Penuhi 4 Syarat Ini untuk Hadirkan 1 Juta Wisatawan ke Labuan Bajo

Sebagian gambaran berikut data tentang kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo mencapai level tertinggi tahun 2019 sebesar 221 ribu wisatawan.

Peserta jelajah Komodo tiba di kampung adat Waerebo, Kabupaten Manggarai beberapa bulan lalu. (Istimewa)

Peserta jelajah Komodo tiba di kampung adat Waerebo, Kabupaten Manggarai beberapa bulan lalu. (Istimewa)

Labuan Bajo merupakan kawasan wisata yang memiliki potensi besar untuk menghasilkan pendapatan asli bagi Provinsi Nusa Tenggara Timur maupun devisi bagi negara.  Dalam mengelola kawasan Labuan Bajo secara inklusif, efektif, efisien dan  berkelanjutan diperlukan strategi kolaboratif.

Mari kita cermati, lama waktu tinggal wisatawan di Labuan Bajo rata-rata 3 hari. Wisatawan lebih banyak mengunjungi kawasan wisata air dan Taman Nasional Komodo.  Waktu tinggal yang relatif singkat, tidak berdampak pada pelaku UMKM di sekitar Labuan Bajo.

Untuk itu, strategi penguatan wisata daratan menjadi penting dengan berkolaborasi antara pihak investor dengan lembaga lokal. Misalnya, wilayah Tanah Mori dan Hutan Ngorang Bosowie yang sedang dikembangkan. Sehingga kolaborasi antara lembaga lokal dan Bumdesa menjadi menarik untuk diwujudkan.

Baca juga: Menakar Dampak Pembentukan KEK Labuan Bajo

Keberhasilan pengembangan kawasan hutan kota Ngorang Bosowie dan kawasan integrasi di Tanah Mori menjadi parameter keberhasilan bagi pengembangan kawasan wisata daratan di Labuan Bajo.

Mengapa penguatan wisata daratan di Labuan Bajo menjadi pilihan? Karena pemberlakuan tarif baru untuk masuk Taman Nasional Komodo belum memenuhi syarat untuk menstimulisasi peningkatan pengembangan UMKM. Begitu juga dengan peningkatan dan ekonomi masyarakat lokal.

Sebagian gambaran berikut data tentang kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo mencapai level tertinggi tahun 2019 sebesar 221 ribu wisatawan. Pasca pandemi tahun 2020 diprediksi sebesar 100 ribuan, setelah sebelumnya turun. Tahun 2021 sebanyak 51 ribu dan tahun 2022 sebanyak 61 ribu wisatawan. Tahun 2028 diproyeksi dapat mencapat 1 juta wisatawan.

Target 1 juta wisatawan ke Labuan Baj dapat lebih cepat terpenuhi dengan empat syarat berikut:

Pertama, iklim investasi wilayah Labuan Bajo dan Flores kondusif. Perencanaan pengembangan wilayah Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super prioritas dapat berjalan secara dinamis dan mencapai target pengembangan dengan berkolaborasi.

Baca juga: Presiden Jokowi Berharap Wisata Labuan Bajo Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat NTT

Pemangku kepentingan utama  antara lain  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,  Pemerintah Daerah NTT, tokoh agama, tokoh adat, lembaga swadaya masyarakat serta Media. Pemangku kepentingan utama ini berperan dalam menjaga wilayah Labuan Bajo agar terus terawat daya tariknya.

Kedua, destinasi wisata geografi daratan Flores dapat dikembangkan secara optimal. Wisata alam dan pegunungan, serta situs budaya.  Destinasinya  didukung dengan  fasilitas  layanan bagi wisatawan yang mengkombinasikan nilai lokal dan modern. Destinasi tersebut akan  bertumbuh  menjadi pusat daya tarik baru.

Beberapa destinasi daratan Flores antara lain Gua Batu Cermin, Puncak Waringin, Cancar, Water Front, Gua Rangko, Wae Rebo, Wae Bobok, kawasan Ngorang Bosowie , dan Tanah Mori.

Hal ini menjadi peluang bagi beberapa kalangan untuk membuka dan mengembangkan usaha. Kemudian, wisatawan dapat  memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia. Pertumbuhan  ini memiliki efek pengganda (multiplier effect) bagi perekonomian masyarakat lokal dan melibatkan banyak tenaga kerja.

Baca juga: Wisatawan Asing Keluhkan Mahalnya Tarif Masuk TN Komodo

Ketiga,  kemudahan akses. Melalui kebijakan pemerintah pusat telah dibangun bandara internasional, pelabuhan nasional, akses jalan utama kawasan wisata dan jalan Trans Flores, rumah sakit tipe A serta sarana air bersih dan listrik. Kemudahan akses dan penguatan sarana prasarana pendukung ini menciptakan peluang investasi di bidang pariwisata.

Keempat, atraksi budaya. Kita patut bersyukur bahwa pemerintah pusat melalui kementerian   dan lembaga menjadi daya dorong  kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo. Dampak dari kunjungan ini menciptakan atraksi-atraksi budaya lokal. Budaya lokal  perlu dikembangkan secara optimal.  Nilai-nilai budaya yang kaya dan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan.  *****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *