Sampah di Pasar Oesapa Menumpuk, Begini Curhat Petugas Oranye

Sampah di pinggir jalan pantai Oesapa menumpuk. Tumpukan sampah itu dimakan gerombolan kambing (KatongNTT/Joe)

Kendaraan roda dua dan roda empat lalu lalang melewati tumpukan sampah di Pasar Oesapa, Kota Kupang, NTT. Para pejalan kaki cuek melintasi tumpukan sampah yang mengeluarkan bau tak sedap.

Tepat di depan area kuliner pantai Oesapa, sampah menumpuk di tepi badan jalan Pasar Oesapa pada Rabu siang, (19/1/2022). Gerombolan ternak kambing melahap sampah sisa makanan dan sayur-sayuran di antara tumpukan sampah.

Kehadiran hewan ternak itu menutupi badan jalan seluas kurang lebih 2 meter. Kendaraan yang lewat harus mengurangi kecepatan untuk menghindari terjadi kecelakaan.

Di sekitar area Pasar Oesapa tidak terlihat bak sampah. Hanya tampak potongan-potongan kayu disusun persegi panjang dengan bagian depan terbuka sebagai pengganti bak sampah.

Tumpukan sampah sudah meluber berceceran di tepi jalan sepanjang kurang lebih 10 meter.

Paulus Bria, petugas kebersihan menyebutkan, sampah di Pasar Oesapa menumpuk karena bercampur dengan sampah yang dibuang warga di sekitar pasar.

“Ini sampah bukan dari pasar saja. Dari kilo 10 datang buang disini. Dong (mereka-red) mau buang kemana. Terpaksa datang buang disini sudah,” kata Paulus.

Paulas beberapa kali mendatangi lokasi itu untuk membuang sampah dari dalam pasar Oesapa menggunakan karung.

Pukul 14. 41 WITA, truk pengangkut sampah tiba di lokasi. Seorang pria turun dari truk dengan bak warna kuning. Petugas oranye ini turun dan mengingatkan jaket oranyenya pada pinggangnya.

Pintu belakang truk kemudian dibuka. Dia perlahan berjalan menengok tumpukan sampah di Jalan Oesapa lalu melewatinya menuju kios.

Gerombolan kambing yang sedari tadi asik menikmati sisa-sisa sayuran tidak beranjak. Gerombolan itu tetap berusaha mendapatkan makanan.

Beberapa kantong plastik dan karung berisi sampah dibuang oleh petugas itu ke dalam truk. Pada jam 15.00 WITA petugas itu berhenti mengangkut.

Tidak lama, sepasang pria dan wanita mengendarai sepeda motor Versa berhenti di lokasi tumpukan sampah. Terdengar teriakan petugas kebersihan menyuruh wanita yang membawa sampah itu menaruhnya di atas truk.

Setelah beristirahat, petugas oranye itu melanjutkan aktivitasnya. Ia naik ke atas truk dan merapikan tumpukan sampah. Pria bernama Anus Seran alias Nius kemudian berjalan menghampiri tiga rekan kerjanya.

Nius menuturkan, lokasi itu memang khusus untuk sampah-sampah dari dalam pasar Oesapa. Masalahnya, warga sekitar juga membuang sampah di lokasi itu. Akibatnya sampah menumpuk dan melebihi bak sampah darurat.

“Kalau sampah dari pasar saja tidak menumpuk. (Warga) sepanjang Pasar Oesapa ini buang sampah disini. Jadinya menumpuk,” ujar Nius.

Petugas oranye lainnya bernama Frid Hailiti menjelaskan, dia merupakan satu dari 8 orang yang tergabung dalam grup siaga 3. Kendaraan operasional mereka sementara dalam kondisi rusak.

Mereka terpaksa menggunakan truk kelompok lain, namun harus menunggu sampai kerja kelompok tersebut selesai.

Frid menilai, masyarakat bersikap acuh dengan pengelolaan sampah. Sampah yang seharusnya dipilah pun dicampuradukkan. Meski sudah ada imbauan berungkali.

“Kadang mereka datang dengan motor langsung buang saja dari atas motor. Biar ada bak sampah juga mereka buang di luar bak sampah,” kata Frid.

Tumpukan sampah di Pasar Oesapa sangat menggangu pemandangan. Apalagi dekat lokasi itu jadi salah satu tempat wisata favorit warga kota Kupang.

Waktu buang sampah sebenarnya sudah diatur. Frid mengatakan, waktu untuk buang sampah di Kota Kupang dari jam 5 sore sampai jam 5 pagi. Namun kenyataan, warga tidak pernah menaatinya.

“Sampah ini tidak bisa diangkut satu kali. Harus dua kali angkut,” kata Frid.

Di tepi pantai Oesapa, sampah juga banyak berserakan. Mulai dari sampah plastik hingga kulit jagung. Tidak ada yang peduli dengan tumpukan sampah di bibir pantai itu. (k-04)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *