Martha Kewuan, Pejuang Hak Perempuan dari Noelbaki NTT

Martha Kewuan, pejuang Hak Perempuan saat diwawancarai di PAUD yang ia bangun di Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang, NTT

Martha Kewuan, pejuang Hak Perempuan saat diwawancarai di PAUD yang ia bangun di Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang, NTT

Noelbaki– Budaya di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang cenderung menempatkan perempuan sebagai pihak yang tak berdaya, terbelakang, dan tak dilibatkan dalam keputusan penting, membuat Martha Kewuan berdiri untuk menentang hal ini.

Perempuan asal Solor, Flores Timur, NTT ini, sejak 2003 mulai membentuk kelompok-kelompok perempuan di Kabupaten Kupang, terkhususnya di desa Noelbaki. Tujuannya memberi ruang bagi perempuan untuk berkarya. Karena ia melihat banyak perempuan yang dipatenkan masyarakat untuk hanya bekerja di dapur dan melayani suami.

Baginya, setiap manusia punya kelebihannya masing-masing. Tak pantas seseorang didikte untuk menjadi seperti apa. Yang perlu dilakukan ialah memberdayakan potensi yang ada dalam diri.

“Budaya itu bukan kita lawan, tapi kita beri pemahaman. Perempuan itu punya nilai. Dan ada punya daya untuk berkembang,” ujar perempuan 62 tahun itu.

Dengan memberdayakan perempuan lewat kelompok yang dibentuk, kata Martha, membuat para perempuan yang ada di desanya mampu memiliki penghasilan sendiri. Sehingga tak bergantung pada suami yang berimbas pada antisipasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Ketika ekonomi perempuan itu hanya bersandar pada suami, maka itu menimbulkan kekacauan dan ketidakadilan dalam rumah. Dan kita perempuan itu iya-iya saja. Menurut saya itu tidak betul. Sebenarnya kita punya kemampuan. Hanya bagaimana kita berdayakan diri sendiri. Lalu kita melakukan sesuatu. Tidak perlu yang besar-besar,” ujar Martha

Kelompok yang ia buat fokus pada pertanian, peternakan, dan tenun. Disesuaikan dengan minat dari anggotanya. Awalnya ia membentuk kelompok di dusun Kiuteta, Desa Noelbaki. Kemudian berkembang ke dusun tetangga dan di desa-desa lainnya yang ada di Kabupaten Kupang.

Hingga kini, tersisa 18 kelompok perempuan yang bertahan.

Awal ia membentuk kelompok perempuan ini tak mudah. Ia yang hanya lulusan SLTP ini mendapat banyak tanya berbau menyepelekan dari orang sekitar. Banyak protes dari para suami yang meragukan manfaat dari dikumpulnya ibu-ibu ini.

“Ada yang bilang begini ‘Ibu, PKK itu Perempuan Kurang Kerja kah?’ Saya diam saja. Mereka tidak tahu tujuannya apa. Awalnya ibu-ibu juga tanya, kalau mau jadi anggota kelompok tani satu orang dapat uang berapa? Saya dengan tegas omong, kalau mau uang, keluar. Di sini bukan tempat siap uang untuk kamu,” cerita Martha.

Baca Juga: Kisah Tukang Sol Sepatu Memaknai Cinta dari Pahitnya Hidup

Selain itu, sejak 1996 ia sudah membangun koperasi simpan pinjam bagi para petani di desanya yang dulu menerapkan sistem ijon. Menurutnya sistem ijon hanya merugikan petani.

“Di sini kan petani semua. Karena uang tidak ada beli pupuk, jadi musti pinjam di orang lain. Lalu panen, petani kasih padi. Itu menurut saya rugi. Petani dapat sedikit. Saya berpikir untuk buat kelompok simpan pinjam. Bayarannya tiap bulan, lebih kecil,” jelasnya.

Bermula dengan simpan pokok Rp5 ribu dan simpanan wajib Rp1.000 pada 1996, KSPnya mulai beroperasi hingga kini dan petani sudah bisa meminjam hingga puluhan juta.

Atas dedikasinya pada pemberdayaan perempuan dan pertanian di Desa, ia Difasilitasi Global Gathering of Women Pastoralists mewakili Indonesia ke India untuk membahas kemiskinan perempuan Internasional.

Lebih dari 100 orang dari 31 negara berkumpul di Mera, India pada 2010, untuk membahas pemberdayaan perempuan. Tujuannya agar perempuan bisa berpartisipasi secara adil dalam pengambilan keputusan di komunitas, pemerintah lokal, nasional, maupun internasional.

Selama dua minggu ia mengikuti pertemuan yang bertajuk Global Gathering of Women Pastoralists tersebut.

Lewat pengalamannya itu, Martha ketika kembali ke Noelbaki mulai mewajibkan anggota kelompoknya untuk menanam di pekarangan rumah.

“Yang pertama saya buat saat saya kembali adalah memberdayakan lahan rumah tangga. Yang sekarang orang kenal dengan P2L (Pekarangan Pangan Lestari). Tanam sayur kah, ternak ayam kah,” jelasnya.

Setelah itu, ia membangun sekolah PAUD Damai di rumahnya sebagai bentuk kecintaannya pada anak-anak.

Martha Kewuan (di samping perempuan bercadar putih) saat mengikuti Global Gathering of Women Pastoralists mewakili Indonesia di India (Dok. pribadi Martha)

Ia menyebut, akses pendidikan di India yang tidak merata membuatnya tergerak untuk membangun PAUD agar anak-anak Indonesia bisa tetap mengakses pendidikan.

“Di India itu kami turun ke desa-desa, ternyata yang nyong dan nona-nona yang cantik tidak sekolah. Di sana kan kasta. Jadi yang kaya yang bersekolah. Nah itu yang buat saya kaget. Jadi itu yang memotivasi saya untuk bangun PAUD,” ungkap perempuan ini.

Selain itu, realita yang ada di Noelbaki di mana sekolah sangat jauh dari pemukiman mereka, membuatnya semakin yakin untuk membangun PAUD pada 2011.

“Yang kedua itu saya terpanggil karena anak-anak kamp, mantan Timor Leste ini kan banyak yang tidak bersekolah. Main-main saja. Saya pikir kalau ada sekolah di dekat sini mereka bisa datang di sini saja,” kata Martha.

Lewat pengabdiannya pada masyarakat yang tak pernah henti ini, pada 2014 Martha menerima penganugerahan sebagai Pahlawan Untuk Indonesia dari MNCTV di bidang Perlindungan, Pengembangan Perempuan dan Anak.

“Saya punya prinsip itu buat yang kecil tapi nampaknya besar. Menolong orang itu tidak harus uang. Tujuan saya kalau orang banyak sudah nikmati, ya sudah,” pungkasnya. *****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *