Penganiayaan ODGJ, Satu Polisi Disebut Minta Maaf atas Ulah Rekannya

Yosef Lejap, korban dugaan penganiayaan oleh aparat kepolisian di Lembata (Dok. Andreas Lejap)

Yosef Lejap, korban dugaan penganiayaan oleh aparat kepolisian di Lembata (Dok. Andreas Lejap)

Lembata – Kasus Penganiayaan pada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Lembata, NTT masih dalam penyidikan.

Pada Rabu, 28/12/2022, Polresta Lembata didatangi Andreas Lejap (38), kakak dari korban yang bernama Yosef Lejap (32). Dengan laporan, adiknya yang diketahui telah mengalami sakit mental dan kejiwaan sejak delapan tahun lalu itu dianiaya oleh segerombolan polisi.

Baca Juga: Aparat Polisi Diduga Aniaya ODGJ di Lembata

Pada Sabtu, 31/12/2022, Andreas mengaku didatangi Kepala Pos Polisi (Kapospol) Kota, Marjuni, di rumahnya sekitar jam 11.30 WITA.

“Marjuni bersama pak kasat, dan salah satu penyidik dan satu anggota kepolisian. Katanya maksud kedatangan mereka memastikan TKPnya di mana saja,” ujar Andreas Kepada KatongNTT, Selasa, 3/1/2023.

Marjuni yang juga adalah tetangga dari Andreas, dan disebut sebagai polisi senior di Lembata dikatakan sempat meminta maaf atas tindakan rekan-rekan kerjanya.

“Sempat duduk berbicara dengan mereka, sempat diungkapkan permintaan maaf atas tindakan anak buah. Hanya saat itu bapa tua (Ayah kandung korban Korolus Lejap) merespon dengan ungkapan kekecewaan. Jadi bapa tua merasa kecewa, marah, atas hal yang telah terjadi atas perilaku oknum-oknum ini,” kata Andreas.

Kunjungan Marjuni dan anggota kepolisian lainnya ke rumah Andreas Lejap (Dok. Andreas)
Kunjungan Marjuni dan anggota polisi lainnya ke rumah Andreas Lejap di Lembta (Dok. Andreas)

Ungkapan yang diutarakan ini berbeda dengan pernyataan Kapolresta Lembata, Dwi Handono Prasanto yang menyebut pelaku penganiayaan ialah orang tak dikenal.

Dwi mengatakan, pada Selasa malam 27/12/2022 jam 21.30 WITA, laporan Polisi (LP) dari satu anggotanya telah lebih dulu masuk. Dengan laporan jika ia telah dipukul oleh seseorang bernama Yosef.

Kemudian kata Dwi, anggotanya bersama anggota Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) ke TKP untuk mencari tahu tentang pelaku. Dwi menyebut, sempat bertemu Yosef namun kemudian ia lari.

Anggotanya kemudian bertemu dengan keluarga Yosef untuk membawanya memeriksa kesehatan. Sehingga kasus ini bisa selesai tanpa proses hukum lanjutan.

“Masalahnya muncul orang-orang tak dikenal yang mencari-cari Yosef bersamaan dengan waktunya SPKT ke rumah keluarga. Kemudian muncullah rumor bahwa oknum polri melakukan penganiayaan,” jelas Dwi saat dihubungi Jumat, 30/12/2022.

Terkait anggota polisi yang disebut dipukuli oleh Yosef, Dwi tak ingin membeberkan namanya karena disebut akan menyusahkan penyidikan.

Baca Juga: Komnas Disabilitas: Penganiaya ODGJ di Lembata Rendahkan Martabat Manusia

Sebelumnya, Yohanes Burin LBH Surya NTT Perwakilan Lembata yang mendapat kuasa dari keluarga Yosef mengatakan, korban mengalami ancaman hingga pengeroyokan.

Hal ini dikatakan Yohanes berdasar pada keterangan saksi yang dikumpulkannya.

Tiga orang saksi didatangkan Yohanes ke Polres Lembata untuk memberikan keterangan pada Jumat, 30 Desember 2022.

Berdasarkan keterangan tiga saksi, LBH mengkategorikan ada tiga tempat kejadian perkara (TKP).

1. Di perempatan Sunrise
2. Di rumah keluaraga korban
3. Di samping Kopdit Pintu air

Yohanes mengatakan terungkap satu pelaku berinisial ID berdasarkan tiga saksi itu.

Ketika dalam perjalanan menuju reskrim. Yohanes mengatakan sempat melewati piket. Oleh karena melihat ID ini masih bertugas sebagai piket di polres, maka satu saksi meminta untuk berhenti dan turun dari mobil.

“Dia menunjuk ke tempat piket itu bahwa (dia) itu yang malam itu datang provokasi dan mengancam di rumah,” cerita Yohanes.

Menurut Yohanes, dari keterangan ketiga saksi bisa secara gamblang penyidik mengungkap kasus ini.

“Dari keterangan tiga orang saksi ini. Dari apa yang mereka dengar, lihat, dan ketahui. Di TKP tiga itu pengeroyokan. Kalau TKP dua, itu ancaman. Kalau TKP satu itu perkelahian,” kata Yohanes.*****


Koreksi:

Redaksi KatongNTT.com memohon maaf atas kekeliruan dalam menyajikan laporan berikut: “… Hanya saat itu bapa tua (Marjuni) merespon dengan ungkapan kekecewaan,….”

Kami telah mengkoreksinya sebagai berikut: “… Hanya saat itu bapa tua (Ayah kandung korban Korolus Lejap) merespon dengan ungkapan kekecewaan,….” Terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *