26 March 2023
Mariance Kabu Suarakan Perlawanan dan Pulihkan Trauma Lewat Tenun
Inspirasi

Mariance Kabu Suarakan Perlawanan dan Pulihkan Trauma Lewat Tenun

Feb 10, 2023

Kupang – “Saya punya badan disiksa 24 jam. Saya dipukul, saya mandi darah. Di lantai, di dinding rumah ada saya punya darah semua. Saya sampai menangis minta ampun di majikan punya kaki seperti saya cium Tuhan punya kaki. Tapi dia tetap siksa saya,” Mariance Kabu, penyintas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) NTT, menceritakan kembali perlakuan yang diterimanya kala bekerja di Malaysia sembilan tahun lalu.

Situasi ekonomi yang berat untuk membesarkan ke empat orang anaknya membuat Mariance memutuskan untuk merantau ke negeri Jiran, Malaysia delapan tahun lalu.  Dorongan dari kenalannya, Asnat Tafuli untuk bekerja sebagai buruh migran dan berdasar atas penglihatan dari tim doa menyakinkan Mariance.

Dia kemudian diberangkatkan ke Surabaya, lalu ke Batam, oleh  PT. Malindo. Kemudian dengan kapal mereka berlayar ke Malaysia. Sesampainya di sana, seminggu kemudian ia dipertemukan dengan calon majikannya. Syarat yang diberi waktu itu adalah tak punya pantangan makanan, bisa menjaga ibu dari majikannya berusia 79 tahun, dan beres-beres rumah. Mariance menyanggupi.

Dengan menjadi pekerja rumah tangga, perempuan asal Kabupaten Timor Tenga Selatan (TTS),  ini berharap akan mendapat uang untuk bisa memperbaiki kehidupan keluarganya.

Majikannya diketahui bernama Sereng Ong berusia 48 tahun kala itu adalah perempuan lajang yang belum berkeluarga

Awalnya berjalan biasa saja. Hingga memasuki bulan kedua ia bekerja, siksaan mulai diterima Mariance. Setiap hari. Awalnya kekerasan verbal, hingga kemudian fisiknya diserang.

“Saya tidak tahu saya salah apa. Dia pukul saya saja. Padahal saya tidak ada langgar perjanjian apa-apa. Dia hanya bilang saya bosan lihat kamu di rumah ini. Saya tidak bisa bicara langsung. Tapi saya jawab dalam hati saja, kalau bosan kenapa tidak kembalikan saya saja?,” tutur Mariance .

Ia dipukul menggunakan tangan maupun rotan. Ia ditendang. Telinganya dipukuli sampai pecah. Giginya dicabut menggunakan tang. Lidahnya ditarik menggunakan tang pula. Jari-jarinya dijepit pada alat penangkap nyamuk elektrik. Membuat jari kelingking kirinya bengkok, tak bisa diluruskan. Pukulan di bibir menggunakan ikat pinggang membuat bibirnya kini sumbing.

“Selama dia pukul saya itu saya diam. Saya seperti beku tidak bisa bicara. Tapi hati saya tidak diam. Saya berdoa terus kepada Tuhan. Di rumah itu hanya kami berdua saja dan CCTV. Tidak ada yang lihat. Tapi saya tahu Tuhan lihat,” kata Mariance.

 

Mariance Kabu bersama suami dan anak bungsunya di rumah mereka di Naikolan, Kota Kupang, NTT, Selasa, 7 Februari 2023. (Ruth Botha - KatongNTT.com)
Mariance Kabu bersama suami dan anak bungsunya di rumah mereka di Naikolan, Kota Kupang, NTT, Selasa, 7 Februari 2023. (Ruth Botha – KatongNTT.com)


Baca juga: Mariance Kabu, PMI yang Disiksa di Malaysia Surati Jokowi

Mariance berhasil lari dari apartemen majikannya pada Desember 2014. Ia saat itu mendengar suara tetangga yang berbicara di depan apartemen.  Waktu itu majikannya sedang pergi bekerja. Ia kemudian menuliskan ‘Tolong saya, saya disiksa, saya mandi darah setiap hari’ di secarik kertas dan melemparkannya ke luar lewat pintu.

Selang beberapa jam kemudian, polisi datang dan membawa keluar Mariance dan meminta keterangan di kantor polisi. Ia ceritakan semua dan menunjukkan luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya.

Mariance kemudian dilarikan ke rumah sakit dan tinggal di Shelter Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) selama enam bulan. Kasusnya ini kemudian dibawa ke persidangan. Dia kala itu bersaksi lima kali setelah akhirnya kembali ke Indonesia.  Kesaksiannya beserta luka-luka yang membekas di tubuh Mariance tak cukup jadi bukti untuk menahan majikannya tersebut.

Putusan pengadilan menjelaskan bukti yang ada rusak dan tidak kuat untuk menuntut majikannya. Majikannya itu bebas, namun masih bisa dituntut jika bukti baru ditemukan.

Mariance tak punya kuasa lebih. Ia hanya berharap keadilan sekali saja menghampiri orang kecil sepertinya. Ia bahkan pernah menulis surat untuk presiden Joko Widodo. Namun tak ada pengaruh apa-apa. Sampai sekarang, peristiwa keji selama delapan bulan itu tak akan bisa terhapus dari ruang memorinya.

Atas perlakuan majikannya itu, Mariance pulang dengan keadaan tubuh yang tak lagi sama, pun dengan trauma yang mendalam.

Apalagi ketika ia pulang, omongan orang yang mengatakan ia sudah cacat, tak lagi sama seperti dulu, dan pandangan tak suka, maupun jijik dari orang pada dirinya terus ada. Suara-suara di kepala yang menyalahkan dirinya pun sempat menjatuhkan dirinya sendiri.

“Saya sekarang bukan seperti yang dulu lagi. Sekarang saya sudah sebagai salah satu ibu yang sudah cacat,” kata Mariance dengan tak bisa menyembunyikan bulir air mata yang mulai nampak di matanya.

Mariance tak bisa melawan. Pandangan orang terhadap dirinya tak bisa ia ubah. Yang bisa ia lakukan ialah membuktikan jika ia masih berdaya, walau dengan pengalaman pahit masa lalu serta bekas penganiayaan yang masih tertinggal di tubuhnya.

Baca juga: Jalan Panjang Mariance Kabu, Korban TPPO Menggapai Keadilan


Pelatih tenun 

Setelah ia pulang ke Indonesia, Mariance kembali mengembangkan bakat menenunnya yang sudah ia kuasai sejak remaja. Ia diminta memberikan pelatihan tenun di komunitas Hanaf. Hanaf sendiri berasal dari bahasa Timor Dawan yang berarti “suara”. Menurut Mariance, lewat komunitas ini, ia bisa menyuarakan hatinya.

Yuli Benu, satu dari beberapa pendiri Komunitas Hanaf menjelaskan, Mariance menerima honor sebagai pelatih.

“Mama dikasih untuk proses pelatihan,” kata Yuli melalui pesan Whatsapp kepada KatongNTT.

Yuli menambahkan, Komunitas Hanaf akan membuka pelatihan tenun untuk 2 semester tahun ini. Yakni Januari sampai Juli dan Agustus hingga Desember.

Mariance menjelaskan, setiap mereka yang mengikuti pelatihan ia kawal sedari awal. Membimbing dengan sabar sampai mereka bisa menghasilkan satu kain tenun.

“Buat ini (tenun) susah sekali. Orang lihat saja bilang gampang. Tapi ini susah. Jadi kalau ada yang ikut pelatihan dan tidak serius saya tidak mau. Harus serius. Ikut dari awal,” kata Mariance ketika disambangi di rumahnya di Naikolan, Kupang, NTT.

Baginya, tenun adalah media untuk mengekspresikan diri serta merepresentasikan dirinya yang juga cantik, walau dengan keterbatasan yang ada. Itulah alasan Mariance untuk beberapa helai tenunannya tidak dijual.

“Saya mau jual, tapi macam saya jual tubuh saya. Seperti ada yang hilang dari saya punya badan. Ini (kain tenun) melambangkan diri saya,” suaranya bergetar mengatakan ini.

Kepingan-kepingan memori masa lalu seolah terputar kembali saat untaian benang-benang itu dia rangkai.

“Kadang kalau saya sementara tenun, saya menangis. Seperti saya melihat kembali perjalanan hidup. Kok bisa begitu ya? Saya selesai menangis, sudah tenang,” ungkap Mariance.

Jalan panjang Mariance Kabu, korban TPPO Menggapai Keadilan (tangkapan layar YouTube KatongNTT)
Surat Mariance Kabu kepada Presiden Jokowi yang tak kunjung mendapat balasan dari orang nomor satu di negeri ini. (tangkapan layar YouTube KatongNTT)

Melalui menenun, dia berusaha menghilangkan orang-orang yang menebarkan ucapan negatif tentang dirinya.

“Jadi dengan ini saya bisa hilangkan yang negatif-negatif itu, saya menangkan semuanya itu dengan ini (hasil tenun),” sambungnya.

Meski demikian, trauma itu nyata ada. Ingatan kelam itu tak bisa dihapus. Sakit hati atas tindakan keji majikannya, dan  hukum yang tidak adil masih terngiang di pikirannya.

“Cepat atau lambat, saya ingin sekali untuk ketemu dengan dia (majikannya di Malaysia). Saya hanya mau tanya, kenapa pukul saya? Itu saja,” ujar Mariance.

Keinginannya terjawab. Media Inggris BBC membawa Mariance kembali ke Malaysia. Hatinya bergejolak. Kenangan masa lalu itu seketika muncul dalam pikirannya.

Delapan tahun berlalu ada banyak yang berubah. Ingatannya akan pohon yang ada di sekitaran apartemen majikannya sudah tak ada. Rumput-rumput yang meninggi di sekitar lapangan kini tak nampak pula. Namun satu yang pasti:  “Alamatnya itu di jalan Pandan Jaya”.

Mobil mereka tiba di depan apartemen tersebut. Bersamaan dengan Sereng Ong, mantan majikannya itu hendak keluar dengan mobilnya. Perempuan paruh baya itu terkejut melihat kedatangan Mariance diikuti beberapa wartawan yang sudah mengaktifkan kamera. Ia sontak berteriak protes dan sempat merebut kamera wartawan karena tak mau direkam.

“Dia lihat saya dia kaget. Karena dia tahunya saya kembali ke Indonesia dan mati. Saya tidak akan mati kecuali memang Tuhan yang bilang sudah waktunya untuk saya mati. Kalau saya mati, harusnya saya mati di rumah dia waktu itu. Tapi Tuhan bilang belum,” tegas Mariance.

Baca juga: 11 Pemkab Teken MoU dengan BP3MI NTT,  Padma : PMI Mau Dilatih Dimana?


“Kita tidak pulang dengan peti.”

Mariance adalah satu dari sekian banyak korban TPPO dari Indonesia. Keberadaan calo yang mengatasnamakan ‘penglihatan dari Tuhan’, telah menjerumuskannya dalam situasi pahit ini.

Suara-suara korban perdagangan orang  tak terdengar. Mereka pulang Di awal tahun 2023, tercatat sudah delapan pekerja migran yang pulang dengan tak bernyawa. Ini sudah jadi alarm sejak lama bagi pemerintah atas eksistensi mafia perdagangan orang yang tak pernah selesai.

Sedangkan korban yang masih diberi kesempatan hidup terbelenggu akan trauma yang mencekam. Mariance pun mengakui, trauma itu tentu memberatkan segala hal dalam diri. Ketika ia pulang, ia tutup rapat kisah tragisnya ini selama tujuh tahun. Ia baru kemudian buka suara ketika mendengar putusan pengadilan yang membebaskan si majikan.

“Kita tidak pulang dengan peti. Kalau orang sudah mati, tidak bisa bicara. Kita masih hidup. Bicara! Ceritakan semuanya agar terbuka jelas. Dengan saya berbicara ini orang (korban) juga semoga ikut kuat ya,” tegas Mariance.

Sesaat dia menatap kain tenun NTT hijau lumut yang masih belum selesai dia tenun. Kedua matanya berbinar dan tersenyum: “Ini motif saya dapat dari taplak meja di Kedutaan di Malaysia waktu saya dibawa BBC. Motifnya saya tenun di kain ini, tapi saya ubah sedikit.”

Mariance Kabu akan memakai tenun hijau itu saat anak perempuannya naik sidi (peneguhan iman dalam agama Kristen saat anak memasuki usia dewasa) April mendatang.

“Saya senang sekali dan pasti cantik pakai tenun ini nanti,” canda Mariance sambil melipat kembali kain tenunnya itu. *****

 

 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *