• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, Januari 14, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Sorotan

Perayaan Imlek di Gedung Tua Warisan Marga Lay di Kota Kupang

Tim Redaksi by Tim Redaksi
3 tahun ago
in Sorotan
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Nuansa Imlek yang nampak di gedung tua Rumah Abu milik keluarga Lay di Kupang (Ruth-KatongNTT)

Nuansa Imlek yang nampak di gedung tua Rumah Abu milik keluarga Lay di Kupang (Ruth-KatongNTT)

0
SHARES
305
VIEWS

Kupang – Di satu lorong sempit di kawasan kecamatan Kota Lama di ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), beberapa lampion merah tergantung.

Ukiran nama di gapura pada satu bangunan di kawasan itu sudah pudar. Tapi patung berbentuk naga berwarna hijau kokoh berdiri di atas gapura itu.

BacaJuga

Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

18 Agustus 2025
Kampung adat Ratenggaro di Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT (Dok.Antara)

Bukan Hanya Soal Dipalak: Belajar dari Ribut-ribut Jajago di Sumba

23 Mei 2025

Di ujung lorong, satu gedung bertembok kuning dengan aksen merah menyambut tiap pengunjung yang datang.

Di dalam, bau dupa menyerbu masuk indra penciuman. Terlihat tiga wadah disediakan di tiga tempat yang berbeda untuk menancap dupa-dupa yang telah dibakar. Warna merah dan emas mendominasi ruangan tersebut.

Suasana perayaan Imlek pada Sabtu kemarin terasa di dalam ruangan.

Sering orang menyebut ini sebagai klenteng. Sejatinya ini adalah Rumah Abu Siang (keluarga) Lay, di Kupang, NTT

Baca Juga: Memaknai Imlek Bagi Warga Tionghoa di Kupang

Tepat di tengah gedung, terdapat tiga meja berisi banyak jenis makanan dan beberapa minuman.

Sehari sebelum perayaan Imlek, yang disebut seperti perayaan tutup tahun bagi umat Nasrani, beberapa orang datang dan menjalankan tradisi leluhur yang mereka tahu sejak kecil.

Tiap mereka datang dan membakar beberapa dupa. Berdiri di tiap tiga meja bertaplak merah. Lalu sejenak menutup mata, melafalkan doa, dan menunduk sebanyak tiga kali. Sambil dupa yang sudah dibakar dipegang diujung telapak tangan yang dirapatkan. Kemudian diangkat setinggi dahi.

Satu meja pertama paling tinggi, ditempatkan di tengah. Wadah dupa digantung di depan meja. Nampak dua lilin besar serta beberapa kue, buah-buahan, dan minuman tersaji di meja tersebut.

“Itu diperuntukkan untuk Tuhan,” kata Ferry Ngahu. Penjaga rumah abu. Yang adalah suami dari Yunni Layandri, salah satu keturunan marga Lay yang punya rumah abu di Kupang.

Warga keturunan Tionghoa di Kupang yang datang bersembayang di depan meja untuk leluhur dan orang tua. Di Rumah Abu keluarga Lay di Kupang, NTT sebelum Imlek (Ruth-KatongNTT)
Warga keturunan Tionghoa di Kupang yang datang bersembayang di depan meja untuk leluhur dan orang tua. Di Rumah Abu keluarga Lay di Kupang, NTT sebelum Imlek (Ruth-KatongNTT)

Meja kedua lebih besar ukurannya. Banyak makanan seperti olahan babi, ikan, buah-buahan, dan kue-kue berjejer di meja tersebut.

Untuk meja kedua ini diperuntukkan kepada leluhur dan orang tua. Mereka percaya, walau orang tua mereka sudah tak lagi di dunia, mereka punya kehidupan selanjutnya di alam lain. Sehingga meskipun raga tak lagi terlihat, penghormatan kepada orang tua mereka masih tetap ada.

Di meja ketiga, nampak lebih kecil ukurannya, namun yang tersaji masih sama.

“Bumi yang kita pijak, kita tempati ini, harus kita jaga. Kita bisa berlangsung hidup ini karena kita ada di atas bumi,” kata Ferry. Untuk itu sajian kepada bumi pun ada.

