Kupang – Perubahan iklim yang terjadi saat ini menjadi perhatian seluruh dunia. Perjanjian Paris merupakan wujud komitmen dari seluruh negara dalam aksi melawan perubahan iklim. Di Indonesia, Pemerintah menindak lanjutinya dengan pengesahan Undang-undang nomor 16 tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to The United Nations Framework Convention on Climate Change (Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Perubahan Iklim).
Yurgen Nubatonis dari Koalisi KOPI, program Suara Orang Muda untuk Aksi Iklim wilayah NTT mengatakan, kaum milenial perlu berpartisipasi dalam agenda aksi perubahan iklim. Keterlibatan kaum muda ini harus didorong ke arah keberpihakan pada pihak-pihak yang merasakan dampak perubahan iklim, seperti petani dan nelayan.
“Sekarang kita mendorong kaum muda untuk memperbanyak aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, juga mendorong keberpihakan pemuda terhadap pihak-pihak yang terkena dampak perubahan iklim, seperti petani, nelayan dan lain-lain,” kata Yurgen.
Mitigasi yang perlu dilakukan oleh kaum muda, kata Yurgen, bisa berupa penggunaan energi baru terbarukan maupun konservasi alam dengan tanaman yang sesuai. Menurutnya, mitagasi ini berfokus pada aktivitas yang memberi dampak seminimal mungkin pada faktor-faktor yang menyebabkan perubahan iklim.
Yurgen mengatakan, kaum muda juga perlu terlibat dalam memberikan edukasi terkait adaptasi kehidupan masyarakat ditengah situasi perubahan iklim saat ini. Hal yang prtlu diketahui masyarakat, kata Yurgen, misalnya pemilihan jenis tanaman yang cocok untuk wilayah yang semakin basah atau semakin kering akibat iklim yang berubah.
Nur Narang dari Komunitas Tazkia Aarian Project di Kota Kupang mengatakan, komunitasnya memiliki jadwal setiap bulan untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial, salah satunya dengan menanam pohon. Aksi itu melibatkan anak-anak yang belajar dalam komunitas sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan.
“Selain mendapatkan ilmu secara gratis dari les yang secara rutin kita lakukan, tapi dari segi empati dan simpati terhadap lingkungan dan sosial juga kita tanamkan dengan melakukan kegiatan tanam pohon dan membersihkan sampah di pantai. Kegiatan ini melibatkan anak-anak dan orang tua,” kata Nur.
Nur menjelaskan, kegiatan yang dilakukan sejalan dengan misi komunitas tersebut di bidang pendidikan dan sosial. Menurutnya, pendidikan yang diberikan tidak terbatas dalam ruang belajar. Keterlibatan anak dan orang tua dalam aksi peduli lingkungan akan meningkatkan kepekaan dan pemahaman mereka tentang pentingnya lingkungan.
Badai Seroja yang menerjang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada April 2021 lalu menjadi pelajaran penting bagi masyarakat. Komunitas Milenial Pecinta Malaka (MPM) kini giat melakukan penanaman pohon di daerah aliran sungai (DAS).
Roy Tey Seran dari Komunitas MPM mengatakan, aksi itu melibatkan semua unsur tanpa memandang perbedaan. Roy menjelaskan, ada begitu banyak anak sungai Benenai yang perlu direboisasi. Aksi reboisasi itu membutuhkan banyak tenaga terutama kaum muda.
“Visi kami mengajak sebanyak mungkin orang, semua pihak, terutama pemuda untuk berpartisapasi tanpa membeda-bedakan SARA,” ujar Roy.
Nur mengatakan, edukasi yang diberikan pada anak-anak dan orang tua tidak sebatas menanam, tapi juga merawat pohon yang sudah di tanam. Komunitas Tazkia Aarian Project pada Februari 2022 lalu melakukan penanaman anak mahoni dan beberapa jenis tanaman lain di area jalur penghijauan Petuk Kota Kupang.
Hal yang sama dilakukan oleh Komunitas MPM. Selain menaman, edukasi tambahan yang diberikan adalah perawatan pohon. Sebanyak 4.000 lebih pohon sudah ditanam oleh MPM dalam aksi peduli lingkungan sebanyak 8 kali.
Gerakan itu dimulai pada Desember 2021 dan ditargetkan sampai akhir musim hujan tahun ini. Aksi tersebut diikuti oleh anak-anak hingga orang dewasa.
Roy mengatakan, ada berbagai jenis anak yang sudah ditanam, seperti bambu, falmboyan, merbau, mahoni, mente. Jambu air, jambu bangkok, nangka, mangga, pinang Alor, lamtoro Australia, beringin, coklat dan trambesi.
Roy melihat masyarakat semakin sadar untuk ikut terlibat dalam aksi menjaga lingkungan. Dari sejumlah aksi yang sudah dilakukan, partisipasi masyarakat terus bertambah.
“Kami memulai dengan giat pertama hanya 20-an orang. Kemudian bertambah menjadi 60 orang, 100 orang dan giat-giat terakhir itu diikui lebih dari 100 orang, tandanya ada yang baik,” jelas Roy.(K-04)




