Mengenang Seperempat Abad Gorys Keraf

Oleh Yohanes Sehandi
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Flores, Ende

Pada hari Selasa, 30  Agustus 2022, ilmuwan besar dalam bidang bahasa Indonesia, Prof. Dr. Gorys Keraf, genap 25 tahun meninggal dunia. Gorys Keraf yang nama lengkapnya Gregorius Keraf meninggal dunia pada 30 Agustus 1997 di Jakarta dalam usia 61 tahun. Mengabdi sebagai dosen tetap Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia selama 33 tahun (1964-1997). Beliau lahir pada 17 November 1936 di Lamalera, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tempat kelahiran Gorys Keraf yang bernama Lamalera itu adalah sebuah kampung nelayan yang cukup terkenal, baik di tingkat nasional maupun internasional, karena keberanian para nelayannya menangkap ikan paus dengan menggunakan perahu sederhana yang disebut peledang dengan peralatan sederhana dari bambu dan kayu. Di samping Gorys Keraf, mantan Menteri Lingkungan Hidup pada era Presiden Gus Dur, Dr. Sonny Keraf, juga berasal dari kampung Lamalera ini.

Keberanian para nelayan Lamalera memburu ikan paus dengan peralatan sederhana di samudra yang luas dan ganas telah diangkat dengan sangat bagus dalam novel Suara Samudra (2017) karya novelis Maria Matildis Banda. Suara Samudra adalah salah satu novel Indonesia yang bermutu.

Gorys Keraf menyelesaikan pendidikan SD di Lamalera (1951), SMP di Seminari Hokeng (1954), SMAK Syuradikara Ende (1958), Sarjana di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FS-UI), Jakarta (1964). Gelar Doktor dalam bidang linguistik di FS-UI pada 1978 dengan promotor Amran Halim, J.W.M. Verhaar, dan E.K.M. Masinambouw. Judul disertasinya Morfologi Dialek Lamalera (1978). 

Dialek Lamalera adalah salah satu dialek bahasa Lamaholot. Bahasa Lamaholot digunakan masyarakat suku Lamaholot yang mendiami wilayah Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata. Gelar Profesor Bidang Linguistik diperolehnya dari Universitas Indonesia pada 1991.

Gorys Keraf adalah ilmuwan bahasa Indonesia dan dosen sejati. Sejak meraih gelar Sarjana Sastra pada 1964 dari FS-UI, Gorys Keraf memilih jadi dosen di almamaternya FS-UI sampai akhir hayatnya pada 1997. Selain dosen di FS-UI (S1, S2, dan S3), Gorys Keraf juga dosen di FISIP UI, Pascasarjana Hukum UI, Universitas Trisakti, Universitas Katolik Atmajaya, Universitas Tarumanegara, Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, dan Jakarta Academy Languages, Jakarta.

Berdasarkan pembacaan saya terhadap belasan buku Gorys Keraf yang telah diterbitkan, keahlian atau kepakaran Gorys dapat dikelompokkan dalam tiga bidang utama. Pertama, bidang pendidikan dan pengajaran bahasa Indonesia. Kedua, bidang pedoman menulis karya ilmiah. Ketiga, bidang penelitian linguistik. Berikut dibahas secara singkat ketiga bidang keahliannya.


Bidang Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Indonesia
Dalam bidang pendidikan dan pengajaran bahasa Indonesia, Gorys Keraf telah menerbitkan sejumlah buku penting, yakni (1) Tatabahasa Indonesia (1970), (2) Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia (1991), (3) Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia untuk Umum (1992), (4) Cakap Berbahasa Indonesia (1995), (5) Fasih Berbahasa Indonesia (1996).

Buku-buku tersebut ditulis Gorys Keraf untuk para siswa sekolah menengah atas dan untuk masyarakat umum sebagai pegangan dalam berbahasa Indonesia, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Dari kelima buku teks tersebut, buku karya pertama Gorys Keraf yang berjudul Tatabahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Tingkat Atas (1970) adalah buku fenomenal yang mengangkat dan melambungkan nama Gorys Keraf di tingkat nasional. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores, cetakan pertama 1970.

Penerbit Nusa Indah adalah satu-satunya penerbit di Indonesia pada era 1970-an yang berada di daerah, di luar Jawa. Lewat buku Tatabahasa Indonesia ini nama Gorys Keraf melambung, nama Penerbit Nusa Indah juga ikut melambung.

Buku Tatabahasa Indonesia meledak di pasaran dan dipakai sebagai buku pegangan pada hampir semua SMA di seluruh wilayah Indonesia. Pengaruhnya cukup besar dan lama, sekitar dua puluh tahun (1970-1990). Sepertinya semua siswa SMA di seantero Nusantara ini mengenal nama Gorys Keraf. Buku ini seakan menjadi kitab suci kedua bagi para siswa. Kerena begitu terkenalnya buku Tatabahasa Indonesia, buku ini kemudian dikenal luas dengan nama Tatabahasa Gorys Keraf.

Pada waktu saya kuliah di Semarang (1981-1985), ketika memperkenalkan diri di hadapan para mahasiswa, bahwa saya berasal dari Flores, teman-teman mahasiswa berteriak spontan menyebut nama Gorys Keraf. Ini sekadar bukti betapa nama Gorys Keraf yang berasal dari Flores, NTT, sudah sangat akrab bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia pada era 1970-an dan 1980-an itu.

Seorang ilmuwan bahasa Indonesia dari Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, Bambang Kaswanti Purwo, pada tahun 1980-an  melakukan penelitian terhadap 174 buku tata bahasa Indonesia yang terbit tahun 1900-1982 (selama 82 tahun), baik buku yang (masih) ditulis dalam bahasa Melayu (1900-1928), dalam bahasa Indonesia (1928-1982), maupun dalam bahasa Belanda dan Inggris dan bahasa asing lain (1900-1982).

Tujuan utama penelitian Bambang yang ruang lingkupnya seluruh Indonesia, untuk mencari tahu, manakah buku tata bahasa Indonesia yang paling banyak dibaca dan paling berpengaruh di kalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia.  

Hasil penelitian Bambang Kaswanti Purwo menunjukkan, dari 174 buku tata bahasa Indonesia yang pernah terbit selama 82 tahun di Indonesia, “hanya dua buku” yang paling banyak dibaca dan paling berpengaruh di Indonesia. Sebagian besar orang Indonesia mengenal bahasa Indonesia dari dua buku tersebut. Daya tahan pemakaian masing-masing kedua buku tersebut lebih dari 20 tahun.

Kedua buku yang paling banyak dibaca dan paling berpengaruh di kalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia selama lebih dari 20 tahun yang dimaksud, yang pertama adalah buku Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (jilid 1 dan 2) karya Sutan Takdir Alisjahbana atau STA (Penerbit Dian Rakyat, Jakarta, cetakan pertama 1949), dan yang kedua adalah buku Tatabahasa Indonesia karya Gorys Keraf (Penerbit Nusa Indah, Ende, cetakan pertama 1970).

Hasil penelitian Bambang Kaswanti Purwo itu dimuat dalam Majalah  Basis (Nomor 12, Tahun XXXVI, 1987, halaman 457-477) dengan judul “Menguak Alisjahbana dan Keraf: Pengajaran Bahasa Indonesia.” Menurut Bambang, kedua buku ini “pengaruhnya begitu mendalam merasuki relung-relung pengajaran bahasa Indonesia!”

Buku “tata bahasa STA” (1949) sampai tahun 1981 (selama 32 tahun) telah mengalami cetak ulang ke-43 (jilid 1) dan cetak ulang ke-30 (jilid 2). Sementara itu, buku “tata bahasa Gorys Keraf” yang terbit tahun 1970, sampai dengan tahun 1984 (selama 14 tahun) telah mengalami cetak ulang ke-10, dan sampai beliau meninggal dunia pada 30 Agustus 1997 (selama 27 tahun) telah mengalami cetak ulang ke-15, yang tentu saja dalam jumlah oplah (tiras) yang sangat besar.

“Diksi dan Gaya Bahasa”, salah satu buku terkenal karya Gorys Keraf

Jumlah buku Tatabahasa Indonesia Gorys Keraf yang beredar di masyarakat tentu saja jauh melampaui jumlah yang terdata, karena sebagian besar buku ini dijual ilegal di pasaran bebas. Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) pada tahun 1988 pernah mensinyalir, buku paling banyak dibajak dan dijual secara ilegal di pasaran bebas di Indonesia adalah Tatabahasa Indonesia Gorys Keraf.

Keperkasaan buku tata bahasa Gorys Keraf sampai tahun 1990. Pamor buku ini mulai meredup tatkala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional menerbitkan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988). Sejak tahun 1990 sampai dengan tahun 2022,  tidak ada lagi buku tata bahasa Indonesia yang pengaruhnya sebesar buku tata bahasa STA dan buku tata bahasa Gorys Keraf. 

Bidang Pedoman Menulis Karya Ilmiah
Dalam bidang pedoman menulis karya ilmiah terutama di perguruan tinggi, Gorys Keraf berjasa besar. Dia adalah pendekaranya. Beliau menerbitkan buku utama berkaitan dengan pedoman menulis karya ilmiah berjudul Komposisi (1971).

Buku utama ini kemudian dilengkapi Gorys Keraf dengan tiga buku yang lain, yakni (1) Diksi dan Gaya Bahasa (1981), (2) Eksposisi dan Deskripsi (1981),dan (3) Argumentasi dan Narasi (1982). Buku Komposisi yang merupakan buku kedua Gorys Keraf tidak kalah tenar dengan buku pertamanya, Tatabahasa Indonesia (1970).

Setelah buku pertama Tatabahasa Indonesia (1970) melambungkan nama Gorys di seluruh pelosok Tanah Air, buku kedua Komposisi (1971) yang juga diterbitkan Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores, ikut melambungkan lagi namanya di seantero negeri. Buku Komposisi dengan anak judul Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa, adalah sebuah buku teks yang sangat berbobot.

Buku dengan tebal 347 halaman ini terdiri atas 14 bab dengan beberapa sub-bab. Uraian buku ini padat dan disertai dengan contoh jelas. Tidak gampang memang memahami isi buku ini karena harus disertai dengan keterampilan menulis karya ilmiah, seperti menulis artikel ilmiah, makalah imiah, proposal penelitian, laporan hasil penelitian, skripsi, tesis, disertasi, dan buku ilmiah.

Dalam pengamatan saya, buku Komposisi karya Gorys Keraf ini sampai dengan tahun 2022 ini belum tergantikan. Belum ada buku lain yang menandinginya. Buku Komposisi Gorys Keraf masih menjadi rujukan para dosen dan mahasiswa di perguruan tinggi Indonesia. Ini terlihat pada banyak jenis karya tulis ilmiah di perguruan tinggi yang pada daftar pustakanya masih tercantum buku Komposisi sebagai salah satu tujukan.  Ini artinya apa? Artinya, daya tahan buku Komposisi Gorys Keraf ini sangat kuat, sudah lebih dari 50 tahun. Sebuah pencapaian yang luar biasa.

Karena penulisan karya ilmiah memerlukan banyak perangkat lain yang harus dikuasai seorang penulis, maka Gorys Keraf merasa wajib untuk menerbitkan buku-buku pelengkap sebagai lanjutan buku Komposisi. Maka beliau menerbitkan tiga buku pelengkap, yakni (1) Diksi dan Gaya Bahasa (1981) sebagai Komposisi Lanjutan I, (2) Eksposisi dan Deskripsi (1981) sebagai Komposisi Lanjutan II, dan (3) Argumentasi dan Narasi (1982) sebagai Komposisi Lanjutan III. Buku yang pertama dan kedua diterbitkan Penerbit Nusa Indah, Ende, sedangkan buku ketiga diterbitkan Penerbit Gramedia, Jakarta.

Bidang Penelitian Linguistik
Dalam bidang penelitian linguistik atau ilmu bahasa, Gorys Keraf menerbitkan dua judul buku monumental yang dinilai sebagai mutiara di kalangan ilmuwan linguistik. Kedua buku monumental berbobot ilmiah itu adalah (1) Linguistik Bandingan Historis (Penerbit Gramedia, Jakarta, 1984) dan (2) Linguistik Bandingan Tipologis (Penerbit Gramedia, Jakarta, 1990).

Apa itu linguistik bandingan historis? Linguistik bandingan historis adalah salah satu bidang linguisitik atau ilmu bahasa yang mempelajari sejarah dan asal-usul bahasa-bahasa di dunia dan teori-teori mengenai asal-usul bahasa-bahasa tersebut seraya mengadakan perbandingan antara bahasa-bahasa yang serumpun.

Linguistik bandingan historis mempelajari data-data dari suatu bahasa atau lebih, sekurang-kurangnya dalam dua periode. Data-data dari suatu bahasa dari dua periode atau lebih itu diperbandingkan secara cermat untuk memperoleh kaidah-kaidah perubahan yang terjadi dalam bahasa tersebut.

Demikian pula hal yang sama dapat dilakukan terhadap dua bahasa atau lebih. Unsur-unsur bahasa itu dapat diperbandingkan berdasarkan kenyataan dalam periode yang sama, maupun perubahan-perubahan yang telah terjadi antara beberapa periode.

Buku Linguistik Bandingan Historis dengan tebal 240 halaman ini dibagi dalam 12 bab dengan judul-judul babnya adalah (1) Awal Mula Timbulnya Bahasa, (2) Linguistik Bandingan Historis, (3) Dasar Perbandingan Bahasa, (4) Metode Perbandingan, (5) Metode Rekonstruksi, (6) Implikasi Rekonstruksi, (7) Metode Pengelompokan, (8) Leksikostatistik, (9) Geografi Dialek, (10) Migrasi Bahasa, (11) Negeri Asal Bahasa Austronesia, dan (12) Bahasa-Bahasa Austria.

Salah satu bab buku ini yang menarik perhatian adalah Bab 11, Negeri Asal Bahasa Austronesia (halaman 188-201). Lewat Bab 11 ini Gorys Keraf mengemukakan pendapat baru atau teori baru tentang asal-usul bangsa dan bahasa Austronesia, yakni bangsa dan bahasa yang dipakai di wilayah Nusantara, termasuk Indonesia. Teori baru Gorys Keraf ini didasarkan pada tiga landasan kajian, yakni (1) Berdasarkan situasi geografis pada masa lampau, (2) Berdasarkan sejarah pertumbuhan dan perkembangan umat manusia, (3) Berdasarkan teknik leksikostatistik dan teori migrasi bahasa.

Berdasarkan tiga landasan tinjauan tersebut, Gorys Keraf mengemukakan pendapat baru atau teori baru bahwa “negeri asal bangsa dan bahasa-bahasa Austronesia adalah wilayah Republik Indonesia dan Filipina” (halaman 201). Pendapat Keraf ini berbeda dengan pendapat ilmuwan bahasa sebelumnya, antara lain H. Kern, Slamet Mulyana, Isidore Dyen, Keane, dan lain-lain.

Ende, Flores, 30 Agustus 2022

Sumber: yohanessehandi.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *