Muhibah Jalur Rempah Perjuangkan Tenun NTT Jadi Warisan Budaya Dunia

Wakil Ketua Dekranasda NTT, Maria Fransiska Djogo (kiri) menjelaskan salah satu motif tenun NTT kepada Direktur Perlindungan Kebudayaan, Kemendikbudristek, Irini Dewi Wanti dalam kunjungan muhibah budaya jalur rempah (Joe-KatongNTT)

Wakil Ketua Dekranasda NTT, Maria Fransiska Djogo (kiri) menjelaskan salah satu motif tenun NTT kepada Direktur Perlindungan Kebudayaan, Kemendikbudristek, Irini Dewi Wanti dalam kunjungan muhibah budaya jalur rempah (Joe-KatongNTT)

Kupang – Kain tenun Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu fokus utama dalam kunjungan muhibah budaya jalur rempah 2022. Direktur Perlindungan Kebudayaan, Kemendikbudristek, Irini Dewi Wanti mengatakan, kehadiran dirinya di Kupang untuk mempelajari tentang tenunan NTT.

Saat berkunjung ke Dekranasda NTT pada Minggu (26/6/2022), Irini dan rombongan muhibah budaya jalur rempah menyaksikan ratusan motif kain tenun NTT. Irini terkagum melihat kekayaan intelektual masyarakat NTT yang disalurkan melalui beragam motif tenun.

“Selain ingin melihat langsung saya juga ingin mempelajari lebih jauh lagi khususnya tentang tenun NTT,” ujar Irini.

Menurutnya, tenunan NTT menjadi bagian dari tenun Indonesia yang diusulkan menjadi warisan budaya tak benda ke UNESCO. Irini menyebut kunjungan itu sangat penting dalam perjuangan mendaftarkan tenunan Indonesia ke UNESCO.

Irini mengatakan, NTT memiliki banyak penenun yang luar biasa. Tanpa melalui pelajaran formal, penenun NTT menghasilkan karya yang sangat indah.

“Jadi penenun itu bukan pekerja. Mereka adalah seniman dengan talenta dan kemahiran khusus dan luar biasa,” kata Irini.

Laskar rempah yang berjumlah 37 orang dari 34 Provinsi di NTT juga menyaksikan demo tenun dari beberapa pengrajin. Beberapa orang menyempatkan diri merekam proses menenun itu.

Rombongan muhibah budaya jalur rempah berpose bersama dengan Wakil Ketua Dekranasda NTT (Joe-KatongNTT)

Kunjungan rombongan laskar rempah disambut Wakil Ketua Dekranasda NTT, Maria Fransiska Djogo. Maria menjelaskan, Dekranasda NTT menjadi tempat untuk belajar tentang kebudayaan, juga mengenal potensi setiap daerah di NTT.

Kebudayaan dan potensi daerah itu dirangkum dalam NTT mini yang berada di lantai 2 kantor Dekranasda Provinsi NTT. Ada beragam motif kain tenun yang juga ditampilkan. Namun jumlah itu baru sebagian kecil dari jumlah motif yang dicatat Dekrnasda NTT sebanyak 736 jenis.

Pada kesempatan itu, Maria berterima kasih kepada Kemendikbudristek yang memberikan perhatian dalam pelestarian tenunan NTT. Pada tahun lalu, NTT diberi bantuan melatih tenun bagi 1.000 anak muda.

Maria mengatakan, tenun sebagai kekayaan intelektual masyarakat NTT perlu dilestarikan. Upaya itu harus menyasar kaum milenial sebagai generasi penerus.

“Menenun ini kekayaan intelektual nenek moyang kita. Dan bagaimana caranya anak muda mau melanjutkan budaya menenun ini,” kata Maria.

Kepada Direktur Perlindungan Kebudayaan, Maria berharap tenun bisa diakomodir dalam kurikulum pendidikan. Dengan begitu, anak muda bisa belajar menenun dan harapan pelestarian budaya menun bisa tercapai.

Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Pendidikan Kemendikbudristek, Yudi Wahyudin mengatakan, model pelestarian budaya di NTT diharapkan menjadi acuan bagi daerah lain.

Ia berpesan agar budaya tidak dianggap sebagai sesuatu yang primitif. Sebab menurutnya, setiap masa miliki peradabannya.

“Kita harus tingkatkan talenta dan bakat anak-anak muda, agar secara profesi bisa diakui oleh semua pihak. Sehingga karya yang dihasilkan bisa menjadi acuan bagi daerah lain,” kata Yudi.(Joe)

Baca juga: Tinggalkan Konsultan Teknik, Icha Djawas Fokus Berbisnis Aneka Sambal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *