Bali – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan atau Basarnas mengadakan pelatihan dalam penanganan kedaruratan gempa berskala internasional. Pelatihan ini diselenggarakan di Bali, Denpasar pada 4-9 September 2022.
Pelatihan bertajuk International Search and Rescue Advisory Group Asia-Pacific (INSARAG) Regional Earthquake Response Exercise (AP ERE) 2022melibatkan ratusan delegasi. Mereka berasal dari dalam negeri di antaranya BNPB, Kementerian Luar Negeri, TNI, Polri, dan stakeholder lainnya.
Delagasi dari luar di antaranya Australia, Singapura, Amerika, Jepang, Malaysia, Bangladesh, Fiji, New Zeland, Pakistan, Filipina, Korea, Samoa, Sri Lanka, Mongolia, Nepal, dan Kanada. negara-negara ini dilalui oleh rangkaian gunung berapi.
Kepala Basarnas, Henri Alfiandi menyebut, pelatihan ini guna memperkuat kapasitas pola komunikasi tiap negara dalam merespons gempa maupun bencana lainnya. Gempa dan bencana berpotensi merusak. Pelatihan ini juga untuk meningkatkan sistem bantuan antarnegara saat tanggap darurat bencana.
“Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kesiapsiagaan dan koordinasi tanggap darurat secara nasional maupun internasional. Ini dalam rangka merespons dengan cepat saat terjadi kedaruratan yang tidak terduga,” jelasnya.
Ahli mitigasi, Vian Feoh, yang hadir dalam kegiatan itu menyebut, pelatihan ini menjadi penting karena ketika terjadi bencana, maka sudah menjadi peristiwa kemanusiaan. Berarti sudah melampaui batas negara, etnis, suku, dan bangsa. Sehingga kerja sama dan gotong royong di antara negara yang berkepentingan perlu ditingkatkan.
Terkait pola komunikasi tanggap bencana yang selama ini diterapkan di Indonesia, menurut Vian tiap tahun mengalami peningkatan. Namun masih ada beberapa wilayah yang masih sulit komunikasinya. Misalnya di NTT. Badai Seroja yang menerjang NTT pada 4 April 2021 lalu menjadi bukti nyata lemahnya sistem komunikasi tanggap bencana di Indonesia.
“Di NTT itu sulit komunikasi (ketika bencana). Dampaknya korban semakin banyak. Misalnya peristiwa Seroja tahun lalu, tampak sekali bagaimana komunikasinya sangat lambat sehingga publik nasional itu tahunya bencana di Flores Timur. Padahal Belu, Kota Kupang sendiri itu ada korban. Ini terjadi karena kurang koordinasi yang maksimal antara Badan penanggulangan bencana daerah dengan pusat,” jelasnya ketika dihubungi pada Senin, 4/9/2022.
Oleh sebab itu ia berharap lewat pelatihan tahunan ini, komunikasi tanggap bencana di Indonesia bisa diintensifkan.
“Terus juga untuk di daerah budgetnya dinaikkanlah, budgetnya rendah banget itu,” ujar Vian.*****




