• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Kamis, Oktober 1, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Cuaca, Iklim dan Lingkungan

Kepala BMKG: Semakin Tinggi Kertidakpastian dan Kompleksitas Fenomena Alam

Rita Hasugian by Rita Hasugian
5 tahun ago
in Cuaca, Iklim dan Lingkungan
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati (VIVA.co.id/M Ali Wafa)

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati (VIVA.co.id/M Ali Wafa)

0
SHARES
327
VIEWS

Kupang – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan, saat ini periodisasi fenomena alam sudah tidak beraturan lagi. Kondisi ini dipengaruhi oleh perubahan iklim yang sedang terjadi.

Dwikorita mengatakan, ketidakpastian fenomena alam semakin tinggi dan sangat kompleks. Hal itu disampaikannya dalam acara Jumpa Pers di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu, 16 Maret 2022.

BacaJuga

Gereja Santo Thomas Moruf di Maumere, kabupaten Sikka, rusak diterjang gempa pada 15 Agustus 2026. (Dok. Benadikta da Silva)

Gempa Susulan Terus Terjang Flores, BMKG: Total 1576 !

17 Agustus 2026
Desa Tablolong. (Rita Hasugian/KatongNTT)

Cerita Rumput Laut dari Tablolong: Petani Kesulitan Bibit, Hama Lendir, dan Tercemar Mikroplastik

11 Februari 2026

Ketidakteraturan periodisasi fenomena alam, kata Dwikorita, berdampak pada bagaimana mengelola resiko dan ketidakpastian tersebut. Ia mengatakan, masyarakat bertanya-tanya kapan potensi badai Siklon tropis Seroja yang terjadi di NTT April tahun lalu terjadi lagi. Pertanyaan itu muncul sebagai bagian dari upaya berjaga-jaga.

“Untuk menjawab itu (kapan badai itu akan terjadi lagi), tidak bisa dengan mudah. Caranya bagaimana? Kami melakukan monitoring,” kata Dwikorita.

Pemantauan terhadap potensi fenomena siklon tropis terus dilakukan BMKG dan informasinya disampaikan kepada masyarakat. Dwikorita menjelaskan, potensi badai Siklon Tropis itu dimulai dari bibit siklon atau low pressure area. BMKG melakukan pemantauan terhadap perubahan suhu muka air laut atau melalui radar satelit.

“Sekitar satu minggu sebelum kejadian sudah terdeteksi low pressure area,” ujarnya.

Dwikorita mengatakan, pada masa lalu, low pressure area belum menjadi perhatian dari BMKG sebab seringkali bibit siklon itu tidak menjadi badai. Sehingga, BMKG biasanya menginformasikan kepada masyarakat 3 hari sebelum kejadian.

Namun saat ini, BMKG sudah menginformasikan satu minggu sebelum terjadi badai atau mulai dari terdeteksinya bibit siklon tropis itu. Infomrasi diberikan lebih awal agar masyarakat sudah mempersiapkan diri menghadapi badai.

“Biasanya periode ulang (badai) itu ada, tapi sekarang periode itu sudah porak-poranda,” jelas Dwikorita.

Dwikorita menyampaikan apresiasi kepada Komunitas Nelayan Angsa Laut Oesapa yang aktif menginformasikan kepada masyarakat sebelum terjadi badai Seroja. Komunitas ini mengikuti Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SCLN) pada 2019 di Stasiun Maritim Tenau Kupang.

“Nah, sudah dijelaskan bagaimana cara memahami cuaca iklim,” kata Dwikorita.

Ketua Komunitas Nelayan Angsa Laut Oesapa, Muhamad Mansur Doken atau sering disapa Dewa yang ditemui KatongNTT Januari 2022 lalu, mengakui manfaat mengikuti SLCN. Bahkan sebelum badai Siklon Tropis Seroja, mereka sudah mendapatkan informasi.

Informasi itu yang disampaikan ke masyarakat sekitar untuk bersiap-siap menghadapi badai. Namun kapal-kapal mereka hancur karena tidak ada tempat perlindungan bagi kapal di wilayah Oesapa.

Namun kesulitan yang dihadapi, kata Dwikorita, saat pihaknya datang ke Kelurahan Oesapa, disana belum ada jalur untuk evakuasi yang aman. Kemudian fasilitas pengaman pun belum memadai.

Kepala Stasiun Klimatologi Kupang, Rahmattulioh Adji mengatakan, dulu periodisasi fenomena global Siklon tropis itu biasanya berulang pada 5-7 tahun sekali. Kemudian bergeser lagi, kejadian itu berulang pada 3-5 tahun.

“Sekarang 2-3 tahun (fenomena itu berulang),” kata Rahmattulloh.

“Dua tahun terakhir (terjadi) setiap tahun,” sambung Dwikorita menegaskan. (K-04)

Tags: #fenomenaalam#KepalaBMKG#siklontropisbadaiseroja
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Gereja Santo Thomas Moruf di Maumere, kabupaten Sikka, rusak diterjang gempa pada 15 Agustus 2026. (Dok. Benadikta da Silva)

Gempa Susulan Terus Terjang Flores, BMKG: Total 1576 !

by Rita Hasugian
17 Agustus 2026
0

KatongNTT- Gempa susulan masih mengguncang Pulau Flores hingga hari ini. Fransiska Heldiana Juita, warga Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat pada...

Desa Tablolong. (Rita Hasugian/KatongNTT)

Cerita Rumput Laut dari Tablolong: Petani Kesulitan Bibit, Hama Lendir, dan Tercemar Mikroplastik

by Rita Hasugian
11 Februari 2026
0

Pada Jumat sore, 30 Januari 2026, Indrawati Doroh duduk berselonjor di teras rumahnya di Desa Tablolong, Kabupaten Kupang, NTT bersama...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati