Warga 3 desa di Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur kesulitan mengakses air bersih saat musim kemarau.
Mereka mengandalkan bak untuk menampung air hujan saat musim hujan untuk kebutuhan masak, mandi, dan mencuci pakaian.
Saat kemarau datang, warga harus menyisihkan uang untuk membeli air tangki dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu per satu tangki dengan volume 5 ribu liter air.
Yoseph Ferdinandus Redo, Kepala Desa Hewokloang kepada KatongNTT pada Senin, 23 Agustus 202 mengatakan, di wilayah Kecamatan Hewokloang ada 2 sumber air tanah. Berdasarkan hasil survei air bisa mencukupi untuk kebutuhan warga di kecamatan itu.
Begitu juga sumber air tanah ada di Baomekot dan Welinwatu. Berdasarkan hasil survei, di musim kemarau masing-masing sumber air memiliki debit 15 liter per detik.
“Di zaman Pater Bolen, waktu kami masih kecil, tidak susah air. Di mana Pater Bolen pakai alat semacam pompa air. Tapi setelah alat itu rusak, kami menjadi kesulitan air dan harap air tadah hujan,” kata Yoseph.
Silvester Moa, Kepala Desa Kajowair mengatakan hampir seluruh desa di Kecamatan Hewokloang melalui Musrenbangdus, Musrenbangdes sampai Murenbang Kecamatan sudah berulangkali mengusulkan akses air terutama di musim kemarau. Namun pemerintah belum memprioritaskan permintaan mereka.
“Setiap Musrenbang, mulai dari dusun, desa sampai kecamatan, kami selalu usulkan. Tetapi belum mendapat perhatian prioritas dari pemerintah Kabupaten,” kata Silvester Moa.
Padahal wilayah Kecamatan Hewokloang adalah daerah pertanian dan perkebunan penghasil komoditi, seperti, vanili, kakao, cengkeh, kemiri, mente, pala, lada, bahkan marica dan komoditi lainnya.
Mulai Agus, sampai November setiap tahun, kami harus beli air tangki untuk bertahan hidup. Kalau yang tidak punya bak tampung terpaksa beli pakai jerigen dengan harga Rp 15 ribu per satu jerigen untuk 20 liter,” ujarnya.
Kepala Desa Wolomap, Marinus Moa, menegaskan kondisi bak tampung air hujan yang tidak steril serta berlumut diduga salah satu penyebab stunting dan gizi buruk.
“Saya bicara seperti ini karena belum ada pemerintah yang teliti air berlumut itu layak dikonsumsi atau tidak. Peneliti manapun belum pernah ada yang teliti kadar mineralnya,” kata Marinus dengan nada kesal.
Sebagai kepala wilayah di desa, dia sudah membangunkan bak tampung air tadah hujan kepada setiap kepala keluarga dengan sumber dana desa. Bahkan melalui program dari LSM yang masuk di desa.
“Setiap bulan, bahkan setiap minggu kami semua kepala desa di Kecamatan Hewokloang selalu bertemu dan membahas segala kendala di desa kami masing-masing. Termasuk masalah air ini,” kata Marinus.
Para kepala desa meminta agar pemerintah segera menanggapi usulan pembangunan akses air bersih di wilayah Kecamatan Hewokloang. Selain itu meminta Pemerintah Kabupaten Sikka agar meneliti mineral dari air hujan yang sudah berlumut yang selama ini dikonsumsi masyarakat.(Sun)




