Stunting Manggarai Timur Tersisa 9,6 Persen, Efektifkah Aksi Konvergensi?

Ilustrasi stunting (Ist)

Kupang – Bupati Kabupaten Manggarai Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Andreas Agas mengatakan jumlah anak yang mengalami stunting di daerah itu tersisa 9,6 persen dari sebelumnya 11, 6 persen dengan total 2.766 anak. “Upaya mencegah adanya penambahan jumlah anak stunting terus dilakukan pemerintah Kabupaten Manggarai Timur sehingga saat ini tersisa 9,6 persen,” kata Bupati Kabupaten Manggarai Timur Andreas Agas di Kupang, Rabu (7/12/2022).

Dia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur di Pulau Flores itu menargetkan jumlah anak yang stunting tersisa lima persen pada 2024. Pada tahun 2021 balita stunting sebanyak 13,7 persen, menurun dari 18,7 persen pada tahun 2019.

Dikatakan, merawat ibu hamil sejak dini menjadi hal yang utama dalam mencegah anak yang mengalami stunting. Para ibu-ibu hamil diberikan makanan tambahan, vitamin serta pemeriksaan rutin di puskesmas dan posyandu. “Kami sudah melakukan gerakan orang tua asuh untuk merawat anak-anak yang mengalami stunting. Gerakan itu dilakukan semua pihak berupa pemberian makanan tambahan (PMT),” ujarnya.

Baca : Klaim Stunting Menurun, Pemkab Manggarai Timur-NTT Butuh Dukungan

Andreas juga mengatakan sudah memberikan instruksi kepada semua kepala desa untuk mengalokasikan dana desa sebesar delapan persen. Dana itu untuk PMT bagi anak-anak balita serta ibu-ibu hamil dalam mencegah kasus stunting. “Ada anak dari pegawai yang masuk dalam kategori stunting. Anaknya diasuh oleh neneknya saat orang tua pergi bekerja akibatnya pola asuh dilakukan neneknya tidak memadai sehingga kebutuhan gizi anak terabaikan,” kata Andreas.

Sebelumnya, seperti ditulis Antara, Pemkab Manggarai Timur juga mencanangkan berbagai aksi konvergensi percepatan penurunan stunting di wilayah tersebut. Adapun aksi konvergensi percepatan penurunan stunting diantaranya peningkatan kualitas penyiapan kehidupan berkeluarga, penjaminan pemenuhan asupan gizi, dan memperbaiki pola asuh. Selain itu pemerintah daerah juga melakukan peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan serta peningkatan akses air minum dan sanitasi.

Dalam siaran pers belum lama ini Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyampaikan hasil survey Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, Manggarai Timur menjadi salah satu dari lima Kabupaten di NTT yang masuk dalam 10 besar daerah yang memiliki prevelensi stunting tertinggi di Indonesia bersama Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Alor, dan Sumba Barat.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Manggarai Timur Boni Hasudungan Siregar kepada KatongNTT.com pernah menjelaskan pihaknya terus menggiatkan program mengatasi stunting secara merata. Beberapa diantaranya adalah penyuluhan dan edukasi kepada keluarga serta calon suami-istri dan PMT bergizi pada bayi usia 1000 hari pertama (bawah dua tahun/baduta).
Dia mengakui kemampuan pihaknya masih sangat terbatas. Untuk itu, diperlukan berbagai dukungan sehingga program edukasi terus meningkat. Pihaknya tengah menjajaki peningkatan asupan protein dengan mengoptimalkan bahan pangan lokal. [K-02]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *