Kupang – Singkong merupakan makanan tradisional yang sudah melekat dengan Indonesia sejak berabad-abad silam. Demikian juga di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Indonesia Timur lainnya, singkong diolah menjadi sejumlah makanan yang disesuaikan dengan selera setempat.
KatongNTT.com terus menggali ragam pangan tradisional tersebut yang sudah terbukti menjadi penyelamat hidup dalam situasi apapun. Salah satunya di Belu, sebuah kabupaten yang berbatasan langsung dengan Timor Leste. Kawasan ini memiliki sejumlah makanan khas seperti aka bilan, kolak bete lalenok, dan ai uhik kuhus.
Baca : Kamboja, Singkong ‘Pejabat’, dan Sehari Tanpa Nasi
Ai uhik kuhus atau singkong kukus merupakan makanan khas yang sehat. Dengan bahan utama singkong, masyarakat kadang menyiapkan untuk hidangan sehari-hari dan juga bisa dijumpai di pasar. Bahan-bahan pembuatnya selain tepung singkong adalah kelapa parut, gula merah, kacang hijau setengah matang dan air.
Cara membuatnya pun terbilang mudah, yaitu dengan meremas-remas tepung singkong dan kelapa parut yang telah dicampur dengan air, gula merah parut dan kacang hijau di dalam wadah bernama nyiru. Kemudian dibentuk sesuai dengan kepalan tangan. Lalu dikukus di wadah pengukus yang terbuat dari anyaman daun lontar dengan bentuk kerucut, namanya kakuhus. Wadah itu lantas dimasukkan ke dalam hanek (periuk tanah liat) yang telah diisi air dan dimasak di atas api.
Baca : Uwi Ai Ndota, Singkong Cincang dari Ende yang Lezat dengan Kuah Ikan
Makanan ini umumnya disajikan bersama ikan kuah asam atau bisa pula dinikmati sebagai teman minum kopi. Informasi yang diperoleh menyebutkan dalam satu porsi ai uhik kuhus mengandung 184,2 kkal; 2,7 gram protein; 2,6 gram lemak; dan 39,3 gram karbohidrat.
Selain ai uhik kuhus, Belu juga mempunyai makanan khas lainnya seperti aka bilan yang terbuat dari sagu. Pada zaman dahulu, aka bilan ini merupakan makanan pokok masyarakat Belu yang terbuat dari campuran sagu, kelapa parut, kacang hijau, dan sedikit garam. Meski tidak diberi gula, aka bilan memiliki rasa manis dari campuran kelapa. Aka bilan akan lebih nikmat jika disantap bersama kopi atau teh.
Baca: Identifikasi Ekonomi Kreatif dan Tindak Lanjut di Kabupaten Sikka
Kemudian, kolak bete lalenok yang sekilas mirip kolak pada umumnya. Namun ketika diaduk akan menemukan jagung bose dan ubi kuning yang menjadi bahan utama kuliner khas Belu ini. Selain bahan di atas, ada pula biji mutiara, kacang hijau dan santan kelapa yang jadi campuran menu ini.
Satu lagi disebut disebutkan adalah batar sokur merupakan tumbukkan jagung kering yang dicampuri dengan air pada sebuah lesung. Jagung ditumbuk berulang-ulang mengeluarkan kulit keras luarnya dan kotoran-kotoran yang tidak perlu di dalam biji jagung. Setelah ditumbuk lalu ditampih dan dibersihkan di dalam nyiru. Bisa dicampur dengan kacang hijau, kacang tanah atau kacang tali dan kacang turis sebelum merebus di dalam periuk tanah tradisional atau periuk nasi. [Anto]




