Kisah Orangtua Cari 7 ABK Hilang di Mauritius dan Urus Akte Kematian

2 dari 7 ABK Hilang Sudah 11 Bulan di Laut Mauritus Afrika Dipicu Perkelahian dengan ABK Vietnam pada 26 Februari 2021. (KatongNTT)

2 dari 7 ABK Hilang Sudah 11 Bulan di Laut Mauritus Afrika Dipicu Perkelahian dengan ABK Vietnam pada 26 Februari 2021. (KatongNTT)

Brigita Telik, 54 tahun, ibu dari Klaudius Ukan, satu dari 7 ABK hilang di laut Mauritius, Afrika tidak bisa melupakan percakapan terakhir dengan anaknya.

Brigita terjaga dari tidurnya pada jam 1 dini hari 27 Februari 2021. Segera dia bangun dan bergegas menelepon Klaudius. Namun telepon selulernya tidak aktif.

Dia gelisah. Pagi hari, dia segera menghubungi teman anaknya sesama ABK asal Indonesia.

“Dijawab ‘Klaudius main di kapal temannya’,” kata Brigita mengutip pernyataan ABK itu saat diwawancara KatongNTT melalui telepon seluler, 13 Januari 2022.

Brigita bertanya-tanya pada saat anaknya menghubungi dirinya melalui video call sekitar jam 9 malam pada 26 Februari 2021, Klaudius tidak bercerita akan main ke kapal lain.

Menurut Brigita, pembicaraan mereka berdua penuh dengan canda. Dia sempat meminta Klaudius membawa oleh-oleh jika kembali pulang ke rumah mereka di Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Aduh mama, ini masih Corona,” ujar Brigita meniru ucapan anak nomor dua dari 4 bersaudara itu.

Pembicaraan video call selama 1 jam berakhir atas permintaan Brigita yang sudah sangat mengantuk dan ingin segera tidur. Saat itu, di Mauritius waktu menunjukkan jam 5 sore.

Tak diduga ini menjadi pembicaraan terakhir Brigita dengan anaknya yang kemudian hilang hingga saat ini.

Brigita Telik, 54 tahun, ibu Klaudius Ukan, satu dari 7 ABK hilang di laut Mauritius, Afrika Selatan, 26 Februari 2021. (KatongNTT)

Apakah saat terbangun dini hari itu firasat sebagai seorang ibu terhadap anaknya yang sedang bertarung demi menyelamatkan nyawanya?

Belakangan Brigita mendapat kabar bahwa Klaudius bermain ke kapal Wei Faa untuk mengadakan pesta perpisahan untuk ABK bernama Petrus Crisologgus Tunabebani.

Klaudius dan Petrus berbeda kapal dan perusahaan perekrut ABK Indonesia. Kedekatan mereka karena keduanya berasal dari provinsi NTT. Rumah mereka pun berdekatan di Kabupaten Belu.

“Rumah saya di Atopupu, Kecamatan Kakuluk Mesak, Desa Jenilu, Kampung Abad,” ujar Brigita.

Petrus bekerja untuk kapal Wei Faa berbendera Taiwan. Kapal itu sedang sandar di pelabuhan di Mauritius, Afrika pada 26 Februari 2021 setelah sekitar 4 bulan berlayar mencari ikan.

Petrus malam itu mengundang teman-temannya sesama ABK asal Indonesia untuk pesta perpisahan. Petrus akan pulang ke Tanah Air karena kontrak kerjanya sudah berakhir.

Klaudius akan mengantar Petrus ke bandara untuk terbang pulang ke Belu pada 28 Februari 2021.

Hingga 3 Maret, Brigita tak kunjung berhasil menghubungi anaknya. Barulah pada keesokan hari dia mendapat informasi dari seorang yang bukan perusahaan perekrut anaknya bahwa Klaudius mengikuti pesta dan minum-minum hingga terjadi perkelahian dengan ABK Vietnam, mandor, dan kapten kapal.

“Kapal yang sandar dilepas dan dibawa ke tengah laut malam itu,” kata Brigita mengutip penjelasan orang yang menghubunginya.

Sejak itu, dia terus berusaha mencari tahu keberadaan anaknya yang sudah 3 tahun bekerja sebagai ABK.

Dia mengenang Klaudius yang pintar berenang dan sosok yang ramah.

“Saat sandar di Amerika, dia pernah cerita ke saya dia menyelam ke dalam laut. Dulu dia pernah berenang dari Bolok ke Tenau sambil menghisap rokoknya,” ujar Brigita menangis.

Oktober 2021, dia terpaksa menandatangani surat asuransi atas hilangnya Klaudius.

Menurut Brigita dia terpaksa menerima uang pembayaran klaim asuransi anaknya sebesar Rp 250 juta. Itu karena mendapat desakan dari perusahaan perekrut anaknya.

“Orang yang membantu kami sebut kalau tidak teken ini ada batas waktu, ini itu.Saya sempat bersitegang dengan orang KBRI: ‘Bagaimana ini anak belum bertemu. Pemerintah katakan adakan pencarian. Jadi kami tanda tangan,” tutur Brigita.

“Uang itu tidak bisa membeli nyawa anak kami. Kami tidak tanya uang, kami tanya anak kami. Ibu yang bicara uang,” ujar Brigita menjelaskan pembicaraannya dengan seorang karyawan yang mengurus pembayaran klaim asuransi.

Sebenarnya, kata Brigita, dia tidak mau menerima uang asuransi dan dana duka. Begitu juga orang tua Petrus menolaknya. Namun mereka berdua mendapat informasi 5 keluarga ABK lainnya sudah menerima dana asuransi itu, sehingga mereka terpaksa menandatangani surat asuransi.

“Kami dibilang mempersulit jika tidak tandatangan. Dan dikatakan asuransi ada batas waktu,” ujarnya.

Menurut Brigita, perusahaan yang merekrut anaknya kemudian memintanya mengurus akte kematian ke Dinas Kependudukan Kabupaten Belu.

“Terpaksa kami buat akte kematian,” ujarnya sambil terisak menangis.

Ayah Petrus, satu dari 7 ABK hilang di laut Mauritius menjelaskan, PT Lumbung Artha Segara mendesaknya untuk menandatangani surat asuransi anaknya. Enam keluarga 7 ABK hilang disebut sudah menandatangani surat itu.

“Terpaksa saya tandatangan. Setelah tandatangan belum kirim, saya tahan 2-3 hari karena saya menuntut anak saya jelas dulu,” kata Gabriel kepada KatongNTT.

Pada 26 Februari 2021, tutur Gabriel, Petrus tampak gembira saat keduanya bervideo call karena masa kontrak kerjanya sudah berakhir. Dua hari lagi dia tiba di kampungnya.

“Dia bilang pulang ini mau berkeluarga sudah,” kata Gabriel mengenang ucapan anak keduanya itu.

Gabriel kemudian menuliskan kronologi 7 ABK hilang sudah 11 bulan termasuk anaknya Petrus. Mereka hilang di perairan Mauritius, Afrika Selatan.

“Pada tanggal 26 Februari 2021 telah terjadi percekcokan antara para ABK Vietnam, mandor dan kapten kapal vs 7 ABK WNI di atas kapal Wei Faa yang sedang bersandar di pelabuhan Port Louis Mauritius Afrika, yang menyebabkan anak saya (Petrus Crisologus Tunabenani) terkena bacokan di wajahnya.

Kami keluarga baru memperoleh kabar tersebut pada tanggal 3 Maret 2021 dari teman-teman ABK kapal lain, yang menyatakan bahwa anak saya dan ke 6 ABK lainnya telah hilang kontak.

Dari informasi yang diperoleh menyatakan bahwa awalnya kapal tersebut sedang bersandar kemudian tiba-tiba dibawa lagi ke tengah laut dalam keadaan sedang terjadi percekcokan antara para ABK, mandor, dan kapten kapal.

Setelah kapal tersebut dibawa lagi ke tengah laut beberapa saat kemudian anak saya sempat mengirim fotonya kepada teman-temannya yang menyatakan bahwa dia terkena bacokan dari mandor.

Setelah itu teman-temannya masih sempat untuk melakukan kontak via telp ataupun medsos dengannya namun beberapa saat kemudian sudah hilang kontak dan teman-temannya mulai panik.

Beberapa teman di antaranya mulai mencari informasi kontak keluarga yang bisa dihubungi untuk menyampaikan informasi tersebut.

Setelah tidak ada kabar selama 2 hari setelah kejadian salah satu temannya pergi membuat laporan kepada Polisi dan Kedubes RI. Setelah Polisi menerima laporan mereka langsung bergerak untuk melakukan pencarian.

Namun setibanya di tengah laut mereka hanya menemukan kapal yang berisi para ABK Vietnam, mandor dan kapten kapal.

Sedangkan ke 7 ABK WNI beserta barang bawaannya (tas/hp) sudah tidak ditemukan lagi.

Ke 7 ABK hilang tersebut terdiri atas : Dadan, Galih Candra Kusuma, Rudi Herdiyana, Muhammad Jafar, Petrus Crisologus Tunabenani, Anton Pradana dan Klaudius Ukat.

Berdasarkan kronologis kasus tersebut kami keluarga korban melalui surat ini menaruh harapan penuh kepada pemerintah, semoga Bapak/Ibu berkenan membantu memperhatikan dan menyikapi kasus ini.

Kasus ke 7 ABK WNI ini secara resmi dinyatakan hilang pada tanggal 26 februari 2021 oleh Kepolisian Mauritius dengan Nomor Surat : OB.434/2021 dan 451/2021 Port Missing 24 Agustus 2021.

Note : Petrus Crisologus Tunabenani, Muhammad Jafar dan Rudi Herdiyana (PT LUMBUNG ARTHA SEGARA). (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *