Marak Pencurian, Dekranasda Daftarkan 773 Motif Tenun NTT di Indikasi Geografis

Motif Tenun Bunga Sepe. Salah Satu Motif Tenun NTT yang didaftarkan di Indikasi Geografis (Ruth-Katongntt.com))

Motif Tenun Bunga Sepe. Salah Satu Motif Tenun NTT yang didaftarkan di Indikasi Geografis (Ruth-Katongntt.com))

Kupang – Sebanyak 773 motif tenun di 22 kabupaten/kota di NTT telah terdaftar di Indikasi geografi. Hal ini dilakukan Dekranasda NTT sebagai langkah pengamanan agar motif tenun NTT tidak sembarang diklaim pihak lain.


“Motif-motif (tenun) ini sudah dicetak. Sudah merajalela. Sudah diakuin orang. Itulah yang dilakukan Dekra, kami mengunci, semua didaftarkan ke indikasi geografis. Jadi jika ada yang akuin atau mencetak, kami bisa layangkan surat teguran. Supaya kita punya budaya itu tidak dicuri, diambil orang,” kata Julie pada Lintas Pagi, RRI Kupang, Kamis, 4 Agustus 2020.


Indikasi geografis diatur dalam UU No. 20 Tahun 2016, sebagai tanda akan daerah asal dari suatu produk, yang punya karakteristik, kualitas, dan reputasinya sendiri. Dengan tujuan memberi kepastian hukum dalam dunia industri. Serta menjaga persaingan usaha yang sehat. Indikasi Geografis adalah bagian dari hak intelektual yang bersifat komunal (milik bersama).


Untuk itu, dengan didaftarkannya motif tenun NTT ke Indikasi Geografis, diharapkan tak ada lagi pihak luar yang mengklaim hak milik masyarakat NTT ini.

Ketua Dekranasda NTT, Julie Laiskodat menyebut, tenun kini bukan lagi sekadar budaya, namun bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat NTT.


Banyaknya motif dari 22 kabupaten/kota di NTT dengan nilai filosofisnya masing-masing. Juga dengan 3 teknik menenun, ikat (benang tidak timbul), buna (timbul dua sisi), dan sotis (timbul satu sisi) membuat NTT lebih kaya dibanding provinsi lain.


Ini membuat tenun NTT punya pangsa pasar yang besar. Namun, belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakatnya.

“Saya melihat bahwa orang sudah mulai mencetak kita punya (motif). Di beberapa daerah, budaya menenun tidak ada. Tetapi mereka menenun motif kita. Jadi etos kerja mereka, satu selendang itu bisa dalam sehari 4-5 jam selesai. Lalu tenun yang besar, dia seminggu bisa selesai. Karena mereka tahu bahwa tenun NTT motifnya ada pangsa pasar,” ujar Julie.


Orang-orang dari luar NTT fokusnya untuk mencari uang lewat menenun. Ini yang disebut Julie SDM di NTT kalah dengan pihak luar.


“Mental dan etos kerja kita untuk mengejar peluang-peluang ini yang kita kalah. Orang lain sudah susul duluan. Etos kerja para penenun kita harus bisa bersaing dan tahu bahwa ada pangsa pasar,” tegas Julie.


Pada kesempatan ini, Julie pun mengungkapkan jika pernah mengirim penenun dari 4 kabupaten di NTT untuk melakukan seminar di Equador. Negara yang disebut Julie punya budaya menenun ini hanya pada 400 tahun yang lalu. Kini, dari negara tersebut mulai belajar menenun dengan tenunan NTT sebagai salah satu referensi mereka.

Ketua Dekranasda NTT dalam acara Lintas Pagi, RRI Kupang, membahas perkambangan UMKM Tenun Ikat di NTT (Ruth)
Ketua Dekranasda NTT Julie Sutrisno Laiskodat dalam acara Lintas Pagi, RRI Kupang, membahas perkambangan UMKM Tenun Ikat di NTT (Ruth-KatongNTT.com)


“Mereka belajar menenun itu dari kita. Semestinya, kita ini raja menenunnya. Tetapi karena etos kerja mereka lebih cepat, dan juga mereka sudah lebih duluan menginovasi memakai benang yang lembut sekali. Tapi mereka tidak punya tiga teknik seperti kita dan motif mereka sedikit. Semestinya kita ini rajanya tenun, yang menguasai tenun di dunia,” tegas Julie.


Yul Elvrin Bureni, satu penenun yang juga hadir dalam acara tersebut menuturkan, cenderung penenun NTT lama memproduksi kain tenun ialah karena tidak menjadikan menenun sebagai mata pencaharian utama.

“Mulai dari awal (proses tenun), ikat, pencelupan, pengeringan, terus buka tali raffia, itu (pengerjaannya) 1 bulan 2 minggu. Itu untuk sarung. Tapi kalau di kampung, ada kerja sampingan, kasih makan sapi, urus anak, dan lain-lain, makanya bisa lebih lama,” jelas Yul.


Menanggapi hal ini, Julie menegaskan, perlu adanya pemahaman jika menenun bisa dijadikan sumber pendapatan keluarga. Dibanding dengan pekerjaan lainnya seperti, petani dan nelayan, menenun tak mengenal musim. Sehingga mampu menyokong perekonomian keluarga.


Sayangnya, ini belum dipahami oleh sebagian besar masyarakat NTT. Tenun masih sekadar dianggap sebagai tindakan pelestarian budaya leluhur.


“Harus punya mental entrepreneur (wiraswasta). Tidak bisa penenun mental penenun. Karena kalau mental penenun, tidak hitung modalnya, dan hanya menjadikannya (pekerjaan) sambilan, jadi satu tenun bisa jadi setahun,” kata istri Gubernur NTT ini.

Sedangkan para penenun menyebut, kurangnya modal benang yang bagus agar tidak luntur dan lebih halus. Serta alat yang memadai, membuat nilai jual tenun tak sebanding dengan proses produksi tenunnya.


Untuk itu, Dekranasda NTT telah menyiapkan benang yang tidak luntur dan lebih halus. Serta menjadi distributor penjualan tenun di NTT, agar nilai jual tenun seimbang dengan produksinya.


“Mereka ini sekarang jika menenun harus dijaga dua hal, kualitas dan harga. Sehingga bisa bersaing. Kadang-kadang, karena mau cepat, jadi renggang-renggang. Jadi cepat sobek. Jadi harga harus bersaing, kualitasnya juga bagus,” ujar Julie.

Selain itu, Dekranasda NTT pun kini sudah memfasilitasi para desainer senior dari luar NTT untuk mengajari ‘tukang jahit’ di NTT agar bisa mendesain sendiri. Hasil karya mereka selanjutnya dipakai pada peragaan busana di Jakarta. Seperti Jakarta Fashion Week (JFW) dan Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF).


Dekranasda NTT pun bekerja sama dengan Kemendikbud Ristek untuk mengadakan program pengajaran ke anak-anak cara menenun dan memberi benang serta alat tenun.

“Agar mereka di rumah bisa tenun, dan kami Dekra siap membeli (karya tenun mereka). Agar anak-anak bisa melestarikan budaya ini karena budaya ini hanya kita yang punya. Supaya tidak pergi cari kerja keluar (pulau/negeri) dan pulang dengan peti jenazah,” pungkas Julie Laiskodat. (Ruth)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *