• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Senin, Maret 9, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Sorotan

Warga 5 Desa di TTS Pakai Lampu Minyak Puluhan Tahun, Rindukan Listrik

Rita Hasugian by Rita Hasugian
5 tahun ago
in Sorotan
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Warga-5-Desa-di-Kabupaten-TTS-dampingi-Tim-survei-PLN-Wilayah-Kupang-NTT (Gi-KatongNTT.com)

Warga-5-Desa-di-Kabupaten-TTS-dampingi-Tim-survei-PLN-Wilayah-Kupang-NTT

0
SHARES
394
VIEWS

Warga di 5 desa di Kecamatan Santian, Kabupaten TTS (Timor Tengah Selatan), Provinsi Nusa Tenggara Timur selama puluhan tahun hidup tanpa listrik. Mereka mengandalkan lampu minyak tanah.

Kelima desa tanpa listrik itu adalah Desa Santian, Poli, Manufui, Naifatu, dan Desa Nenotes.

BacaJuga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

3 Maret 2026
Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

18 Agustus 2025

Masyarakat di lima desa itu sangat merindukan penerangan listrik seperti desa-desa lain di Kabupaten TTS.

Untuk mewujudkan kerinduan itu, tokoh adat, tokoh masyarakat dan lima kepala desa di Kecamatan Santian sepakat mendatangi PLN Wilayah Kupang pada Maret 2021. Mereka mengajukan permohonan Perluasan jaringan listrik di 5 desa tersebut.

Kepala Desa Nenotes, Yehesben I Tloim, Kepala Desa Santian Nahum B Nokas, Kepala Desa Poli Lamech Afi menjelaskan upaya mereka itu kepada KatongNTT di Soe, Senin 23 Agustus 2021.

Menurut Kades Nenotes Yehesben, PLN Wilayah Kupang baru melakukan survei perluasan jaringan pada 19 hingga 22 Agustus 2021.

“Kami bersyukur karena sudah ada survei dan kami berharap setelah itu secepatnya melakukan perluasan jaringan karena kami sangat rindu,” kata Yehesban.

Menurut dia, masyarakat hanya memakai lampu minyak tanah sebagai pengganti listrik. Walaupun ada masyarakat yang memakai genset dan tenaga surya, tetapi itupun pengadaan sendiri.

Kepala Desa Santian Nahum B Nokas mengatakan, PLN akan melanjutkan kerjanya setelah survei pekan depan.

“Kami memang rindu listrik. Kami datangi PLN Wilayah Kupang pada Maret 2021 dan baru di survei pada Agustus 2021,” ujar Nahum.

“Kami berharap setelah survei sudah bisa lakukan perluasan,” ujar dia.

Anggota DPRD TTS, Askenaz Afi menjelaskan, perluasan jaringan untuk Desa Poli disambung dari jaringan listrik Fotilo Amanatun Utara. Wilayah ini tidak memiliki kawasan hutan, sehingga tidak ada kendala.

Untuk Desa Santian dan Naifatu, jaringan listrik disambungkan dari Desa Poli dan Manufui. Sebab kedua desa tersebut berada di pusat kota Santian yang tidak berbatasan dengan kecamatan lain.

Desa Nenotes, jaringan listrik dapat diambil dari Desa Suni, Kecamatan Noebana yang berlereng. Desa Manufui berada di hutan adat, tetapi jaringan tidak melintasi hutan tersebut.

“Ada belasan keluarga yang berada di dalam hutan adat. Namun untuk perluasan di-pending dulu, agar pastikan dulu jika melintas hutan adat tidak ada persoalan,” pungkas Askenaz. (Gi)

Tags: #hutanadat#Kabupatentts#Lampuminyaktanah#Listrik#PTPLN
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

by Yanti Mesak
3 Maret 2026
0

Untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577 yang dimulai pada 17 Februari 2026 dan berakhir pada 3 Maret 2026, keluarga Frans...

Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

by Difan Fandi
18 Agustus 2025
0

Desa Natarmage - Pagi itu, saya berangkat dari Desa Pruda menuju Natarmage, Kecamatan Waiblama, untuk mengikuti perayaan HUT RI ke-80...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati