

“Investasi lintas negara itu perlu didukung, tapi jangan sampai kita hanya jadi penonton. Untuk apa investasi triliuan kalau kemudian tidak bermanfaat untuk masyarakat,” ujar Ferdi kepada KatongNTT.com, Sabtu (5/3/2022).

Baca : Singkong di Australia Lebih Mahal dari Keju, Potensi untuk NTT

Seperti diketahui, pemerintah Indonesia pada September lalu memastikan adanya investasi Australia di Indonesia senilai US$ 2,58 miliar (sekitar Rp 34 triliun). Investasi tersebut berupa proyek infrastruktur energi terbarukan melalui Australia-Asia PowerLink (AA PowerLink).

Baca : Menjelang G20, Sampah Jadi Tema yang Terus Dibahas di Labuan Bajo

Adapun, investasi itu meliputi instalasi kabel listrik bawah laut yang melintas dari Australia ke Singapura melalui Indonesia. Investasi ini terdiri dari investasi langsung senilai US$ 530 juta hingga US$ 1 miliar selama instalasi proyek ditambah dengan investasi sebesar US$ 1,58 miliar untuk biaya operasional selama jangka waktu proyek.

Pihak yang akan mengerjakan proyek tersebut sudah melakukan audiensi dengan Gubernur NTT Viktor Laiskodat pada Jumat (10/9/2021).

“Proyek ini kami akan dukung karena saya tahu ini terbaik untuk dunia. Jelas harus ada manfaatnya,” kata Viktor dalam pertemuan dengan investor.

Menurut rencana, proyek bentang kabel Australia-Singapura akan melintasi perairan laut NTT, tepatnya di bagian timur hingga barat Pulau Sumba serta sisi selatan Pulau Sabu Raijua.

Baca : Visa Pertanian Australia Jadi Peluang Generasi Muda Sumba

Kegiatan investasi ini sebagai tindak lanjut kerja sama Pemerintah Pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi serta Kementerian Kelautan dan Perikanan. “Semoga proyek ini dapat bermanfaat bagi warga NTT,” ujar Viktor.

Ferdi secara khusus menegaskan dirinya sanksi jika Indonesia, khususnya NTT, mendapatkan keuntungan dari proyek tersebut. Hal itu semakin menguatkan dirinya bahwa potensi Laut Timor sejauh ini belum dioptimalkan untuk masyarakat NTT. Sebaliknya, perairan yang sangat luas itu malah banyak dieskploitasi oleh dunia internasional, khususnya Australia.

“Jadi pemerintah dan masyarakat NTT tidak perlu bangga karena tidak ada manfaatnya buat kita. Proyek yang dicetuskan pemerintah pusat itu hanyalah menjadi NTT sebagai obyek untuk dilalui,” ujar penulis buku Skandal Laut Timor ini. Dia justru melihat Australia seharusnya menyelesaikan terlebih dahulu berbagai persoalan di Laut Timor seperti pencemaran Montara dan jalur penyelundupan manusia. “Jangan sampai Tragedi Montara 2009 lalu seakan-akan sudah selesai. Selain Thailand, Australia juga ikut bertanggung jawab,” tegasnya. [HS/KN]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *