Potret Kesederhanaan Nono, Juara Matematika Dunia dan Kagumi Elon Musk

Nono, bocah dari Buraen Amarasi yang memenangkan lomba hitung cepat matematika dunia dengan sempoa (Ruth-KatongNTT)

Nono, bocah dari Buraen Amarasi yang memenangkan lomba hitung cepat matematika dengan sempoa (Ruth-KatongNTT)

Kupang – Jarinya bergerak lincah seolah sedang memindahkan manik-manik sempoa saat bacaan soal matematika terdengar.

Matanya terfokus pada satu titik. Hanya berselang satu hingga dua detik, jawaban soal dia lontarkan sama persis dengan hasil dari kalkulator.

“10+11+15+17+21+15+17,” sebut penanya.

One Hundred and six (106),” jawabnya dan disambut gemuruh tepukan tangan dari orang sekitar.

*****

Namanya Caesar Archangels Hendrik Meo Tnunay. Biasa disapa Nono.

Anak berusia tujuh tahun asal Buraen, Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, NTT. Putra bungsu dari pasangan Raflim Meo Tnunay dan Nur Yati Ussanak Seran. Nono baru saja menjuarai lomba matematika tingkat dunia. Hall of Fame, Abacus Brain Gym (ABG) 2022.

Baca Juga: Cherilia Bergit Juara Bintang Radio Nasional, Buah Tekun Berlatih Belasan Tahun

Dia awalnya adalah murid binaan Yayasan Pendidikan Astra. Kemudian pada 2021, ia didaftarkan untuk mengikuti kompetisi ABG.

Kompetisi ABG ini juga memberi pelatihan kepada anak untuk mampu menghitung cepat dengan menggunakan sempoa.

“Biayanya kan besar (daftar kompetisi). Tapi Nono akan diberi beasiswa kalau dia punya kompetensi dasar untuk masuk ke sana. Dan Nono selain ikut kompetensi, dapat beasiswa ikut mendapatkan pelatihan sempoa,” ujar Lilik Harjanto, PIC Yayasan Pendidikan Astra. Pada Senin, 16/1/2023.

Pelatihan dilakukan setiap Selasa, dengan menggunakan Zoom. Dengan materi yang berbeda tiap minggunya.

Materi ini yang akan membimbing peserta untuk mengerjakan soal-soal. Di sepanjang tahun. Dan yang menjuarai kompetensi ini ialah dia yang mampu mengerjakan lebih banyak soal.

“Zoom setiap Selasa, satu-satu jam. Jadi cara kerjanya misalnya hari ini ajar rumus baru. Jadi kalau belum paham, berarti tidak ada file yang dikerjakan. Makanya banyak yang tereleminasi. Jadi dalam satu jam rumus yang diajarkan paham, pertama rumus dengan sempoa. Kalau sudah bisa, masuk ke listening dengan sempoa. Kalau sudah bisa, otomatis file ada,” terang Nur.

(Dari kanan ke kiri) Johny Kilapong, pembina Yayasan Generasi Unggul, Nono, istri Johny Kilapong, dan Nur Seran foto bersama saat penyerahan beasiswa untuk Nono (Ruth-KatongNTT)
(Dari kanan ke kiri) Johny Kilapong, pembina Yayasan Generasi Unggul, Nono, istri Johny Kilapong, dan Nur Seran foto bersama saat penyerahan beasiswa untuk Nono (Ruth-KatongNTT)

Nono mulai mengikuti kompetisi ini di Oktober 2021. Ketika ia menginjak kelas 1 Sekolah Dasar (SD) di SD Inpres Buraen 2, dan menjadi peserta termuda.

Namun ia mampu mengejar ketertinggalan dan menyelesaikan soal-soal dari sembilan bulan sebelumnya.

“Saya ini juga tidak pernah tahu bahwa Nono ini didaftarkan ikut lomba. Pikir saya ini untuk tambah saja (belajar) sempoa ini. Nanti sudah masuk 50 besar, baru saya kaget,” kata Nur.

November 2021, Nono berhasil masuk 10 besar. Di penghujung 2021, Nono keluar sebagai juara 3.

Pada 2022, dari kurang lebih 7000 peserta, Nono dinobatkan sebagai juara 1 karena berhasil menyelesaikan 15.201 file soal. Tiap file terdapat 10 soal.