Makanan dan minuman yang disediakan adalah bentuk persembahan yang disampaikan anak cucu. Sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan, leluhur, orang tua, dan bumi. Yang mana sudah memberi banyak rezeki.

Ferry menyebut, satu makanan yang wajib ada ialah kue keranjang. Kue yang ada perpaduan manis dan legit ini melambangkan keharmonisan dari silahturahmi yang ada.

Dalam perayaan tutup tahun versi tradisi China ini, mereka juga membakar Jinzhi, atau lembaran kertas bercap emas dan perak sebagai bentuk persembahan pula pada Tuhan dan leluhur, serta orang tua.

Saat Imlek, warga keturunan Tionghoa di Kupang biasanya hanya mengunjungi sanak saudara untuk bersilaturahmi.

Rumah Abu milik marga Lay ini
telah ada sejak 1865. Dua orang keturunan Tionghoa, yaitu Lay Lan Fi, dan Lay Foet Lin memprakarsai rumah abu ini.

Rumah abu sendiri sudah mengalami beberapa perubahan. Di 1945, mengalami kerusakan di beberapa bagian di bubungan atap akibat Perang Dunia II.

Rumah Abu Siang Lay Tempo Dulu (Dok. Universitas Leiden)
Rumah Abu Siang Lay Tempo Dulu (Dok. Universitas Leiden)

Di 1976, dibuatkan teras. Ventilasi udara di depan yang dulunya berbentuk bulat, kini dalam bentuk kontak.

Baca Juga: Menelusuri Gua di Kampung Bonen, dari yang Megah, Labirin Tak Berujung, Hingga Mistis (Tulisan 3)

Namun perubahan-perubahan itu tidak mengubah bentuk asli bangunan.

Ferry mengatakan, di Kota Lama awalnya terdapat juga rumah abu milik marga Siang Cung yang berada di jalan Siliwangi. Namun sudah tidak ada lagi dan menjadi pertokoan. Sehingga yang bertahan hingga saat ini ialah milik Siang Lay.

Di rumah abu itu terlihat pula papan yang menempel nama-nama para leluhur keluarga Lay yang abunya ditempatkan di gedung yang sudah berumur 158 tahun itu.

“Jadi sudah sampai keturunan ke delapan yang (abunya) ditempatkan di sini. Sudah delapan generasi,” ujar Ferry.

Fungsinya sejak dulu jelas Ferry ialah untuk menempatkan abu dari pada leluhur keluarga Lay. Sehingga kebanyakan yang datang melaksanakan sembahyang di tempat ini ialah yang abu orang tua atau leluhurnya ditempatkan di sini.

“Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk keturunan Tionghoa lainnya yang mungkin datang ke sini dan ingin sembahyang. Kita juga membuka untuk melakukan persembahyangan,” jelas Ferry.

Persembahyangan untuk keluarga Lay di tempat ini dilakukan tiap Sabtu, bulan satu hari dan 15 hari (setelah Imlek), menyambut tahun baru Imlek, dan biasanya dilakukan pada Oktober (jadwal persembayangan seluruh keluarga Lay).

Ferry menyatakan, ini hanyalah untuk menjalankan tradisi. Bukan kepercayaan. Karena kebanyakan keturunan Tionghoa di Kupang sudah masuk ke Kristen Protestan maupun Katolik. *****

Tags: #GongXiFaChai#HariRayaImlek#Imlek#imlekdiKupang#klenteng#klentengdiKupang#KotaLama#Kupang#LunarNewYear #KelinciAir#OrangChinadiKupang#RumahAbudiKupang#TahunBaruChina#wargaTionghoa
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

by Difan Fandi
18 Agustus 2025
0

Desa Natarmage - Pagi itu, saya berangkat dari Desa Pruda menuju Natarmage, Kecamatan Waiblama, untuk mengikuti perayaan HUT RI ke-80...

Kampung adat Ratenggaro di Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT (Dok.Antara)

Bukan Hanya Soal Dipalak: Belajar dari Ribut-ribut Jajago di Sumba

by PriyaHusada
23 Mei 2025
0

Ketika video viral tentang wisatawan merasa dipalak di Ratenggaro bikin geger, NTT dihadapkan lagi pada pertanyaan lama: Apakah kita sudah...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati