Strategi Unik Evi Novesa Jual Pisang Goreng Madu, Enam Bulan Modal Kembali

Strategi pemasaran unik lainnya, Evi dan Tymmi mengirimkan proposal penjualan pisang goreng madu ke perusahaan dan instansi di Kota Kupang.

Evi Novesa Rinni pemilik UMKM Pisang Goreng Madu Dimadu di Kota Kupang (Rita Hasugian-KatongNTT.com)

Evi Novesa Rinni pemilik UMKM Pisang Goreng Madu Dimadu di Kota Kupang (Rita Hasugian-KatongNTT.com)

Kupang – Pandemi Covid-19 telah menghadirkan berbagai kreativitas untuk bertahan hidup. Seperti yang dialami  Evi Novesa Rinni, 40 tahun, pemilik usaha Pisang Goreng Madu Dimadu di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Evi dan suaminya, Tymmi Therik, 45 tahun menjual semua harta benda mereka di Yogyakarta untuk kemudian memutuskan pulang ke Kota Kupang. Tymmi berasal dari Kupang.  Sedangkan Evi dari Palangkaraya,  Kalimantan Tengah, lahir dari ayah etnis Manado dan ibu Dayak.

“Datang pandemi, saya dan suami sepakat pulang ke Kupang. Karena pandemi belum ada kerjaan,” kata Evi saat ditemui di outlet Pisang Goreng Madu Dimadu di halaman kantor PLUT, Jumat, 13 Januari 2023.

Di halaman kantor  Pusat Layanan Usaha Terpadu bagi Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (PLUT) di Jalan Palapa, Kota Kupang,  Evi mendirikan dua outlet. Satu untuk Pisang Goreng Madu Dimadu yang berusia baru jalan 6 bulan, dan satunya lagi outlet  DMBS (Deng Mambo Isa) yang sudah lebih dulu hadir.

Baca juga: Tiga Tips Pasarkan Produk UMKM NTT Lewat Media Digital

Evi menuturkan, suaminya yang mencetuskan ide membuka usaha pisang goreng madu karena teringat istrinya doyan makan pisang goreng madu saat tinggal di Jakarta. Gayung bersambut, Evi setuju ide suaminya.

Dalam perjalanan, tidak mudah untuk mewujudkan usaha pisang goreng madu yang terinspirasi dari pisang goreng madu Bu Nanik  yang terkenal di Jakarta.  Mengapa?

Hanya pisang tertentu yang cocok dipadukan dengan madu. Begitu juga dengan madunya, tidak semua madu cocok untuk menghasilkan rasa yang pas.

Pisang inaboi dari Rote (Rita Hasugian-KatongNTT.com)
Pisang inaboi dari Rote (Rita Hasugian-KatongNTT.com)

Evi dan suaminya berusaha mencoba berbagai jenis pisang yang ditemui di Kupang. Hanya pisang inaboi asal Rote yang cocok. Mereka membeli pisang itu di Pasar Inpres Kota Kupang dalam bentuk per sisir, bukan tandan.

“Supaya ukuran dan kematangannya terjaga. Sehingga saat dimakan nanti rasanya crunchy (renyah),” ujar Evi.

Pisang yang dibeli dengan kematangan sedang dengan warna kulit keemasan.

Tantangan berikutnya adalah mendapatkan madu. Sama halnya dengan pisang, Evi sudah mencoba berbagai jenis madu mulai dari lokal seperti madu Amfoang hingga madu di luar NTT. Namun tidak memberikan rasa yang pas saat dipadu dengan pisang dan adonan tepung.

Evi akhirnya menemukan madu TJ dengan rasa murni dan ekstra untuk pisang gorengnya.

“Rasa madunya terasa sekali, dan rasa pisang tidak hilang,” tutur Evi tersenyum.

Evi dan suami kemudian “menguji“ rasa pisang goreng madu buatannya ke keluarga dan teman mereka. Alhasil, semua menyambut rasa pisang goreng madu yang renyah.

“Kita diberi restu oleh keluarga buka usaha,”  kata Evi tersenyum.

Baca juga: Jatuh Bangun Yustin Sadji, Eks Pengungsi Timtim Merawat UMKM Mindari

Evi dan Tymmi saling dukung dalam menjalankan bisnis baru mereka di Kota Kupang. Tymmi yang berlatar belakang profesi sebagai digital marketing membuat strategi penjualan yang unik.

“Target kami masyarakat pendatang di NTT , “ ucap Evi. Karena kebanyakan pisang goreng di NTT disuguhi dengan sambal pedas. Pisang goreng madu jadi pilihan mereka.

Evi menyajikan  pisang goreng madunya dalam dua kemasan, pertama kemasan medium berisikan 5 pisang goreng madu berbentuk bundar seharga Rp 15 ribu. Satunya lagi, premium berisi 10 pisang  seharga Rp 30 ribu.

Saat mengawali pemasaran, Tymmi dan Evi memasarkan langsung pisang goreng madu ke pelanggannya. Mereka hanya melayani pembelian dengan  made by order dan ongkos kirim gratis. Alhasil, pelanggan menikmati pisang yang masih hangat. Selama sebulan mereka menjalankan strategi ini, dari pagi hingga malam.

Pisang goreng madu dimadu berbentuk bulat ukuran sedang dan disajikan panas kepada pembeli . (Rita Hasugian - KatongNTT.com)
Pisang goreng madu dimadu berbentuk bulat ukuran sedang dan disajikan panas kepada pembeli . (Rita Hasugian – KatongNTT.com)

Setelah pembeli tahu yang antar adalah pemilik usaha, mereka pun ngobrol  tentang rencana arisan atau meeting, sehingga mereka pulang dengan mendapat orderan lagi. Keuntungan lainnya, pelanggan mereka menceritakan kepada teman, keluarga dan rekan kerja. Strategi ini membuahkan hasil karena orderan semakin bertambah.

“Seperti pepatah sekalli mendayung, dua tiga pulau terlampaui,” Tymmi mengangguk membenarkan pepatah itu.

Strategi pemasaran unik lainnya, Evi dan Tymmi mengirimkan proposal penjualan pisang goreng madu ke perusahaan dan instansi seperti Bank NTT dan Bank Mandiri.  Awalnya pertemuan bahas proposal. Sesudahnya mereka malah order pisang goreng madu dan pesanan semakin sering.

Baca juga: Dekranasda NTT dan BPOM bantu Pelaku UMKM Urus Perizinan

Enam bulan Modal Kembali

Menurut Evi, setiap hari diperlukan sekitar 16 sisir pisang inaboi dan madu TJ 500 ml  untuk memenuhi pesanan melalui online dan juga offline. Untuk penjualan offline, outlet di area kantor PLUT, dibuka setiap hari dari jam 11 siang hingga jam 12 malam.  Evi mempekerjakan 3 karyawan untuk melayani pembelian online maupun offline.

Setiap hari Evi mengeluarkan dana untuk membeli pisang berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 125 ribu. Untuk madu TJ murni 500 ml sekitar Rp 60 ribu . Dia juga membeli tepung terigu kaya protein, tepung beras, minyak goreng dan tabung gas untuk menggoreng pisang.

Dia juga membayar biaya retribusi untuk dua outlet miliknya yang berlokasi di halaman kantor PLUT Kota Kupang. Setiap outlet dikenai biaya retribusi Rp 150 ribu per bulan. Evie membayar biaya retribusi Rp 300 ribu per bulan.

Untuk  biaya penggunaan arus listrik, Evi berharap jangan membebani pelaku UMKM. “Karena  berat juga,” tutur Evie,

Evi enggan menjelaskan total biaya yang dikeluarkan setiap bulannya. Yang pasti, dengan senyum sumringah Evi mengungkapkan dalam  setengah tahun, usaha Pisang Goreng Madu Dimadu telah mengembalikan semua modal awal.

“Puji Tuhan dalam enam bulan modal kembali,” ujarnya tersenyum.

Outlet Pisang Goreng Madu Dimadu (Rita Hasugian - KatongNTT.com)
Outlet Pisang Goreng Madu Dimadu (Rita Hasugian – KatongNTT.com)

 

Baca juga: Marak Pencurian, Dekranasda Daftarkan 773 Motif Tenun NTT di Indikasi Geografis

Menghadapi berbagai tantangan, tidak menyurutkan pasangan suami istri ini untuk terus meningkatkan pelayanan dan kualitas produk UMKM mereka.

Pihak Dekranasda NTT, ujar Evi, sudah menawarkan produk pisang goreng madu untuk dipasarkan di gerainya. Dia sudah menyanggupinya dalam waktu segera.

Evi menuturkan,  dia sudah mengantongi surat izin usaha. Sedangkan   SPP-PIRT (Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga) sedang diurus.

Untuk nama dagangannya yang unik “ Pisang Goreng Madu Dimadu”, Evi tersenyum menjelaskan: “ Supaya tidak sama namanya dengan Pisang Goreng Madu Bu Nanik, sehingga bisa daftar hak cipta (HAKI).”

Nah, bagi pelanggan setia,  akan ada kabar menarik  dari Pisang Goreng Madu Dimadu setelah Valentine’s Day tahun ini. Nantikan ya. *****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *