Warga Manggarai Timur Diimbau Tidak Konsumsi Produk Olahan Babi

“Kami berharap masyarakat Kabupaten Manggarai Timur untuk sementara ini tidak membeli ternak babi dan produk olahan, seperti se’i babi maupun sosis daging babi dan pentolan daging babi.”

Tim Dinas Peternakan Provinsi NTT mengambil sampel darah babi milik peternak babi di Naibonat Kabupaten Kupang pada Januari 2023. (Dok Dinas Peternakan NTT)

Tim Dinas Peternakan Provinsi NTT mengambil sampel darah babi milik peternak babi di Naibonat Kabupaten Kupang pada Januari 2023. (Dok Dinas Peternakan NTT)

Kupang – Warga diimbau tidak membeli ternak, daging, dan produk olahan babi seperti se’i dari wilayah yang belum diketahui status kesehatan ternak. Hal ini untuk mencegah penularan virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika semakin meluas.

Begitupun, konsumsi daging ternak yang terkena virus ASF aman karena virus tidak menular ke manusia.

“Kami berharap masyarakat Kabupaten Manggarai Timur untuk sementara ini tidak membeli ternak babi dan produk olahan, seperti se’i babi maupun sosis daging babi dan pentolan daging babi. Ini guna mengantisipasi penyakit babi ASF yang sedang terjadi di beberapa daerah di pulau Flores,” kata Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai Timur Maximus Jujur Nohos, Rabu (18/1/2023).

Baca juga: Babi Bantuan Kementerian Pertanian untuk NTT Diduga Terjangkit Virus ASF

Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, seperti ditulis Antara, melalui Dinas Peternakan telah menerbitkan surat imbauan kepada warga daerah itu dengan nomor Disnask.524/49/I/2023 tanggal 18 Januari 2023.

Menurut Maximus pencegahan masuknya virus ASF dengan tidak membuang bangkai babi mati ke sungai atau laut maupun tempat terbuka. Warga juga diminta untuk tidak memotong atau menjual daging babi yang sakit kepada masyarakat. Hal ini  dapat menyebarkan penyakit.

Dia juga mengatakan para peternak babi untuk tidak memberikan makanan babi dari sisa-sisa makanan atau limbah bekas cucian daging babi. Ini karena dapat menyebarkan penyakit.

Kementerian Pertanian memastikan ASF tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat. ASF bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis). Jadi produk babi dipastikan tetap aman untuk konsumsi.

Baca juga: Cegah ASF Kembali Meluas, Lembata Larang Masuk Babi dan Produk Olahannya

“ASF pun tidak dikategorikan sebagai penyakit zoonosis atau penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Produk babi dipastikan tetap aman untuk konsumsi,” demikian dikutip dari pertanian.go.id.

Seperti dikutip dari laman Kementerian Pertanian RI, ASF jadi ancaman terhadap populasi babi di Indonesia yang mencapai 8,5 juta ekor.  Merebaknysa flu babi di Kupang ini sebenarnya bukan yang pertama kali. Pada Februari 2021 lalu, ribuan babi di NTT dilaporkan mati akibat ASF. Hal yang sama juga pernah terjadi pada tahun 2020 lalu. [K-02]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *