Jakarta – Potensi garam Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah dibahas lebih dari satu dekade terakhir agar menjadi pengganti impor. Sejumlah kebijakan dan program pernah dijalankan menyusul kunjungan dan pembahasan meningkatkan produksi garam.
KatongNTT.com mencatat setidaknya ada 11 menteri dan dua menteri koordinator sejak tahun 2013 lalu yang intens mendorong pengembangan garam NTT. Puncaknya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau tambak garam eks tanah Hak Guna Usaha (HGU) di Desa Nunkurus, Kupang Timur, Kabupaten Kupang, pada Rabu (21/8/2019).
Seperti ditulis laman https://setkab.go.id, saat itu Jokowi menegaskan bahwa kualitas garam NTT lebih bagus dari garam Australia.
“Saya ke sini hanya ingin memastikan bahwa program untuk urusan garam ini sudah dimulai, karena kita tahu impor garam kita 3,7 juta ton, yang bisa diproduksi dalam negeri baru 1,1 juta ton. Masih jauh sekali,” kata Presiden Jokowi usai peninjauan.
Menurut Presiden, NTT memiliki potensi tambak garam yang bisa dikerjakan seluas kurang lebih 21.000 hektare (ha). Di Kupang saja diperkirakan ada sekitar 7.000 ha, tetapi yang dimulai sekitar 600 ha dulu, dan juga baru diselesaikan 10 ha.
“Masih 10 hektare dari 21 ribu hektare, masih jauh sekali. 10 hektare ini, di lingkungan ini baru 600 hektare. Jadi memang ini baru dimulai,” ujar Jokowi saat itu.
Sebelum dan sesudah Jokowi, sebenarnya ada beberapa menteri yang sudah berkunjung dan membahas garam NTT. Ada yang masih menjabat dan ada yang sudah diganti seiring dengan pergantian kabinet. Salah satu yang cukup getol dan bisa dikatakan menjadi perintis adalah Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun saat-saat akhir masa jabatan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.
Di era Jokowi, sebut saja Menteri Perindustrian Saleh Husin; Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti; Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Sofyan Djalil; dan Menteri Perdagangan RI Enggartiaso Lukita.
Kemudian Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo; Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi; Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto; Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto; dan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita.
Terakhir, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono didampingi Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat meninjau lahan tambak garam di Nunkurus, Kabupaten Kupang, NTT, Kamis (17/11/2022). Lokasi tersebut pernah didatangi Jokowi pada Agustus 2019 lalu.
Sedangkan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut B Panjaitan diperkirakan sekitar tiga kali berkunjung dan membahas garam di Teluk Kupang.
Dari kunjungan para pejabat dan tentunya sejumlah kebijakannya, perkembangan garam di NTT bisa dikatakan jalan di tempat. Padahal, NTT digadang-gadang menjadi pemasok garam konsumsi dan garam industri secara nasional. Hal itu karena dalam satu dekade terakhir, ketergantungan garam, terutama garam industri, sangat tinggi dari impor.
Namun, tekad pemerintah untuk mengatasi ketergantungan impor sepertinya masih jauh dari harapan. Data yang ada menunjukkan volume impor garam meningkat dari 2,6 juta ton pada 2019 dan 2020, menjadi 2,8 juta ton pada 2021. Volume impor garam diperkirakan mencapai 3 juta ton pada 2022 dan pada 2023 ini jumlah impor bakal meningkat.
Alex Retraubun yang pernah menjadi Wakil Menteri Perindustrian cukup intens mendorong industri garam sejak tahun 2011. Menariknya, selama dua tahun mengawal program pengembangan garam, khususnya di NTT dan kawasan timur Indonesia, nyaris putus asa jelang akhir masa jabatannya. Belakangan, terobosan yang pernah dijajaki di Mbay, Kabupaten Nagekeo, kemudian melahirkan investasi dari Cheetam Australia.
Jangan sampai rasa frustasi seorang pejabat tersebut kembali muncul satu dekade kemudian karena tidak ada perkembangan garam nasional. Jika pemimpin bangsa saja frustasi, lalu bagaimana dengan rakyat Indonesia? Mudah-mudahan, kunjungan puluhan petinggi negara yang secara khusus membahas garam NTT, tidak membuahkan rasa frustasi. Sebaliknya, bisa menemukan solusi mendasar agar Indonesia bisa memenuhi garam industri sendiri. [Heri Soba]




