Quo Vadis Organisasi Mahasiswa di NTT?

Civitas Akademika Fisip Undana berdemo di gedung Rektorat Undana pada Kamis, 17 Februari 2022. (Difan-KatongNTT)

Civitas Akademika Fisip Undana berdemo di gedung Rektorat Undana pada Kamis, 17 Februari 2022. (Difan-KatongNTT)

Oleh: Winsensius, Mahasiswa Politani di Kota Kupang

Organisasi mahasiswa adalah organisasi yang beranggotakan mahasiswa untuk mewadahi bakat, minat dan potensi mahasiswa yang dilaksanakan di dalam kegiatan-kegiatan Kemahasiswaan. Ada berbagai organisasi mahasiswa, baik ii intra kampus, antar kampus, ekstra kampus maupun ikatan mahasiswa kedaerahan yang umumnya beranggotakan lintas atau antar kampus.

Pada dasarnya, organisasi kemahasiswaan adalah wadah mahasiswa berkumpul demi mencapai tujuan bersama, namun harus tetap sesuai dengan koridor AD/ART.organisasi. AD/ART disusun tanpa menghilangkan Tri Darma Perguruan Tinggi yakni daya kritis, selalu berada di garis depan rakyat tertindas, dan tetap berjuang atas nama mahasiswa.

Sejarah Organisasi Mahasiswa
Secara historis organisasi kemahasiswaan di Indonesia lahir sejak tahun 1908 yang dikenal dengan organisasi Budi Otomo karena pendirinya adalah Budi Utomo. Organisasi ini dibentuk untuk menjamin kehidupan Bangsa Indonesia yang terhormat dari belenggu penindasan Bangsa Barat. Organisasi menyebar menjadi luas di era reformasi.

Pada tahun 1922 Mohammad Hatta bersama mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda juga mendirikan sebuah organisasi Indische Vereeniging. Selang beberapa tahun bertepatan pada tahun 1925, organisasi ini berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Tujuan dan arah perjuangannya adalah untuk memajukan kepentingan orang-orang pribumi dan non-pribumi Indonesia. Misi utama dari PI adalah untuk memperoleh kemerdekaan dan mendorong semangat rakyat melalui pendidikan.

Pada pertengahan 1923, segerombolan mahasiswa yang bergabung dalam Perhimpunan Indonesia kecewa dengan perkembangan kekuatan perjuangan Indonesia. Mereka lalu mebentuk dua kelompok organisasi baru yakni Kelompok Studi Indonesia yang dibentuk oleh Soetomo di Surabaya. Kelompok kedua dibentuk di Bandung oleh Soekarno. Lalu dibentuklah juga organisasi PPPI pada 1926 oleh para mahasiswa Sekolah Tinggi Umum di Jakarta dan Sekolah Tinggi Teknik di Bandung. PPPI dibentuk dengan tujuan untuk menghimpun seluruh elemen gerakan mahasiswa yang bersifat kebangsaan.

Dari kebangkitan semangat perjuangan pemuda Indonesia, muncullah generasi baru pemuda Indonesia yang akhirnya mencetuskan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Sikap penguasa Belanda terus menunjukkan liberalismenya maka organisasi diubah menjadi partai politik. Tujuan utama partai politik adalahmemperoleh basis massa yang luas untuk melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Hal Ini demi terwujudnya Kemerdekaan Indonesia. \Organisasi terus dibentuk, perlawanan terus dilakukan oleh para pemuda dan mahasiswa Indonesia terhadap Bangsa Kolonial Penjajah Belanda hingga pada akhirnya terwujudlah cita-cita kemerdekan Indonesia. Berbagai gerakan terus dibentuk untuk menyikapi setiap persoalan-persoalan sosial.

Di zaman Orde Baru dimana bumi pertiwi di porak-porandakan oleh rezim Soeharto, banyak sekali persoalan yang dihadapi oleh rakyat Indonesia baik ekonomi, politik maupun kemanusiaan. Melihat persoalan ini para mahasiswa dan kaum muda mulai menyusun strategi dan gerakan. Gerakan mahasiswa diawali dengan reaksi terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Pada tahun 1998 gerakan sudah mencapai pada tahapan menuntut reformasi dan menumbangkan rezim Soeharto dari jabatannya. Peluru karet, gas air mata terus di kerahkan kepada mahasiswa. Bahkan ada mahasiswa yang diculik dan dibunuh tetapi semangat mereka tidak padam.

Organisasi Mahasiswa Saat Ini
Kita telah melihat bersama bahwa sejarah mencatat begitu banyak sumbangsih organisasi kemahasiswaan terhadap persoalan rakyat dan kepada Negara. Memang benar bahwa peran mahasiswa yang tergabung dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan begitu luar biasa. Tetapi masih ada pertanyaan refleksi untuk mahasiswa. Sudah berhasilkah organisasi kemahasiswaan hari ini terlebih khusus mahasiswa NTT dalam menyikapi setiap persoalan rakyat?

Problematik mahasiswa hari ini lebih dominan memilih jalan untuk menjadi mahasiswa oportunisme yang hanya mementingkan diri sendiri. Mereka mengklaim dirinya adalah generasi milenial yang kerjanya hanya membohongi orang tua. Meminta uang dari orang tua untuk membeli pulsa data agar bisa mengirim pesan, entah sekadar ajak kumpul dan makan-makan, atau jalan-jalan bersama pacar.

Ada mahasiswa yang lebih senang dan bangga jadi juru bicara pada acara-acara TV, mencari pesta, mabuk-mabukan atau duduk manis di pusat perbelanjaan atau di tempat nongkong modern,. Mereka dapat leluasa berbicara tentang artis idola, dunia sepak bola, film populer serta trend atau mode pakaian terbaru. Selain itu, mereka juga suka gosip seperti ibu-ibu arisan ketika ada demo mahasiswa yang memacetkan jalan. Sikap serupa saat mahasiswa berunjuk rasa tuntut upah buruh naik. Naiknya upah supaya para buruh dapat hidup layak.

Ada begitu banyak organisasi-organisasi kemahasiswaan kita temukan. Di NTT sendiri bertabur organisasi mahasiswa, baik organisasi internal kampus, organisasi nasional, organisasi kabupaten bahkan ada juga organisasi-organisasi tingkat kecamatan. Hampir setiap kabupaten atau kota memiliki organisasi kemahasiswaan tetapi eksistensi dan esensi dari setiap organisasi masih menjadi pertanyaan. Slogan mahasiswa sebagai agent of change jauh dari realitas.

Keberadaan organisasi kemahasiswaan hari ini boleh dikatakan luar biasa buruk. Gerakan dari setiap organisasi hanya mengambil momentum, mengambil kesempatan untuk menaikkan nama di mata publik, bahkan partai. Konsistensi gerakan mahasiswa saat ini tidak bisa kita banggakan lagi. Mahasiswa hanya berusaha memenangkan jabatan politik untuk mendapatkan kucuran dana. Kerja mereka hanya kumpul makan dan puas tertawa. Karena mereka berhasil mengelabui para mahasiswa dengan cara politiknya.

Selain itu budaya senioritas juga telah menjadikan organisasi mengalami kemunduran dalam hal berpikir dan berpendapat. Junior hanya  menjadi robot yang hanya diprogram untuk mengangguk dan mengiyakan berbagai pendapat yang diberikan oleh golongan terdahulu. Anggota baru dalam organisasi hanya berpasrah dengan budaya yang dibangun oleh golongan terdahulu, program kerja yang diambil tanpa berpikir progresif.

Budaya perasaan melampaui logika kritis dan ilmiah dan data-data tidak dihiraukan. Setiap anggota selalu ribut dengan budaya-budaya senioritas dan kehormatan diri. Ada mahasiswa senior tapi lagaknya gila hormat seperti bos perusahaan level internasional.

Di wilayah kampus senior kerap diasosiasikan sebagai orang yang wawasannya luas, berpengaruh, kuat, dan tahan banting menghadapi ancaman apa pun. Baik ancaman kampus, mata kuliah yang nilainya rendah maupun laporan yang terus menerus dicoret hingga diperintah mengganti judul atau mengganti pembimbingnya. Senior ini sudah makan asam garam.

Senioritas merupakan peninggalan feodalisme yang dimana mahasiswa atau anggota baru dalam sebuah wadah organisasi harus menghormati segala keinginan mahasiswa yang lebih tua di kampus atau di organisasi walaupun bertolak belakang dengan keinginannya. Hal-hal seperti hanya membuat tindakan-tindakan kekerasan senioritas.

Dampak dari kekerasan-kekerasan inilah yang akan berakibat bagi aktivitas keseharian mahasiswa baru, di antaranya adalah dampak sosial, psikis, bahkan fisik individu. Mahasiswa atau peserta cenderung lebih tertutup terhadap lingkungan sekitar dan pendapat mereka juga tidak tersampaikan dengan sempurna, dikarenakan terpengaruh doktrin yang diberikan oleh senioritas. Bahkan ada mahasiswa mengalami luka-luka, memar, dan menimbulkan bekas di bagian tubuh akibat dari kekerasan itu sendiri.

Di sisi lain, ada pula keaktifan anggota hanya mengambil momentum seremonial belaka dan makan-makan, setelah itu menghilang dan akan muncul kembali pada seremonial selanjutnya. Rapat-rapat dan pertemuan dijadikan sebagai kegiatan rutinitas dan yang menjadi salah satu program tahunan adalah Rapat Umum Anggota atau biasa dikenal dengan RUA. Tetapi itu hanya sebatas acara-acara tanpa ada kajian, analisa dan landasan pergerakan yang jelas.
Begitu minimnya kewarasan beberapa organisasi kemahasiswaan hari ini. Berbicara soal sejarah gerakan mereka paham total tetapi tindakan nyatanya sangat jauh dari apa yang dibicarakan. Bahkan, dalam tiap AD dan ART organisasi pun selalu mencantumkan kata Pancasila dan UUD sebagai landasan namun tidak pernah dipahami apa arti Pancasila dan UUD itu sendiri.

Organisasi kemahasiswaan cenderung tersandera dengan isu-isu para elite yang menyetir media massa nasional. Terkadang ada organisasi kemahasiswaan dijadikan alat bagi para elite untuk memuluskan kepentingan program-program kerja yang tidak membawa kepentingan rakyat sedikit pun.

Prestasi bagi organisasi kemahasiswaan hari ini adalah ketika berhasil membuat kegiatan besar yang jauh dari kepentingan rakyat atau membuat suatu kegiatan dengan mendatangkan artis papan atas. Coba hitung berapa banyak organisasi mahasiswa yang tetap berada di rel awalnya untuk mengasah para intelektual muda yang mampu memperjuangkan kehidupan rakyat dan mengkritisi penguasa?

Pengaruh Kampus Terhadap Mahasiswa
Problem ini bukan hanya terjadi pada tubuh mahasiswa saja, tetapi di lain sisi problem ini lahir dari lembaga-lembaga perguruan tinggi itu sendiri dalam hal ini adalah kampus. Ada beberapa hambatan yang melatari lemahnya mahasiswa akhir-akhir ini, yakni biaya kuliah, ancaman tidak diberikan nilai jika menentang penguasa, masa depan terancam dan juga ancaman akan ketersediaan lapangan kerja. Hal-hal ini membuat mahasiswa cenderung sibuk di kampus, cari muka dengan dosen agar cepat menyelesaikan kuliah dan mendapatkan pekerjaan.

Proses perkuliahan hanya bisa dilalui dengan cara datang, duduk, dengar lalu pulang. Tidak ada yang terlambat masuk kelas dan tak ada yang tertinggal ketika pulang. Ruang-ruang kampus makin dipadati oleh mahasiswa tetapi tidak pernah membicarakan persoalan rakyat. Mahasiswa hanya bisa menunggu dosen untuk terima materi kuliah.

Ada kampus yang penjaga kampus (satpam) berlagak seperti polisi lalu lintas. Ketika ada mahasiswa yang mau masuk kampus malah ditahan dan disuruh pulang jika tidak memiliki perlengkapan kendaraan.

Selain itu, ketika ada mahasiswa yang berdiskusi untuk membicarakan kepentingan mahasiswa terkadang malah diusir oleh satpam. Hal ini telah membuat wilayah kampus menjadi seperti kantor kepolisian.

Ada begitu banyak persoalan sosial yang dihadapi oleh masyarakat tetapi kampus tidak memberikan ruang yang bebas kepada mahasiswa untuk berdiskusi dan menyikapi setiap persoalan tersebut. Betapa bahayanya kalau kampus tidak mengenalkan keadaan dan persoalan rakyat di sekitar lingkungan sosial masyarakat kepada Mahasiswa.

Kampus sekarang ini hanya mengajarkan kepada mahasiswa untuk bagaimana menumpuk uang dengan mencari peluang agar bisa cepat kaya. Menariknya lagi ada lembaga kampus mirip dengan lembaga sekolah dasar tetapi lebih bebas dari anak TK yang punya peraturan tata-tertib lengkap.

Ada aturan tentang batas waktu kuliah, kebijakan tentang sistem pembayaran, soal berpakaian harus yang sopan dan rapi, kedisiplinan mahasiswa selalu di pantau, dikontrol pikirannya setiap saat. Kampus seperti ruang kendali keamanan. Hal seperti inilah yang membuat kita jadi bangsa yang berhenti di tempat apalagi provinsi NTT yang dari dulu sampai sekarang hanya begitu-begitu saja.

Kembali Ke Jalan Perjuangan
Mahasiswa harus belajar dari perjuangan gerakan mahasiswa pada masa sebelumnya. Mahasiswa harus bersikap tegas dengan berbagai kajian dan tidak hanya riuh dengan selebrasi politik. Mahasiswa harus mampu melakukan berbagai kajian, menganalisa setiap persoalan rakyat. Mahasiswa dapat membentuk media propaganda seperti koran, jurnal dan tulisan-tulisan opini untuk memperkuat argumen dan memperluas kesadaran massa.

Mahasiswa tidak boleh hanya menekuni mata kuliah atau jurusan yang diambil saj. Jauh daripada itu mahasiswa harus menjunjung tinggi status kemahasiswaannya yang berani menentang segala bentuk penindasan. Mahasiswa melawan segala macam sistem penjajahan dalam bentuk apapun baik imperialisme, feodalisme, liberalisme maupun kapitalisme.

Ingatlah bahwa Ir. Soekarno seorang ilmu teknik bukan hanya membangun gedung saja tetapi membangun jiwa rakyat yang rapuh tertindas. Ingatlah juga bahwa kemerdekaan negara ini diproklamasikan oleh dua tokoh mahasiswa yaitu Soekarna dan Soeharto, bukan para elite politik atau kaum pemodal. Belajarlah dari Videl Castro yang berlatar pendidikan hukum yang penentang rezim Batista hingga mundur dari jabatan kepresidenan. Che Guevara seorang dokter yang menjadi tokoh revolusioner.

Buanglah semua budaya lama yang sudah basi termakan waktu. Jauhkan diri dari sisa-sisa karakter Orde Baru karena mahasiswa punya agenda yang lebih besar. yang harus dituntaskan demi terciptanya keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mahasiswa harus melewati tahapan-tahapan penting, mempelajari teori-teori yang dianggap bisa menjadi pedoman gerakan progresif. Organisasi-organisasi Kemahasiswaan, ruang ruang ilmiah, ladang idealisme berhaluan kiri, mempunyai gagasan, mobilisasi massa dan kaderisasi kepemimpinan yang baik. Organisasi yang dibutuhkan adalah organisasi yang memiliki program, strategi dan taktik yang jelas sampai pada tahapan isu dan tuntutan.

Kampus-kampus harus menjadi tempat untuk menanam ide-ide segar dan menantang. kampus harus memberi ruang untuk menempa kader-kader militan. Saatnya kampus mengembalikan peranannya seperti sediakala, diawali dengan dukungan agar mahasiswa terlibat dalam organisasi-organisasi.

Biarkan mahasiswa mengunjungi yang miskin dan selalu terlibat dengan rakyat yang sedang mempertaruhkan nyawa untuk membela hak miliknya. Tri Darma Perguruan tinggi harus dijunjung tinggi, sehingga pada akhirnya mahasiswa tidak hanya menjadi sarjana. Lebih dari itu, sosok mulia di mana mereka mau mengorbankan diri untuk kepentingan yang lebih besar ketimbang diri sendiri. *****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *