KatongNTT– Gempa susulan masih mengguncang Pulau Flores hingga hari ini. Fransiska Heldiana Juita, warga Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat pada jam 09.00 Wita merasakan sedikitnya tiga gempa dengan lama getaran masing-masing sekitar 3-4 detik.
“Saya sedang di kamar mandi gempa terasa kuat. Saya tarik nafas, tidak berteriak-teriak karena tekanan darah rendah,” kata Siska, begitu dia disapa.
Siska mengatakan, gempa pertama terjadi sekitar jam 2-3 dini hari pada 17 Agustus 2026 dan terakhir jam 9 pagi.
“Gempa jam 2-3 subuh, lalu sekitar jam 6 pagi, dan jam 9 pagi ini. Tembok rumah dan tempat tidur bergetar,” ujar Sisca.
Baca juga: Gempa Beruntun Guncang Nagekeo, Tak Berpotensi Tsunami
Pulau Flores diguncang gempa berkekuatan M7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Hampir semua kabupaten di pulau bunga itu diterjang gempa hingga menimbulkan kerusakan parah pada bangunan rumah, perkantoranm, pusat pendidikan, dan rumah ibadah.
BMKG menginformasikan telah terjadi tsunami setinggi sekitar 0,5 meter di sekitar Flores hingga ke perairan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. BMKG pada siang harinya mencabut status tsunami.
Gempa susulan terjadi lebih dari 100 kali sehingga warga Flores tetap waspada dan memilih bertahan di pengungsian. Meski ada warga yang pulang ke rumah dengan tetap waspada. Sisca menuturkan , orangtua dan saudaranya kemarin malam memilih tidur di dalam rumah setelah sebelumnya tidur di luar rumah beralas tikar dan kasus pegas.
Saat tidur di dalam rumah, keluarga Sisca tetap waspada dengan tidak mengunci pintu utama rumah dan membuka pintu kamar tidur supaya mudah menyelamatkan diri.
Rumah orangtua Sisca di kawasan Lancang, Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat tidak mengalami dampak parah akibat gempa. Warga sekitar juga masih bisa mengakses sembako, air bersih dan listrik.
Di Ruteng, Manggarai, gempa susulan masih terjadi. Menurut Margareta Kartika, ribuan warga masih mengungsi menggunakan tenda darurat. Mereka masih cemas akan dampak dari gempa pada Sabtu, 15 Agustus 2026 dan gempa susulan.

Baca juga: Ada Potensi Tsunami di NTT, Mitigasi Daerah Rawan Perlu Diperkuat
Selain itu, beberapa desa terisolasi akibat gempa di antaranya Desa Cibal Barat di mana gempa telah merengut nyawa satu warga. Margareta menjelaskan, beum ada bantuan diterima warga Cibal.
Dalam rangka Hari Kemerdekaan RI ke 81, Margareta menjelaskan, para mahasiswa PMKRI Ruteng hari ini berangkat membawa bantuan untuk warga Cibal. Mereka juga akan melakukan pendataan kebutuhan prioritas menurut warga setempat.
Margareta sebagai Ketua PMKRI Ruteng meminta pemerintah baik di Pusat maupun daerah untuk mnyalurkan bantuan secara merata kepada semua warga yang terdampak gempa. “Saat ini bantuan difokuskan ke Maumere (Kabupaten Sikka) dan Nagekeo. Ada daerah terpencil dan belum mendapat bantuan,” ujarnya.
Para warga Ruteng yang terkena dampak gempa sangat membutuhkan air bersih dan air minum. “Air bersih sangat kurang, air minum juga sangat kurang,” ujar Margareta.
Selain itu, warga membutuhkan bantuan untuk kebutuhan bayi dan lansia, sembako, selimut, dan alat penerangan.
Dalam infobmkg, media sosial resmi BMKG di Instagram menjelaskan, jumlah gempa susulan hingga 17 Agustus 2026 jam 6 pagi WIB, total gempa susulan sebanyak 1576 dengan magnitude terbesar 6,2 dan magnitude terkecil 1,3. Jumlah gempa susulan yang dirasakan sebanyak 54. *****