Berarti Nono mengerjakan 152.010 soal di 2022. Baik itu reading maupun listening.

Peringkat 2 dari Qatar dengan hasil akhir 7.506 file. Peringkat 3 dari Amerika, yang mampu mengerjakan 6.138 file.

“Tidak ada yang bantu (kerja soal). Dari pihak penyelenggara juga bilang kami bantu, jadi waktu itu pernah pasang dua kamera supaya bisa lihat siapa yang bantu. Tapi tidak ada. Dia kerja, kami jauh, karena kami tidak mengerti. Apalagi soal listening bahasa Inggris. Kami angkat tangan,” jelas Nur sambil tertawa.

Buah Dari Kerja Keras dan Ketekunan

“Bangun jam 5 pagi. Baca Alkitab, berdoa, mandi pi (pergi) sekolah. Pulang sekolah, kerja file 2 jam. Bermain satu jam. Masuk kerja file sampai malam jam 7,” kata Nono menceritakan kesehariannya.

Walau anak-anak di usianya cenderung senang bermain, Nono justru tanpa paksaan lebih memilih mengerjakan soal.

Skor hasil kerja setiap anak yang selalu diperbaharui setiap saat di laman resmi ABG, membuat daya saing dalam diri Nono terus tumbuh.

“Dia kalau kita keluar (rumah) lama-lama dia sudah minta pulang. Karena bilang nanti ada yang sudah lebih dari dia,” cerita Nur.

Terkait pola makan yang diberikan, Nur mengaku rajin memberi Nono sayur kelor atau marungga. Sebutnya, itu menjadi makanan kesukaan Nono sejak dulu.

“Bukan maksud bagaimana, tapi memang marungga itu sayur kesukaannya dia. Setiap malam dia selalu kasih ingat kakaknya supaya besok buat kasih dia marungga,” cerita Nur.

Hasil yang didapat Nono sekarang berawal dari susahnya dulu memulai pelatihan ini. Nur mengatakan, mereka hanyalah satu keluarga sederhana di Buraen.

Perekonomian masyarakat di NTT memang berat. Provinsi ini menempati urutan ketiga provinsi termiskin tahun 2021-2022.

Baca Juga: Debut Beatrice Consolata Gobang di Carnegie Hall New York: Kado Natal Terindah

Saat awal pelatihan Nono membutuhkan laptop, namun keluarganya tak punya. Belum lagi kualitas jaringan Internet di kampung halamannya yang buruk. Nono kemudian diberi laptop dan penguat jaringan oleh pihak Astra agar bisa mengikuti pelatihan serta kompetisi tersebut.

Nah kami orang Amarasi ini kalau orang sudah kasih kami, kami perasaan. Jadi Nono ini mau kasih yang terbaik supaya dia tidak mengecewakan orang lain,” kata Nur.

Dalam kesederhanaannya, Nono mulai giat mengerjakan soal. Cita-citanya ingin menjadi seperti Elon Musk, CEO Tesla, yang memproduksi mobil sport elektrik yang punya kecepatan tinggi.

Nur, hanya mengaminkan harap putra bungsunya itu.

“Kadang kalau zoom kan kelihatan anak-anak lain punya rumah. Mungkin dari semua peserta, saya punya anak paling sederhana. Dengan rumah mereka yang wow, laptop mereka yang wow, tapi dia bisa menang dalam keterbatasan,” kata Nur dengan setitik air mata yang ikut jatuh.

Atas kerja kerasnya ini, Nono diberi beasiswa oleh Yayasan Generasi Unggul secara penuh. Di SMP dan SMA di Sekolah Generasi Unggul, Kupang, NTT.

Beasiswa yang didapat meliputi biaya sekolah, biaya ekstrakulikuler. Serta tempat tinggal, kebutuhan sekolah, dan kebutuhan makan minum.

“Itu kurang untuk seorang Nono. Sebenarnya kita tidak mau hitung-hitung itu. Karena anak begini, kecil buat dia. Yang paling mahal itu pembentukan karakter dirinya sendiri. Kamu berhak mendapat yang terbaik karena kamu sudah bekerja keras,” kata Johny Kilapong, pembina Yayasan Generasi Unggul.*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *