• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Minggu, Agustus 16, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Sorotan

Budaya Tutu Unu Wolokoli Terancam Punah

Rita Hasugian by Rita Hasugian
5 tahun ago
in Sorotan
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Corficarnus-Nong-Manyus-pelestari-budaya-Tutu-Unu-tanpa-dukungan-modal-dari-pemerintah (Sun=KatongNTT.com)
0
SHARES
480
VIEWS

Budaya Tutu Unu atau membuat periuk dari tanah liat sudah berlangsung dari tahun 1922 di Desa Wolokoli, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka. Budaya Tutu Unu digemari oleh masyarakat di masa itu.

Unu Tana atau periuk tanah digemari masyarakat Sikka untuk keperluan memasak nasi, masak moke (miras lokal), simpan moke dalam jangka waktu lama, dipakai untuk mengambil air, bahkan untuk wadah air minum.

BacaJuga

Hotel Sasando International (Dok.KatongNTT)

Setengah Hati Merawat Hotel Sasando

13 Agustus 2026
Lima perempuan anggota Forum Pelangi Kasih dii Kota Kupang yang melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka sebagai LGBTQ+. Anak-anak mereka sering diejek, didisrkiminasi, dan dilecehkan. (Dok. KatongNTT)

Dipeluk Ibu Saat Dunia Menolak, Cerita dari Forum Pelangi Kasih Kupang

3 Juli 2026

Corficarnus Nong Manyus, (46), warga RT 020, RW 07, Dusun Gedo, Desa Wolokoli, Kecamatan Bola mengatakan, budaya Tutu Unu Tana perlahan ditinggalkan seiring perkembangan zaman.

“Tutu Unu, sudah sejak tahun 1922 sangat digemari masyarakat. Tetapi sejak 1980-an mulai berkurang karena sudah banyak alat masak dari aluminium serta ember dan peralatan masak lainnya,” kata Manyus kepada KatongNTT, Jumat, 27 Agustus 2021.

Selain tantangan zaman yang sudah modern, para pengrajin Tutu Unu mengalami kesulitan modal.

Sehingga banyak pengrajin yang beralih ke kerajinan lainnya. Hal itu membuat budaya Tutu Unu di Wolokoli terancam punah.

“Peminat sudah berkurang, pengrajin kekurangan modal sehingga ditinggalkan. Budaya Tutu Unu sudah langka dan terancam punah,” ujarnya.

Manyus pada tahun 1990 terpanggil untuk melestarikan budaya Tutu Unu dengan membentuk sebuah kelompok untuk membuat periuk, kumbang, dan guci dari tanah liat.

Namun dunia semakin modern dan mudah memperoleh peralatan masak dan peralatan lainnya. Sehingga peminat periuk tanah berkurang bahkan sepi pembeli sehingga kelompok pengrajin Tutu Unu bubar.

Di tahun 1996, Manyus mengikuti pelatihan pembuatan gerabah di Bantul, Jogjakarta selama 6 bulan. Berbekal pelatihan itu, setelah kembali Manyus memulai usahanya yang lebih modern.

Manyus mulai membuat gerabah berupa guci, asesoris, pernak pernik, vas bunga, pot bunga, cangkir, teko. Bahkan dia membuat dulang dan kuali dari tanah liat dengan ukiran motif Sikka.

Tetapi usaha itu terbentur modal sehingga sangat tergantung pada pesanan. Belum pernah ada bantuan atau suntikan modal baik dari pemerintah maupun dari pihak lainnya.

Kendati begitu, Manyus tetap membuat Unu Tana berdasarkan pesanan.

“Saya kerja sesuai pesanan. Soalnya saya modal kurang sehingga saya tunggu orang pesan baru buat,” ujarnya.

“Saya dari dulu belum dapat bantuan baik dari pemerintah ataupun dari pihak lain,”tutur Manyus.

Saat ini dia menggarap asesoris pesanan dari Kejaksaan Negeri Sikka baik berupa patung, ukiran bermotif, asesoris lampu, guci dan asesoris lainnya. Selain itu juga menerima tawaran pembuatan taman. (Sun)

Tags: #BudayaTutuUnu#Pengrajin#Sikka#Tanahliat
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Hotel Sasando International (Dok.KatongNTT)

Setengah Hati Merawat Hotel Sasando

by Rita Hasugian
13 Agustus 2026
0

KatongNTT – Suara Johanes Tenggas, 50 tahun datar menjawab pertanyaan tim transisi dari PT Flobamor, BUMD Provinsi NTT pada Senin,...

Lima perempuan anggota Forum Pelangi Kasih dii Kota Kupang yang melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka sebagai LGBTQ+. Anak-anak mereka sering diejek, didisrkiminasi, dan dilecehkan. (Dok. KatongNTT)

Dipeluk Ibu Saat Dunia Menolak, Cerita dari Forum Pelangi Kasih Kupang

by KatongNTT
3 Juli 2026
0

Kupang –Suara tawa lepas lima perempuan lansia memenuhi ruang tamu rumah Pendeta emeritus Aplonia Mariana Mba’u-Lidda pekan terakhir April lalu....

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati