Koperasi Kredit di NTT Kini Beranggotakan 1 Juta Orang dengan Aset Rp 8 Triliun

Suasana forum diskusi anggota Koperasi Kredit dan pengurus yang diselenggarakan sebagai rangkaian acara RAT 2021 Inkopdit di kota Kupang, Provinsi NTT, 25 Juli 2022. (Rita-KatongNTT.com)

Suasana forum diskusi anggota Koperasi Kredit dan pengurus yang diselenggarakan sebagai rangkaian acara RAT 2021 Inkopdit di kota Kupang, Provinsi NTT, 25 Juli 2022. (Rita-KatongNTT.com)

“Tidak ada satu provinsi pun di Indonesia yang 20 persen penduduknya adalah anggota koperasi. Minat masyarakat NTT terhadap koperasi itu tinggi,” kata Vincentius Rapu.

Kupang – Tingkat partisipasi masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur terhadap koperasi merupakan tertinggi di Indonesia. Data tahun 2021 menunjukkan sekitar 20 persen dari total penduduk NTT sekitar Rp 5 juta orang merupakan anggota koperasi.

Partisipasi 1,3 juta warga NTT itu diwujudkan dengan menjadi anggota koperasi kredit. Jumlah anggota terbesar berada di Pulau Flores dan menyusul Pulau Timor dan Sumba.

Selain jumlah anggota yang demikian besar, termasuk usia anak-anak dan remaja (generasi milenial), total asset koperasi kredit di NTT mencapai Rp 8 triliun.

“Tidak ada satu provinsi pun di Indonesia yang 20 persen penduduknya adalah anggota koperasi. Minat masyarakat NTT terhadap koperasi itu tinggi,” kata Vincentius Rapu, Ketua Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Bekatigade Timor kepada KatongNTT.com pada Senin, 25 Juli 2022.

Vincentius ditemui di sela rangkaian acara Open Forum, Diskusi Panel, Festival Budaya dan RAT Inkopdit Tahun 2021 tanggal 23-27 Juli 2022 yang dihadiri sekitar 600 anggota se-Indonesia. Acara digelar di tiga hotel di Kota Kupang.

Vincentius lebih rinci menjelaskan tingkat partisipasi masyarakat NTT di wilayah kerja Puskopdit Bekatigade yang meliputi Pulau Timor, Rote, dan Sabu. Puskopdit Bekatigade Timor memayungi 24 koperasi kredit, dua di antaranya baru saja dibentuk yakni Kopdit Cendana dan Koperasi Produsen. Jumlah anggota mencapai 300 ribu orang.

Total aset Puskopdit Bekatigade Timor mencapai Rp 2 triliun terhitung sejak berdiri tahun 1980an hingga tahun 2022.

Di NTT ada 5 puskopdit dengan rincian Puskopdit Swadaya Utama di Maumere, Kabupaten Sikka dengan aset mencapai Rp 4 triliun. Puskopdit Swadaya Utama sebagai puskopdit terbesar di NTT. Menyusul Puskopdit Bekatigade Timor di urutan kedua. Di urutan ketiga Puskopdit di Ende dan di Ruteng. Dan terakhir di Sumba Barat, Pulau Sumba.  Seluruh Puskopdit di NTT dan sejumlah provinsi di Indonesia berpusat di Induk Koperasi Kredit (Inkopdit).

Ketua Puskopdit Bekatigade Timor, Provinsi NTT, Vincentius Rapu, (Rita -KatongNTT.com)

Mengapa koperasi kredit tumbuh subur di NTT?

Vincentius mengatakan, basis nilai koperasi adalah kekeluargaan dengan prinsip gotong royong, persaudaraan, solidaritas, swadaya atau mandiri. Nilai-nilai koperasi ini merefleksikan nilai yang selama ini hidup di tengah masyarakat NTT.

“Nilai-nilai dan prinsip koperasi bersesuaian dengan cara hidup masyarakat, maka yang kita saksikan adalah relatif antusias masyarakat bergabung menjadi anggota koperasi,” ujar mantan pengajar di Universitas Katolik Widya Mandira di Kupang.

Sejarah singkat Koperasi Kredit Hadir di NTT

Koperasi kredit atau credit union (CU) masuk ke NTT pada awal 1970 di Flores dan menjangkau Pulau Timor sekitar tahun 1978-1979.  Menurut buku berjudul Perjalanan Gerakan Koperasi Kredit Indonesia Mencapai Integrasi Nasional yang ditulis Tonnio Irnawan, CU Lepo Woga yang dibentuk pada 1 Januari 1969 mengawali hadirnya gerakan CU di Pulau Flores, NTT.

Lepo Woga adalah arisan ibu-ibu. Pastor Heinrich Bollen SVD (rohaniawan Katolik) dan Yosef Doing (Ketua Ikatan Petani Pancasila Anak Cabang Watublapi Kabupaten Sikka) yang memperkenalkan CU kepada kumpulan ibu-ibu arisan. Para ibu setuju mengubah kelompok arisan ini menjadi CU.

Pada 1 Januari 1969 di Gedung SMP Katolik Hewerbura-Watublapi berdirilah CU Lepo Woga. Anggotanya pun tidak lagi hanya ibu-ibu. Sayang, Lepo Woga mati muda. Dari buku yang ditemukan Romanus Woga (saat CU Lepo Woga berdiri sebagai sekretaris)  bertuliskan Buku Simpan Pinjaman Koperasi Kredit Lepo Woga-Watublapo, ditemukan lembaran kertas ukuran folio bergaris.

Setiap halaman dibagi empat kolom untuk tanggal, simpanan, pinjaman, keterangan. Setiap transaksi ditulis tangan. Transaksi simpan pinjam tercatat rapi. Transaksi terakhir tercatat tanggal 23 Juli 1979.

Seiring perjalanan waktu koperasi kredit di NTT kembali bangkit dan tumbuh subur. Bahkan mencatatkan diri sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak menjadi anggota koperasi.

Selain itu, koperasi kredit di NTT memanfaatkan teknologi digital untuk pelayanan anggotanya setara dengan dunia perbankan. Misalnya, transaksi nontunai, transaksi m-banking dengan aplikasi android, dan penggunaan EDC dan ATM.(Rita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *