Mendobrak Cara Pandang dalam Beragama

Ilustrasi-Toleransi-Beragama-Qureta

Ilustrasi-Toleransi-Beragama-Qureta

Oleh: Semi Ndolu
(Kepala Sekolah SMKN 4 Kota Kupang dan Mahasiswa Pascasarjana IAKN Kupang, NTT)

Pidato Cinta Laura yg viral dalam momentum acara Aksi Moderasi Beragama beberapa hari lalu membawa pesan kritis konstruktif. Menurut saya pidato Cinta Laura cukup mendobrak cara pandang umat beragama dalam beragama.

Cara pandang kaum tertentu yang merasa mampu menguasai TUHAN lalu terjebak dalam cara berpikir memanusiakan TUHAN. Sehingga mendikte TUHAN untuk mengikuti kemauannya dan bertindak atas nama TUHAN.

Disinilah titik problematis bangsa ini menurut Cinta Laura yang diundang berpidato pada 23 September 2021 mewakili generasi Milenial. Manusia yang finite (terbatas) menggunakan otaknya utk memahami Tuhan dalam eksistensi-Nya yang infinite (tidak terbatas). Mungkinkah ? – Rene Descartes (1596 -1650).

Pada sisi lain “Trilemma Epicurus” menjadi senjata andalan kaum atheis dalam berbagai diskursus mempertanyakan Kemahaan dan keberadaan TUHAN. Diskursus yang bertujuan menciptakan ambiguitas orang beragama.

Dari uraian di atas, menurut saya ada semacam problem religius – filosofis yang sulit dipertemukan namun tidak perlu dipertentangkan. Ini karena memang hakikat dan konteksnya berbeda.

Tapi bisa menjadi bahan komparasi reflektif terkait cara hidup kaum beragama yang percaya adanya TUHAN dengan kaum atheis yang tidak percaya adanya TUHAN.

Perlu pemaknaan hidup beragama yang tidak terpisahkan dari esensi nilai-nilai budaya dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Pemaknaan ini dalam konteks pluralitas berbangsa dan bernegara melalui sikap toleransi antar umat beragama.

Hal ini penting untuk memberi pesan pembeda pada cara dan pandangan hidup orang beragama yang percaya adanya TUHAN dengan kaum atheis.

Sekalipun kita tidak bisa memaksa kaum atheis untuk berteologi. Tetapi setidaknya mereka bisa melihat TUHAN dalam diri orang beragama yang inklusif dan moderat.

Ini sekaligus membawa mereka pada suatu refleksi logis bahwa “Jika segala yang tiada dalam realita materialis tidak dapat dipastikan ketiadaannya, lalu bagaimana mungkin yang tiada itu dapat dikatakan tidak ada?”.

Demikian halnya dengan eksistensi TUHAN.

Rasanya tidak ada kebenaran absolut pada pandangan manusia tentang Tuhan. Kecuali Tuhan sendiri yang menyatakannya bagi manusia.

Itupun TUHAN menyatakan diri-Nya secara terbatas pada manusia yang terbatas. Sehingga tentunya manusia hanya dapat memahami TUHAN yang tidak terbatas dalam keberadaannya yang terbatas.

Dengan demikian, TUHAN dalam segala eksistensi-Nya tidak dapat dipahami apalagi dikuasai oleh manusia dalam realitasnya yang terbatas. Kecuali kalau TUHAN berkenan.

Karena itu, mari menenun pluralitas bangsa kita dalam lembaran kesatuan dan persatuan yang kokoh. Dan kita secara berkesinambungan meningkatkan moderasi beragama yang toleran dan berkarakter Pancasila.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *