Sejak Januari, Diperkirakan 200 PMI Ilegal Gagal Diselundupkan ke Australia

Kupang – Kekurangan tenaga kerja di Australia ternyata menjadi peluang pengiriman pekerja migran Indonesia (PMI) secara ilegal. Sejak Januari 2022, sekitar 200 calon PMI batal diberangkatkan secara ilegal dari sejumlah wilayah di Indonesia. Terakhir, pengiriman 26 PMI digagalkan Polisi Air dan Udara (Polairud) Nusa Tenggara Timur (NTT).

Informasi yang dikumpulkan KatongNTT.com, Rabu (20/4/2022), menyebutkan keberangkan calon PMI itu digagalkan di sejumlah pelabuhan atau jalur tikus dari penyelundup. Rangkaian gagalnya pengiriman itu menunjukkan gelombang penyelundupan ke Australiua cukup tinggi.

Pada 6 Januari 2022 lalu, Kementerian Ketenagakerjaan melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap 61 calon PMI dengan indikasi non prosedural di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Mereka berasal dari perusahaan penyalur PT TBN, dengan rencana penempatan negara Australia sebagai pekerja pekerja pemetik apel. Mereka kebanyakan berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten. Saat itu mereka diamankan di Balai Besar Pengembangan Pelatihan Kerja (BBPLK) Cevest, Bekasi, Jawa Barat. Dalam perkembangannya, jumlah yang diamankan Kemnaker ternyata meningkat hingga 80 calon PMI. Mereka kemudian dipulangkan pada Selasa (11/1/2022).

Di sisi lain, Kemnaker tetap memproses hukum pelaku yang terlibat dalam proses penempatan CPMI/PMI secara nonprosedural baik secara administrasi maupun pidana. Beberapa hari kemudian, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertras) Jawa Timur telah memulangkan sebanyak 17 PMI ilegal asal Jatim yang gagal berangkat ke luar negeri. Salah satu tujuannya juga ke Australia. 

Pada Maret 2022 upaya penyelundupan 25 calon PMI asal Kabupaten Lebak, Banten, digagalkan. Para calon PMI hendak diselundupkan ke Australia.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Lebak Tajudin Yamin mengatakan upaya penyelundupan itu terjadi pada awal 2022. Mereka diamankan ketika sedang berkumpul di Bekasi bersama 95 orang lainnya.

“Hampir menjadi korban penyalur pekerja migran ilegal. Ada 120 orang dari berbagai daerah, 25 orang di antaranya dari Lebak,” ujar Tajudin kepada sejumlah media, Rabu (23/3/2022).

Rencananya, 25 orang tersebut akan dipekerjakan di salah satu perkebunan buah. Ketika ditelusuri, perusahaan penyalur tersebut tidak mempunyai dokumen yang lengkap. Dokumen itu seperti surat rekomendasi palsu dan visa yang digunakan pun merupakan visa turis, yang aktif selama 12 hari.

“Jadi, ketika diperiksa, mereka mempunyai dokumen legal. Rekomendasinya dari wilayah lain, bukan dari sini. Visanya pun pakai visa turis, cuma 12 hari. Kalau visa habis, harus dideportasi. Mau bekerja juga kucing-kucingan,” jelasnya.

Terakhir, sebanyak 26 calon PMI ilegal ditangkap di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) jajaran Polisi Air dan Udara (Polairud) Polda NTT yang hendak diselundupkan ke Australia. Para WNI dari berbagai daerah di Indonesia itu dijanjikan Suwito (42) warga Kelurahan Ubung, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali untuk bekerja di perkebunan di Australia dengan gaji sekitar Rp 30 juta per bulan. Mereka diamankan di Pelabuhan Ojek, perairan Pulau Semau, Kabupaten Kupang, NTT bersama kapal saat hendak berlayar melalui jalur tikus ke Australia.

Direktur Polairud Polda NTT Kombes Nyoman Budiarja mengatakan, penangkapan 26 orang ini dilakukan pada 11 April 2022 sekitar pukul 23.35 WITA. Selain menangkap Suwito, ikut diamankan 26 WNI yang merupakan calon PMI.

Barang bukti yang diamankan jelas Nyoman, sebuah kapal motor nelayan Sahrul Zaidang GT 22, uang tunai Rp 20 juta, satu mesin penghitung uang dan dua ponsel. [K-03]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *