• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Jumat, April 17, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Opini

Menenun untuk Menyintas Trauma

Tim Redaksi by Tim Redaksi
4 tahun ago
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
SM, warga Kabupaten TTS, Provinsi NTT menenun untuk menyintas trauma panjang akibat kekerasan oleh suami, keluarga suami, dan majikannya selama bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia. (Yuliana M Benu)

SM, warga Kabupaten TTS, Provinsi NTT menenun untuk menyintas trauma panjang akibat kekerasan oleh suami, keluarga suami, dan majikannya selama bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia. (Yuliana M Benu)

0
SHARES
288
VIEWS

Yuliana M. Benu
(Peserta Pelatihan Membangun Karakter Melalui Penulisan Kreatif)

Setiap perempuan yang terlahir dalam budaya patriaki hidup dalam sejumlah pembatasan sosial yang mengikat bahkan memenjarakan kebebasannya. Hanya ada dua pilihan. Tunduk atau melawan. Ketika memilih tunduk, ia akan disebut perempuan ‘baik-baik’. Sebaliknya, jika memilih melawan, maka ia akan distigma sebagai perempuan ‘tidak baik-baik’.

BacaJuga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

13 April 2026
Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

8 April 2026

Diskriminasi dan kekerasan, baik fisik maupun psikis, menjadi makanan pahit bagi perempuan setiap hari.

SM adalah perempuan yang memilih melawan ketika mengalami kekerasan dari suami dan keluarganya. Setiap mengalami kekerasan, SM memilih meninggalkan suami dan anak-anaknya di Kota Kupang untuk kembali ke rumah orang tuanya di kampung, di wilayah Timor Tengah Selatan (TTS).

Saat di kampung, SM terjebak mafia perdagangan orang dengan modus persekutuan doa. Seorang perempuan dari kampung tetangga, yang juga masih memiliki hubungan keluarga datang dan menyampaikan pada SM bahwa dalam sebuah penglihatan (doa), SM ditunjuk Tuhan untuk pergi bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia.

Tanpa berpikir panjang, di tahun 2014, SM memutuskan untuk pergi ke Malaysia tanpa memberitahukan hal itu pada suami dan anak-anaknya.

Di Malaysia, SM bekerja selama delapan bulan pada majikannya untuk menjaga lansia, membersikan rumah, dan memasak. Setiap hari ia dipaksa bekerja hampir 24 jam per hari. Selama masa tersebut SM mengalami kekerasan fisik, dan psikis yang luar biasa. Tubuhnya penuh darah karena tamparan dan pukulan yang bertubi-tubi, termasuk dipukul menggunakan ikan beku, giginya dan puting payudaranya dicabut majikan menggunakan tang.

Hanya satu jam dalam sehari SM diberi kesempatan untuk beristirahat.

SM yang kesakitan setiap hari dilarang majikannya untuk bertemu orang luar agar kejahatannya tidak terbongkar. SM yang menolak mati di negeri orang, berupaya diam-diam mencari pertolongan dan berhasil. Seorang tetangganya menolong SM melaporkan ke polisi Malaysia setelah ia mendapat lemparan sepotong surat minta tolong.

Setelah melalui proses pemeriksaan hukum dan perawatan medis, SM akhirnya dipulangkan ke Indonesia pada 2015.

Tahun 2022. Enam tahun berlalu. SM tetap menjalani hidupnya seperti biasa. Selama mengenalnya hampir selama lima tahun, SM telah memberi kesempatan yang luas menyusuri trauma panjang yang dideritanya. Dari kekerasan berlapis yang diterimanya dari suami dan keluarga suami hingga majikan saat bekerja di Malaysia.

SM tidak tinggal dalam trauma yang berkepanjangan, melainkan berupaya melawan dan menyintas trauma itu. Menenun adalah caranya menyintas motif-motif luka dan trauma untuk berproses menyembuhkan diri.

Berbekal warisan pengetahuan dari ibunya, tahun 2019 SM memulai tenunannya baik itu selimut, selendang, dan sarung dengan motif-motif khas TTS seperti tokek dan cicak yang memiliki tutur sejarahnya. Jika tenunan diidentikkan dengan SM, ada motif-motif luka yang menganga di tubuhnya. Tentu ini bukan sebuah keindahan yang patut dikagumi seperti kebanyakan tenunan-tenunan NTT dengan motif-motif yang menarik. Tapi, itu menjadi tanda pengingat bagaimana kekerasan yang dialaminya.

Ketika bertemu dengannya, bekas kekerasan tampak di tubuhnya seperti di wajah. Hidungnya ada bekas luka karena dipukul majikan pakai ikan beku. Di bagian telinga dan bibir tanda bekas robek karena majikan menamparnya berulang-ulang.

Setiap kali mulai menggulung, menyusun dan merangkai benang sesuai motif yang dipilihnya, SM berproses bersama ingatan tentang luka dan traumanya. Ia bergumul dengan perasaan marah, kesal, dan kecewa.

Pada titik ini, SM mengurai luka-luka batin menjadi energi positif untuk membawa perubahan bagi hidupnya dan anak-anaknya. SM menenunnya menjadi simbol harapan.

“Ketika beta selesai tenun, beta pegang ini kain lalu bilang: ‘Tuhan… ini beta punya hasil karya’,” tutur SM sambil tersenyum memegang sekaligus memeluk setiap kali tenunannya selesai ditenun.

Ada kepuasan dalam diri SM ketika tubuhnya yang penuh bekas luka itu mampu menghasilkan karya-karya tenun. Proses menyintas trauma ini adalah cara SM membebaskan dirinya dari perasaan-perasan marah dan kecewa. SM berhasil melakukannya.

Selama lebih dari dua tahun SM menenun, banyak selendang, sarung, selimut yang dihasilkannya laku terjual. Walaupun sulit untuk memasarkan hasil tenun di tengah maraknya penjualan tenun beberapa tahun terakhir. Hal ini tidak mematahkan semangatnya menenun. Ia selalu girang saat menenun.

Biasanya, hasil penjualan itu menjadi sumber penghasilan ekonomi keluarganya dan juga mendukung pendidikan anak-anaknya.

Setiap pembeli yang membeli tenunannya, SM selalu menyematkan doa bagi mereka. Ia mengingat mereka sebagai bagian dari prosesnya menyintas trauma melalui tenun.*****

Tags: #Menenun#Pekerjamigranindonesia#Perdaganganorang#Trauma
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

by Gerardus Taena
13 April 2026
0

Konsep komunio merupakan salah satu pilar teologis yang mendasar dalam diskursus kekristenan, terutama dalam konteks Gereja dan kehidupan religius. Dalam...

Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

by Frumentiana Leto
8 April 2026
0

Pernahkah kita membayangkan seorang bapak yang berangkat sebelum fajar menyingsing, mendayung perahu ke tengah laut, dan pulang siang hari dengan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati