• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Kamis, April 16, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Bisnis Agribisnis

Minat Tempe dan Tahu Meningkat, Manggarai Kesulitan Kedelai

Tim Redaksi by Tim Redaksi
5 tahun ago
in Agribisnis, Bisnis
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Pekerja-membuat-tempe-dan-tahu-di-Kabupaten-Manggarai-NTT (Dok. Agrefood)

Pekerja-membuat-tempe-dan-tahu-di-Kabupaten-Manggarai-NTT (agrefood)

0
SHARES
112
VIEWS

Produsen tempe di wilayah Cancar, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mengeluhkan harga kedelai yang cenderung meningkat. Hal itu menyebabkan usaha tempe dan tahu semakin sulit berkembang.

Menariknya, tempe dan tahu semakin diminati masyarakat lokal dan perlahan-lahan dianggap identik dengan kesejahteraan.

BacaJuga

Produk olahan hasil laut NTT oleh UMKM CV Elitism di Kupang Exotic Festival 2025 di halaman kantor Gubernur NTT, 26 Juni 2025. (Rita Hasugian/KatongNTT)

UMKM NTT Mulai Olah Hasil Laut Jadi Produk Unggulan

29 Juni 2025
Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

12 September 2024

Kondisi tersebut disampaikan Yohanes Mbot, salah satu produsen tempe di Cancar yang sudah beroperasi sejak 3 tahun lalu.

Dia memilih membangun usaha tersebut dan harus meninggalkan pekerjaannya di Ubud, Bali

Namun, usahanya berhenti sementara sejak dua bulan lalu karena kesulitan pasokan kedelai.

“Kalaupun ada, harganya sangat mahal sehingga tidak menutupi biaya operasional. Kecuali ada insentif buat usaha kecil dan menengah mungkin bisa saja bertahan,” ujar jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini kepada Agrifood.id, pekan lalu.

“Jika usaha kami berhenti berarti ada dua tenaga kerja yang lain juga menganggur.”

Jo, demikian panggilannya, mengakui kenaikan itu sebenarnya imbas dari harga yang melonjak di Surabaya dan Pulau Jawa secara umum. Sayangnya, produksi kedelai lokal masih sangat minim.

Menariknya, lanjut dia, konsumsi makanan ini di wilayah Cancar dan Ruteng terus meningkat. Makanan ini sudah identik dengan tingkat kesejahteraan dan cukup bergengsi.

“Saya survei dan kebutuhannya cukup tinggi sehingga kami memulai usaha pembuatan tempe. Awalnya harga kedelai hanya Rp 400.000 per karung (50 kg), dan sekarang sudah mencapai Rp 600.000,” kata penghubung Himpunan Alumni (HA) IPB NTT untuk wilayah Manggarai ini.

Jo sendiri sudah berusaha membudidayakan kedelai lokal, namun keterbatasan modal dan lahan, membuat dirinya belum bisa bergerak.

Langkah mengajukan kredit usahanya pun masih tersendat dari perbankan, meskipun semua cicilan sebelumnya berjalan lancar.

Selain di Cancar, Manggarai, kesulitan kedelai juga dialami oleh pengrajin tempe di Labuan Bajo sejak April lalu.

Sejumlah media mengabarkan UKM industri rumah tangga seperti tahu dan tempe di ujung barat Pulau Flores, Kabupaten Manggarai Barat, mengalami kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku.

Pengrajin tahu dan tempe Erseb Sudiono di Desa Golo Bilas Kecamatan Komodo mengakui kesulitan kacang kedelai.

Pasokan kedelai lokal masih sangat minim sehingga lebih banyak mendatangkan dari wilayah Surabaya, Jawa Timur.

Pada Mei lalu, harga kacang kedelai naik dari rata-rata Rp13.000 menjadi Rp 16.00 per kilogram. (https://agrifood.id/minat-tempe-dan-tahu-meningkat-kabupaten-manggarai-kesulitan-kedelai/)

Tags: #Kabupatenmanggarai#kedelai#produsentempetahu#tahu#tempe
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Produk olahan hasil laut NTT oleh UMKM CV Elitism di Kupang Exotic Festival 2025 di halaman kantor Gubernur NTT, 26 Juni 2025. (Rita Hasugian/KatongNTT)

UMKM NTT Mulai Olah Hasil Laut Jadi Produk Unggulan

by Rita Hasugian
29 Juni 2025
0

Di tengah laut biru dan pantai berpanorama indah, potensi ekonomi dari hasil laut di Nusa Tenggara Timur masih tersembunyi di...

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

by Rita Hasugian
12 September 2024
0

Boleh jadi kita tidak pernah terlintas cari tahu tentang jenis jagung yang kita konsumsi, apakah berasal dari bibit jagung lokal...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati