Budaya Tutu Unu Wolokoli Terancam Punah

Corficarnus-Nong-Manyus-pelestari-budaya-Tutu-Unu-tanpa-dukungan-modal-dari-pemerintah (Sun=KatongNTT.com)

Budaya Tutu Unu atau membuat periuk dari tanah liat sudah berlangsung dari tahun 1922 di Desa Wolokoli, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka. Budaya Tutu Unu digemari oleh masyarakat di masa itu.

Unu Tana atau periuk tanah digemari masyarakat Sikka untuk keperluan memasak nasi, masak moke (miras lokal), simpan moke dalam jangka waktu lama, dipakai untuk mengambil air, bahkan untuk wadah air minum.

Corficarnus Nong Manyus, (46), warga RT 020, RW 07, Dusun Gedo, Desa Wolokoli, Kecamatan Bola mengatakan, budaya Tutu Unu Tana perlahan ditinggalkan seiring perkembangan zaman.

“Tutu Unu, sudah sejak tahun 1922 sangat digemari masyarakat. Tetapi sejak 1980-an mulai berkurang karena sudah banyak alat masak dari aluminium serta ember dan peralatan masak lainnya,” kata Manyus kepada KatongNTT, Jumat, 27 Agustus 2021.

Selain tantangan zaman yang sudah modern, para pengrajin Tutu Unu mengalami kesulitan modal.

Sehingga banyak pengrajin yang beralih ke kerajinan lainnya. Hal itu membuat budaya Tutu Unu di Wolokoli terancam punah.

“Peminat sudah berkurang, pengrajin kekurangan modal sehingga ditinggalkan. Budaya Tutu Unu sudah langka dan terancam punah,” ujarnya.

Manyus pada tahun 1990 terpanggil untuk melestarikan budaya Tutu Unu dengan membentuk sebuah kelompok untuk membuat periuk, kumbang, dan guci dari tanah liat.

Namun dunia semakin modern dan mudah memperoleh peralatan masak dan peralatan lainnya. Sehingga peminat periuk tanah berkurang bahkan sepi pembeli sehingga kelompok pengrajin Tutu Unu bubar.

Di tahun 1996, Manyus mengikuti pelatihan pembuatan gerabah di Bantul, Jogjakarta selama 6 bulan. Berbekal pelatihan itu, setelah kembali Manyus memulai usahanya yang lebih modern.

Manyus mulai membuat gerabah berupa guci, asesoris, pernak pernik, vas bunga, pot bunga, cangkir, teko. Bahkan dia membuat dulang dan kuali dari tanah liat dengan ukiran motif Sikka.

Tetapi usaha itu terbentur modal sehingga sangat tergantung pada pesanan. Belum pernah ada bantuan atau suntikan modal baik dari pemerintah maupun dari pihak lainnya.

Kendati begitu, Manyus tetap membuat Unu Tana berdasarkan pesanan.

“Saya kerja sesuai pesanan. Soalnya saya modal kurang sehingga saya tunggu orang pesan baru buat,” ujarnya.

“Saya dari dulu belum dapat bantuan baik dari pemerintah ataupun dari pihak lain,”tutur Manyus.

Saat ini dia menggarap asesoris pesanan dari Kejaksaan Negeri Sikka baik berupa patung, ukiran bermotif, asesoris lampu, guci dan asesoris lainnya. Selain itu juga menerima tawaran pembuatan taman. (Sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *