Virus ASF Serang Ternak Babi di Timor dan Flores, Peternak Diimbau Waspada

Sina Kleden mengatakan penyakit ASF merupakan penyakit yang menyerang ternak babi dengan tingkat kesakitan dan kematian mencapai 100 persen.

Yunus Mbura (paling kanan) peternak babi di Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur menjelaskan tata cara pemelihraan babi yang benar (Agrifood.id)

Yunus Mbura (paling kanan) peternak babi di Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur menjelaskan tata cara pemelihraan babi yang benar (Agrifood.id)

Kupang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) melarang lalu lintas ternak babi yang dibawa warga dari luar daerah untuk mencegah penyebaran virus demam babi Afrika (African Swine Fever/ASF) di daerah itu.

“Setiap warga dilarang keras membawa babi hidup, daging babi yang mentah, dimasak, maupun olahan dalam bentuk sei, sosis, bakso, kerupuk kulit, dan lain-lain dari wilayah lain ke wilayah Flores Timur,” kata Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Flores Timur Sebast Sina Kleden seperti dilansir Antara di Kupang,

Larangan tersebut untuk menyikapi kondisi akhir-akhir ini menyusul kematian babi secara sporadis di Flores Timur. Kematian babi ini diduga  disebabkan virus ASF maupun penyakit menular lainnya yang tidak spesifik.

Sina Kleden mengatakan penyakit ASF merupakan penyakit yang menyerang ternak babi dengan tingkat kesakitan dan kematian mencapai 100 persen.

Baca juga: Cegah ASF Kembali Meluas, Lembata Larang Masuk Babi dan Produk Olahannya

Menurut Sina, belum ada obat ataupun vaksin untuk menyembuhkan maupun mencegah penyakit ASF. Sehingga pihaknya mengambil langkah strategis berupa larangan lalu lintas ternak babi maupun produk berbahan dari luar daerah.

Selain itu, warga juga dilarang mendistribusikan daging babi yang berasal dari babi sakit ataupun mati akibat penyakit.

“Warga juga dilarang memberi makan ternak babi dari sisa-sisa makanan atau bekas cucian yang mengandung babi,” katanya.

Sina Kleden menambahkan gejala klinis penyakit ASF yang perlu dipahami warga. Seperti panas tinggi, kulit memerah, kadang disertai muntah, diare, keluarnya darah dari mulut dan hidung. Sedangkan, proses penularan terjadi melalui kontak langsung dengan babi peliharaan, binatang dan serangga, pakaian dan alas kaki, peralatan kandang, kendaraan, pakan yang terkontaminasi.

Pemerintah Kabupaten Kupang juga mengingatkan para peternak agar waspada dengan peningkatan wabah penyakit yang mematikan ternak babi.

“Para peternak di Kabupaten Kupang untuk meningkatkan kewaspadaan,” kata Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kupang Alexander M Matte di Kupang, Selasa, (17/1/2023).

Baca juga: Pengiriman Sapi dari NTT Menurun Drastis

Dalam radiogram Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kupang bertanggal 12 Januari 2023, yang ditujukan masyarakat, memuat 6 hal.  Pertama, masyarakat diimbau untuk tidak membeli ternak babi, daging babi, dan produk olahannya dari wilayah yang belum diketahui status kesehatan ternak dan produk olahannya.

Kedua, masyarakat diminta untuk tidak membuang ternak yang mati di kali, laut atau tempat terbuka. Tetapi jasad hewan harus dikubur untuk memutus penularan penyakit.

“Apabila ada kejadian ternak mati atau sakit agar segera menginformasikan kepada petugas kesehatan di pusat kesehatan hewan terdekat,” kata Alexander.

Radiotelegram Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kupang Alexander M Matte atas merebaknya virus ASF yang mengancam ternak babi di NTT. (Istimewa)
Radiotelegram Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kupang Alexander M Matte atas merebaknya virus ASF yang mengancam ternak babi di NTT. (Istimewa)

Kemudian, masyarakat diimbau untuk melaporkan ternak yang sakit dan mati kepada petugas puskeswan di di wilayahnya. Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitar kandang dengan menggunakan disinfektan.

Masyarakat diimbau untuk memberikan pakan bernutrisi dan vaksin secara rutin untuk meningkatkan daya tahan tubuh ternak babi. Membatasi akses keluar masuk orang ke dalam kandang babi.  Disinfeksi kepada orang yang keluar masuk kandang.

Baca juga: Cegah PMK, Gubernur NTT Larang Masuk Hewan Ternak dan Produk Turunannya

Kematian mendadak ternak babi terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Kupang . Masih belum diketahui pasti penyebabnya.

Akhir pekan lalu, Pemerintah Kabupaten Lembata  sudah melarang warga untuk membawa ternak babi dari luar masuk ke daerah itu untuk mencegah penyebaran penyakit ASF. Para peternak di daratan Flores pun kembali memperketat pengawasan untuk mencegah wabah yang merebak sejak awal 2020 lalu.

“Dilarang keras membawa ternak babi dan produk babi berupa daging babi, sei, dendeng, sosis, roti babi, ataupun olahan daging babi lainnya dari luar Kabupaten Lembata,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata Kanisius Tuaq.

Pihaknya, kata dia, mengetahui kematian babi disebabkan penyakit ASF kembali marak sejak awal tahun 2023 di Maumere (Kabupaten Sikka). Kemudian ditemukan juga di Larantuka dan Pulau Adonara di Kabupaten Flores Timur, Kota Kupang, dan daratan Pulau Timor. [K-02]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *