Kisah Pergulatan Hidup Maria Mbaddarudin, Nelayan Pesisir Kota Kupang

Maria Mbaddarudin (pakai topi), nelayan pesisir Kota Kupang saat ditemui KatongNTT, Kamis, 7 April 2022. (KatongNTT.com)

Maria Mbaddarudin (pakai topi), nelayan pesisir Kota Kupang saat ditemui KatongNTT, Kamis, 7 April 2022. (KatongNTT.com)

Kupang – Garis-garis di wajah itu menggambarkan usia Maria Mbaddarudin, seorang nelayan yang sudah tidak muda lagi. Begitupun tatapannya masih tajam. Dia adalah sosok wanita tangguh harapan keluarga.

Usia Maria 58 tahun. Semangatnya berbanding terbalik dengan usianya. Suaranya begitu menggelegar dalam satu ruang di hotel Kristal Kupang, Kamis, 7 April 2022. Maria adalah salah satu dari sekitar 20 nelayan yang ikut dalam kegiatan yang digelar Yayasan Pikul untuk membahas masa depan pesisir Kota Kupang.

Ibu sembilan anak itu setiap hari bekerja sebagai nelayan. Tubuhnya kekar bak atlit. Rambutnya dipotong sebahu. Topi hitamnya tetap melekat di kepalanya selama kegiatan. Itu ciri khasnya, menurut sesama rekan nelayan di acara itu.

Maria Mbaddarudin adalah gambaran sosok seorang ibu tangguh yang menjadi tulang punggung keluarga. Suaminya berpulang pada awal 2022 . Maria menjadi orang tua tunggal yang berjuang menafkahi dan membiayai anak-anaknya menuntut ilmu.

Sosok tangguh ditempa sejak berpuluh tahun lalu. Kehidupan di laut dirasakannya sejak berusia 8 tahun. Saat itu, gadis kecil Maria ikut bersama orang tuanya yang bekerja sebagai nelayan. Aktivitas itu terus Ia lakukan sampai menikah dan mempunyai anak.

Laut baginya adalah rumah yang menyediakan masa depan dan kehidupan. Dari laut, Maria mengais rezeki menghidupi keluarganya.

Awalnya Maria melaut menggunakan sampan kecil. Ia kemudian berpindah menggunakan perahu besar. Warga Kelurahan Airmata itu menggunakan jaring sebagai alat tangkap. Selain memakai jaring, Maria sering juga memakai alat pancing.

“Kita jual sendiri, jadi kadang dapat dua ratus ribu kadang tiga ratus ribu,” kata Maria.

Uang yang didapatnya harus disisihkan untuk biaya makan minum, biaya sekolah juga bahan bakar untuk kembali melaut. Penghasilannya tidak cukup untuk menabung.

Keberanian menjadi modal sebelum menetapkan pilihan menjadi pelaut. Nelayan tidak pernah terpisahkan dengan gelombang laut. Resiko yang harus dihadapi sangat besar. Nyawa menjadi taruhan.

“Kalau tidak melaut anak-anak mau makan dari mana, bayar uang sekolah pakai apa,” ujarnya.

Selama musim barat, Maria terkadang harus beristirahat melaut. Keselamatan menjadi prioritas utamanya. Namun, Ia juga harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saat tidak melaut.

Ide membuka usaha kecil-kecilan terbesit dalam pikirannya. Dari uang hasil tangkapannya, Ia menyisihkan sedikit untuk modal usaha. Hasilnya, sebuah mesin mol kelapa bisa dia beli untuk berusaha di saat musim barat.

Bagi Maria, pendidikan anak-anak harus diutamakan. Sembilan anaknya dibiaya bersekolah hingga tamat SMA dan kini bekerja membantunya.

“Prinsip saya anak harus lebih pintar dari saya dan tidak boleh minta-minta seperti pengemis. Itu prinsip hidup saya,” kata Maria tegas.

Meski dihadapkan pada resiko tinggi yang mengancam keselamatannya, Maria tidak mau menyerah. Maria seperti nelayan lain menantang maut demi menghidupi keluarga. Suatu waktu pada 2006 silam, Maria mengalami musibah saat melaut. Ia terdampar di laut selama 7 hari.

“Itu badai besar. Dari Pulau Kera terdampar sampai Pulau Sumba,” kisahnya.

Peristiwa itu meninggalkan trauma bagi Maria. Akibat trauma dan desakan dari anak-anak, Maria berhenti melaut selama 6 tahun.

Atas tawaran saudaranya, pada tahun 2012 Maria memperbaiki perahu milik saudaranya dan kembali melaut. Ia kerap bersama anaknya. Bila anaknya berhalangan, Maria akan melaut seorang diri.

Kini Maria Mbaddarudin dan nelayan lainnya dihadapkan pada persoalan baru. Hasil tangkapan mereka tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Maria menuturkan, hasil tangkapan menurun drastis.

“Dulu kita pakai jaring 1 jam saja kita sudah dapat sampai dua ratus ribu. Sekarang masuk sejauh apapun tetap tidak sama seperti dulu,” kata Maria.

Badai Seroja dinilai sebagai salah satu penyebabnya. Dan kini Maria harus lebih waspada lagi saat melaut karena cuaca yang berubah-ubah. Alam sepertinya sedang tidak bersahabat dengan manusia. (Joe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *