Peternak Merugi, Harga Jual Babi Turun 50 Persen Akibat Virus ASF

“Harga jual perekor juga ikut turun yang biasanya bisa dijual dengan harga Rp 4 jutaan turun jadi Rp 2 juta,” kata Yeftha.

Seekor babi milik peternak di Kelurahan Kelapa Lima Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 25 Januari 2023. (Putra Bali Mula-KatongNTT.com)

Seekor babi milik peternak di Kelurahan Kelapa Lima Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 25 Januari 2023. (Putra Bali Mula-KatongNTT.com)

Kupang – Peternak mengeluhkan harga jual babi yang turun drastis hingga 50 persen akibat virus demam babi Afrika (virus ASF) di Kabupaten Kupang, Provinsi NTT.

Yeftha Yerianto Sabaat selaku Ketua Kelompok Usaha Bersama Tunas Muda Kaniti di Kabupaten Kupang menyebut harga jual per ekor Rp 4 juta dulunya. Saat ini turun hingga Rp 2 juta per ekor.

Peternak disebutnya merugi dan di samping itu mereka secara mandiri mencegah penularan virus ASFi.

“Harga jual perekor juga ikut turun yang biasanya bisa dijual dengan harga Rp 4 jutaan turun jadi Rp 2 juta. Kalau harga anak babi (bibit) masih stabil Rp 1,5 juta per ekor,” kata Yeftha.

Baca juga: Virus ASF Tewaskan 239 Babi di NTT

Harga jual daging babi juga turun drastis. Ia menyebut pada akhir 2022 lalu harga jual per kilogram bisa sampai Rp 100 ribu. Namun turun sekitar Rp 55 ribu dalam beberapa minggu ini.

“Sekarang turun sampai Rp 45 ribu per kilogram,” tambahnya.

Turunnya harga per ekor hingga per kilogram daging babi ini telah berlangsung 3 hari berselang adanya berita mengenai ASF di NTT.

Meski untuk kondisi saat ini, kata Yeftha, belum terlalu parah dibanding serangan virus ASF dua tahun belakangan. Para peternak juga telah belajar dari pengalaman sebelumnya. Sehingga bisa berupaya mencegah secara mandiri.

Baca juga: Cegah ASF Kembali Meluas, Lembata Larang Masuk Babi dan Produk Olahannya

“Kami bertindak cepat mencegah terjadinya penyebaran ASF di lingkungan kami. Kekhawatiran kami kalau ASF tak kunjung berhenti, apalagi kalau sampai lebih parah dari ASF yang lalu,” lanjut dia.

Pihaknya saat ini hanya terus menjaga kebersihan kandang, membatasi akses orang ke kandang,  dan memberikan vitamin ke ternak babi.

Berdasarkan data Dinas Peternakan Provinsi NTT tercatat 239 kasus kematian ternak babi di beberapa kabupaten dan kota akibat virus ASF. Data ini dirangkum hingga 23 Januari 2023.

Baca juga: Virus ASF Positif Ditemukan di Kupang dan Flores Timur

Kasus kematian ternak babi diserang virus ASF di Kota Kupang tercatat 39 kasus. Lalu 75 kasus di Kabupaten Kupang, Sumba Barat Daya sebanyak 20 kasus, Ende 30 kasus, Flores Timur 33 kasus, dan Sikka 42 kasus.

Jumlah sementara ini berbeda dengan kondisi yang terjadi di tahun 2020 dan 2021 yang sebarannya bisa merata hingga 22 kabupaten kota.

Untuk Kota Kupang sendiri diimbau agar masyarakat tidak sembarangan membeli daging babi yang dijual di pinggir jalan. Imbauan ini disampaikan Dinas Pertanian Kota Kupang yang juga mengurusi soal peternakan.

“Untuk yang ada dijual di pinggir jalan itu harus dilihat izin dan keterangan sehatnya. Harus yang sehat dan dipotong melalui rumah potong hewan (RPH),” kata  Kepala Dinas Pertanian Kota Kupang, Obed Kadji di kantornya, Rabu, 25 Januari 2023. (Putra Bali Mula)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *