• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Jumat, Desember 5, 2025
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Opini

Politik Uang Merendahkan Martabat, Menyesatkan Demokrasi

Oleh: Sirilus Aristo Mbombo, Mahasiswa di Fakultas Filsafat Unwira Kupang

Tim Redaksi by Tim Redaksi
2 tahun ago
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Ilustrasi Pemilu 2024 (Dok. Radar Tuban)

Ilustrasi Pemilu 2024 (Dok. Radar Tuban)

0
SHARES
230
VIEWS

Kupang – Pemilihan umum (pemilu) merupakan satu syarat sebagai negara demokrasi. Rakyat memilih dan menentukan calon pemimpin bangsa melalui pemilu. Para politisi bertarung untuk merebut dukungan masyarakat untuk bisa duduk di kursi legislatif dan eksekutif.

Para politisi dengan berbagai cara berusaha untuk meraih suara dalam pemilu, baik dengan cara demokratis maupun dengan cara kotor. Politisi yang demokratis memaparkan visi misi dan rekam jejak. Dia meyakinkan rakyat sebagai pemilih bahwa dirinya layak menjadi pemimpin.

BacaJuga

Tim Badan Gizi Nasional didampingi Kepala SMP Negeri 8 Kota Kupang, Maria Theresia Rosalina Sadinah Lana memberikan penjelasan resmi tentang keracunan massal siswa SMP Negeri 8 Kota Kupang setelah mengkonsumsi makanan bergizi gratis pada 23 Juli 2025. (dok. katongntt).

Membaca Krisis MBG (Negara) dari Pinggir

16 Oktober 2025
Beberapa contoh UMKM di NTT yang disebut Kadis Kemenparekraf sebagai salah satu hal yang bisa menarik wisatawan ke NTT (KatongNTT-Ruth)

Program Dukungan UMKM di Daerah Masih Sebatas Jargon

13 Oktober 2025

Politisi kotor dan mempunyai reputasi diri yang buruk berupaya dengan segala tindakan serta penuh ambisi memberikan uang atau barang kepada pemilih. Cara kotor ini lazim dikenal sebagau politik uang di dalam penyelenggaraan pemilu.

Baca juga: Remaja Berprestasi Asal Lembata Bunuh Diri, Sebelumnya Posting Status “Masalah”

Istilah politik uang pada hakikatnya sudah tidak asing bagi bangsa Indonesia. Politik uang sudah menjadi bahan pembicaraan di tengah masyarakat menyongsong pemilu. Tujuan utama pemilu adalah memilih pemimpin yang memegang erat tongkat estafet bangsa ini di lima tahun ke depannya, yang menentukan masa depan bangsa ini.

Namun untuk menggapai tujuan pemilu menjadi persoalan karena politik uang dari para politisi.  Ironisnya, banyak pemilih yang tergiur oleh uang dan barang yang ditawarkan para politisi kotor. Pemilih seperti ini tidak mempunyai martabat dan harga diri.

Pemilih yang tergiur oleh uang dan barang dari para politisi adalah pemilih yang tidak mempunyai harga diri, pemilih yang tidak mempunyai hati nurani, pemilih yang tidak mempunyai akal sehat.

Baca juga: Orang Muda NTT Diminta Kreatif Lawan Politik Uang di Pemilu 2024

Para pemilih harus menyadari bahwa pilihan politiknya  sangat menentukan ke mana arah bangsa ini di lima tahun ke depan. Politik uang merupakan suatu tindakan keji, tindakan yang sangat tidak menyenangkan dari seorang politisi.  Dengan segala upaya  dan tindakan kotor dia pakai demi menang pemilu.

Politik Uang Merendahkan Martabat

Apakah harga dirimu bisa dibeli dengan uang? Apakah harga dirimu sebanding dengan harga beras di pasar? Apakah dirimu lebih mencintai uang dibandingkan mencintai negeri ini? Ini menjadi pertanyaan eksistensial yang harus melekat di dalam lubuk hati semua pemilih. Pada dasarnya harga diri rakyat sebagai manusia dan juga pemilih tidak dapat diukur oleh nilai apapun. Manusia dihiasi oleh keunikan di dalam dirinya. Manusia dilahirkan dengan pola pikir yang membuat dirinya berbeda dari makluk hidup lainnya.

Manusia harus kritis di dalam menghadapi semua fenomena-fenomena di dalam kehidupannya. Pada dasarnya harga diri manusia tidak dapat diukur, tidak dapat sebanding oleh apapun di dunia ini. Di sisi lain kita menyadari bahwa banyak masyarakat Indonesia yang masih hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan.

Baca juga: Sistem Pemilu Terbuka Lebih Demokratis Tapi Sarat Politik Uang

Faktor ekonomi dan kemiskinan menjadi misi utama bagi para politisi melalui tim suksesnya membuka ruang bagi mereka untuk melakukan politik uang di dalam penyelenggaraan pemilu. Di satu sisi banyak penduduk Indonesia yang tingkat pendidikan masih rendah bahkan ada yang buat huruf sama sekali. Sehingga kesulitan bagi mereka untuk berpikir kritis mengenai fenomena politik uang yang diselenggarakan oleh para politisi.

Di sisi lain pula politik uang rentan terjadi di dalam kehidupan masyarakat yang sudah terpola dengan anggapan politik uang merupakan tindakan wajar yang membuat pemilih sendiri tergiur.  Sehingga banyak pemilih sudah tidak berpikir kritis mengenai harga dirinya. Hal seperti ini yang menimbulkan politik uang tidak pernah berakhir di Tanah Air kita.


Mengatasi Politik Uang Di Indonesia

Pada dasarnya masyarakat Indonesia harus menyadari bahwa tradisi politik uang sudah sekian lama tumbuh di dalam kehidupan realitas bangsa ini. Politik uang tumbuh bagaikan tanaman benalu yang terus menghambat pembangunan dan perwujudan negara demokrasi yang stabil di dalam kehidupan bangsa ini.

Baca juga: Pertama di 2024, Abu Jenazah PMI Dikirim ke NTT

Secara khusus bagi kita kaum muda, kaum terdidik, kaum intelektual harus menggunakan akal sehat yang kritis di dalam menangani politik uang di masyarakat. Dengan cara kita masing-masing untuk berani memberikan masukan positif bagi masyarakat bahwa politik uang itu menyesatkan demokrasi. Asas pemilu yang perpatokan pada prinsip langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil akan tercoreng atas nama politik uang.

Masyarakat Indonesia harus melaksanakan prinsip ini di dalam penyelenggaraan pemilu. Kita sebagai masyarakat Indonesia harus mempunyai prinsip untuk berani menolak politik uang. Pada dasarnya politik uang menjadi penghambat bagi perwujudan demokrasi di kehidupan bangsa ini.

Masyarakat Indonesia harus menghayati martabat dan harga diri. Sebagai manusia yang walaupun dihiasai oleh berbagai kebutuhan ekonomi yang mendesak, tetapi harga dirinya jauh lebih tinggi dari tawaran uang dan barang dari seorang politisi. Di sisi lain pula para aparat keamanan dan penegak hukum harus bertindak tegas sesuai dengan regulasi Undang-Undang jika mendapatkan secara langsung praktik politik uang di tengah masyarakat di dalam penyelenggaraan pemilu di tahun ini.

Baca juga: Akses dan Adminduk Sebabkan Kaum Difabel Sulit Ikuti Pemilu 

Pemilih harus mencintai negeri ini dengan memilih pemimpin berdasarkan akal sehat, kejujuran dari dalam hati nurani tanpa tergoda oleh tawaran uang atau barang yang menggiurkan. Suara Anda sangat menentukan kemana arah bangsa ini di lima tahun ke depannya. *****

 

Tags: #Demokrasi#NTT#pemilu2024#Politikuang
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Tim Badan Gizi Nasional didampingi Kepala SMP Negeri 8 Kota Kupang, Maria Theresia Rosalina Sadinah Lana memberikan penjelasan resmi tentang keracunan massal siswa SMP Negeri 8 Kota Kupang setelah mengkonsumsi makanan bergizi gratis pada 23 Juli 2025. (dok. katongntt).

Membaca Krisis MBG (Negara) dari Pinggir

by KatongNTT
16 Oktober 2025
0

MBG (Makanan Bergizi Gratis) adalah program unggulan Presiden Prabowo yang terlalu rapuh. Dengan dana begitu besar, desain program MBG bermasalah...

Beberapa contoh UMKM di NTT yang disebut Kadis Kemenparekraf sebagai salah satu hal yang bisa menarik wisatawan ke NTT (KatongNTT-Ruth)

Program Dukungan UMKM di Daerah Masih Sebatas Jargon

by KatongNTT
13 Oktober 2025
0

Laurensius Bagus, mahasiswa di Universitas Cokroaminoto, Yogyakarta. (KatongNTT) Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah terus menempatkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati