• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Kamis, April 16, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Pekerja Migran & Perdagangan Orang

Kisah Warga Adonara Lolos dari Jeratan Perdagangan Orang di Medan

Katarina nekad terlebih dahulu mencari nomor pengaduan polisi. Polisi merespons panggilan itu dengan meminta alamat kediamannya saat itu. Dia juga menelepon anggota keluarganya untuk membantu menyelamatkan dirinya.

Tim Redaksi by Tim Redaksi
4 tahun ago
in Pekerja Migran & Perdagangan Orang
Reading Time: 6 mins read
A A
0
Katarina Kewa Tupen, 21 tahun, korban jeratan perdagangan manusia di Medan. (Istmewa)

Katarina Kewa Tupen, 21 tahun, korban jeratan perdagangan manusia di Medan. (Istmewa)

0
SHARES
8.9k
VIEWS

Kupang– Katarina Kewa Tupen, 21 tahun, asal Adonara Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur lolos dari jeratan perdagangan orang ke luar negeri. Katarina dengan keberanian dan kecerdasannya telah membongkar kejahatan yang dialaminya setiba di Medan, Provinsi Sumatera Utara.

Katarina menuturkan kepada KatongNTT.com, Rabu, 30 Maret 2022 bahwa kejahatan yang dialaminya berawal dari perkenalan dengan seorang perempuan di Facebook. Perkenalan singkat pada pertengahan Maret itu diawali postingan akun FB bernama EvLvn mencari tenaga kerja untuk merawat lansia di Medan.

BacaJuga

Rumput laut milik nelayan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang rusak disebabkan limbah batubara PLTU Timor-1. (Dok. Oktaf Saketu)

PLN Klaim Usut Dugaan Batubara PLTU Timor-1 Cemari Laut Timor

8 Januari 2026
Penjara Kluang, Johor, Malaysia tempat PMI NTT tak berdokumen menjalani hukuman sebelum dideportasi pulang. (icrc.uthm.edu)

PMI NTT Ungkap Penjara dan Detensi Imigrasi Malaysia Tidak Manusiawi

27 Desember 2025

Baca juga: Kekejaman Berulang Dialami PMI NTT, Naomi: Saya Tidak Digaji 9 Tahun

“Saya baca postingan butuh tenaga kerja untuk jaga lansia, ditempatkan di kota Medan. Kemudian dia inbox. Saya jelaskan saya dari Adonara. Dia jawab ‘opa saya dari Adonara.’ Jadi saya merasa dekat,” kata Katarina.

“Saya terima tawarannya karena keluarga juga di Adonara,” ujarnya.

Setelah percakapan via chat di inbox FB, Katarina memberikan nomor telepon genggamnya kepada perempuan bernama Evelin (di akun FB tertulis EvLvn-red). Itu terjadi pada 18 Maret 2022.

Evelin pun menghubungi seorang pria yang disapa “bos” untuk berbicara dengan Katarina. Menurutnya, nama pria itu Ahmad Yani. “Nanti jaga lansia,” kata Katarina mengutip ucapan pria itu via telepon genggam.

Baca juga: Cerita Calon PMI NTT, 2 Hari 1 Malam Tanpa Makan di Hutan

Evelin yang tinggal di wilayah Manulai 2, Kota Kupang mengatur semua persiapan keberangkatan Katarina. Dalam tempo 3 hari, Katarina sudah menerima tiket pesawat untuk diberangkatkan ke Medan. Tiket itu dengan rute Larantuka – Kupang- Surabaya – Jakarta – Medan.

“Sebelum berangkat, saya ditelepon bos yang akan mempekerjakan saya,” tutur Katarina.

Setiba di Medan, Katarina dijemput bos yang membawanya ke satu restoran. Katarina mengira mereka beristirahat, ternyata pria itu memberitahu bahwa dia akan menjalani training satu bulan di restoran itu. Dia mulai curiga.

Baca juga: Kisah Elisabet Ninef Lepas dari Jeratan Jejaring Perdagangan Orang NTT ke Malaysia

Keesokan hari dia diminta menandatangani kontrak kerja di kantor perekrutan tenaga kerja atas perintah pria itu. Pria itu juga yang membuat surat izin dari orang tua Katarina.

Ahmad Yani, pria yang disebut Katarina Kewa Tupen, 21 tahun, akan mengirimnya ke Singapura, padahal sebelumnya dia dijanjikan bekerja sebagai perawat jompo di Medan, Provinsi Sumatera Utara

Setelah selesai membereskan administrasi, pria itu berujar enteng: “Nanti nona saya kirim ke Singapura.”

Katarina langsung menyatakan penolakannya karena dia dijanjikan bekerja merawat lansia di Medan. Saat itu Katarina teringat telepon genggamnya sudah dua hari ditahan oleh pria itu. Dia ingin segera menghubungi keluarganya.

Baca juga: Perusahaan Sawit di Kalbar Siksa Pekerja, 18 Korban dari NTT

Dia kemudian mengaku sakit dan meminta telepon genggamnya untuk menghubungi orang tua. Pria itu kemudian mengizinkan Katarina menggunakan telepon genggamnya.

Katarina nekad terlebih dahulu mencari nomor pengaduan polisi. Polisi merespons panggilan itu dengan meminta alamat kediamannya saat itu. Dia juga menelepon anggota keluarganya untuk membantu menyelamatkan dirinya.

Pria itu marah besar mengetahui Katarina menelepon polisi. Dia memukul kaki Katarina dan menyekapnya di dalam satu ruangan dengan hanya diberi makan sekali dalam sehari.

“Saya ketahuan hubungi polisi. Kaki saya bekas kecelakaan dipukul pakai kayu,” ujar Katarina.

Empat hari setelah itu polisi menemukan lokasi karena alamat yang diberikan Katarina dianggap kurang jelas. Namun, menurut dia, polisi kurang merespons penjelasan dirinya. “Polisi lebih respons penjelasan dari bos,” ujar dia kecewa.

Baca juga: 134 PMI NTT Pulang Tak Bernyawa, Terbanyak Sejak 5 Tahun Terakhir

Di hadapan polisi, Katarina meminta pulang dan menghubungi keluarganya untuk meminta bantuan. Namun pria itu meminta keluarga Katarina membayar semua biaya termasuk tiket pesawat. Totalnya Rp 11 juta dan kemudian dikurangi menjadi Rp 7 juta.

Lusi Tampubolon, pengacara di Medan menerima kabar dari Pastor Beno Ola Tage dari Keuskupan Agung Medan pada Selasa, 29 Maret 2022 sekitar jam 1 siang. Pastor mengabarkan tentang situasi yang dialami Katarina.

“Ini ada anak yang tadinya mau dipekerjakan untuk merawat jompo ternyata dipekerjakan di resto di hari pertama tiba di Medan. Sehari di resto langsung dikembalikan ke PT (PT Mitra Asia Sehati-red), urus paspor Katarina untuk ke Singapura,” kata Lusi mengutip penjelasan Pastor Beno saat dihubungi KatongNTT.com, Rabu malam, 30 Maret 2022.

Katarina tegas menolak dipekerjakan ke luar negeri.

Polisi Menahan Sang Bos
Lusi bergerak cepat setelah menerima informasi dari Pastor Beno, asal Mbay, NTT. Dia menghubungi Kepolisian Kota Medan dan unsur terkait lainnya untuk penggrebekan.

Lusi juga menghubungi paguyuban keluarga asal NTT di kota Medan untuk membantu pencarian orangtua dan keluarga Katarina.

Baca juga: Duka Bertubi PMI NTT, Ibu Meninggal di Malaysia, Anak Bunuh Diri

Perusahaan perekrut Katarina, PT Mitra Asia Sehati ditemukan beralamat di Jalan Bersama Ujung, Kecamatan Tembung, Kota Medan. Belakangan diketahui perusahaan ini ilegal.

“Perusahaannya ilegal setelah kami bersama polisi, ketua lingkungan, babinsa, mendatangi kantor itu atas bantuan penjelasan dari Katarina,” kata Lusi Tampubolon, tim penggiat kemanusiaan di Medan.

Akun Facebook perempuan menyebut namanya Evelin kepada Katarina Kewa Tupen saat berkenalan di media sosial itu pertengahan Maret 2022.

 

Sebelum penggrebekan, Lusi menghubungi Katarina via pesan SMS. Dia diminta menghapus semua nomor kontak yang masuk maupun keluar termasuk pesan SMS demi keselamatan dirinya. Katarina diminta hanya mengingat nomor telepon Lusi untuk memudahkan komunikasi mereka.

Baca juga: Fantastis, Jumlah Remitansi Pekerja Migran NTT Lebih dari Rp 1 Triliun!

Pada Selasa malam, 29 Maret 2022 penggrebekan dilakukan. Di kantor PT Mitra Asia Sehati ada tiga pria yang berjaga. Namun Ahmad Yani, bos mereka, tidak ada. Polisi meminta mereka untuk segera menelepon sang bos dan datang segera ke kantor.

Beberapa saat kemudian, tutur Lusi, Ahmad Yani bersama istri dan seorang pria keturunan India memasuki kantor. Dia kemudian digelandang ke kantor Polisi Sei Tuan untuk menjalani pemeriksaan.

Pria tersebut, ujar Lusi, tidak hanya mempersiapkan keberangkatan Katarina ke Medan. Tapi dia bahkan ikut menjemputnya ke Jakarta dan bersama-sama ke Medan.

Polisi telah menahan sang bos Ahmad Yani. Tuntutan pria ini agar keluarga Katarina membayar Rp 11 juta tidak dipenuhi.

Baca juga: Remitansi PMI NTT via Kantor Pos Capai Rp 107 Miliar Tahun 2022

Sementara Evelin, menurut Katarina ditahan di Polda NTT. Informasi itu dia terima setelah Evelin kemarin pagi menelepon dirinya dari Polda NTT.

“Saya tidak ada urusan lagi dengan anda. Urusan dengan kantor polisi,” tegas Katarina.

Lusi memuji kecerdasan Katarina dalam melawan kejahatan perdagangan orang ini. “Dia bijak. Dia cari call centre polisi. Polisi datang ke tempat dia,” ujarnya.

Menurut Lusi, dari sejumlah informasi yang diterimanya, praktek penipuan tenaga kerja ke luar negeri ini cukup menggiurkan karena dari setiap satu orang yang direkrut, mereka mendapat komisi sekitar Rp 10 juta. Uang ini yang telah membutakan hati nurani mereka. (Rita Hasugian)

Tags: #Adonara#KatarinaKewaTupen#KotaMedan#Perdaganganorang#PTMitraAsiaSehati#Singapura
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Rumput laut milik nelayan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang rusak disebabkan limbah batubara PLTU Timor-1. (Dok. Oktaf Saketu)

PLN Klaim Usut Dugaan Batubara PLTU Timor-1 Cemari Laut Timor

by Rita Hasugian
8 Januari 2026
0

Kupang – PT PLN sedang menelusuri dan memvalidasi informasi dari nelayan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang bahwa aktivitas bongkar muat batubara...

Penjara Kluang, Johor, Malaysia tempat PMI NTT tak berdokumen menjalani hukuman sebelum dideportasi pulang. (icrc.uthm.edu)

PMI NTT Ungkap Penjara dan Detensi Imigrasi Malaysia Tidak Manusiawi

by Rita Hasugian
27 Desember 2025
0

Kupang – Marselinus Seke menahan rasa sakit pada kedua kakinya yang bengkak setiap kali melangkah. Kulit kakinya melepuh,  mengeluarkan cairan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati