Banjir Bandang Pertama Kali di Desa Inerie, Ini Kronologinya

Banjir-bandang-hancurkan-rumah-warga-Dusun-Malapedho-C-Desa-Inerie-di-Kabupaten-Ngada-Jumat-malam (KatongNTT.com)

Banjir-bandang-hancurkan-rumah-warga-Dusun-Malapedho-C-Desa-Inerie-di-Kabupaten-Ngada-Jumat-malam (KatongNTT.com)

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur menjelaskan kronologi banjir bandang di Desa Inerie dini hari kemarin.

Surat BNPB kepada Gubernur NTT bertanggal 3 September 2021 tentang update data laporan bencana menyebutkan tentang kronologi, penanganan, dan kebutuhan saat ini.

BNPB Ngada menjelaskan kronologi berawal saat hujan turun sejak pagi dengan intensitas tinggi sejak jam 18.00 Wita. Banjir bandang terjadi sekitar jam 23.00 Wita di bantaran Klai Waesugi.

Banjir menerjang 5 unit rumah penduduk yang berada di sekitar bantaran kali.

Banjir bandang terjadi pada alur kali Waesugi dengan total area yang rusak sepanjang bantara kali Waesugi sekitar 150 meter menuju selatan ke Laut Sawu.

BNPB Ngada mencatat korban jiwa yang meninggal sebanyak 2 orang. Pertama, seorang anak perempuan berusia 4 tahun warga Dusun Malapedho C Desa Inerie. Kedua, seorang ibu berusia 38 tahun dalam kondisi hamil 5 bulan juga warga Dusun Malapedho C Desa Inerie.

Korban yang masih dalam pencarian seorang pria berusia 40 tahun warga Dusun Malapedho C Desa Inerie.

Seorang anak laki-laki berumur 7 tahun mengalami patah kaki kiri. Anak ini juga beralamat di Dusun Malapedho C Desa Inerie.

Sebanyak 26 orang, 14 laki-laki dan 12 perempuan, berada dalam pengungsian.

BNPB saat ini melakukan pencarian terhadap satu korban. Selain itu BNPB membersihkan lumpur pada ruas jalam sepanjang sekitar 150 meter dengan menggunakan alat berat excavator dan loader.

BNPB juga memberikan bantuan dapur umum untuk warga yang mengungsi.

Saat ini, menurut BNPB, warga korban banjir bandang membutuhkan pakaian orang dewasa, anak-anak, selimut, kasur, bahan makanan (sembako), obat-obatan dan vitamin, masker, dan bahan bangunan rumah.

BNPB juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadi bencana banjir susulan akibat perubahan cuaca saat ini.

Avan Gouda, anggota Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia di Ngada menjelaskan, banjir bandang di Dusun Malapedho C Desa Inerie baru pertama kali terjadi. Masyarakat sekitar tidak menyangka akan terjadi banjir bandang sekalipun hujan deras hari itu.

“Ini bencana pertama yg TDK terdeteksi sebelumnya. Tanda tanda alam ya. Hari itu hujan cukup lebat di lokasi kejadian dan sekitarnya,” kata Avan melalui pesan Whatsapp kepada KatongNTT, Minggu, 5 September 2021.

“Masyarakat menganggap itu hanya peristiwa biasa. Tidak membayangkan sampai separah ini,” ujar Avan menjelaskan,

Selain itu, menurut Avan, kawasan yang diterjang banjir itu selama ini diketahui bukan area yang berpotensi untuk terjadi bencana alam. Dusun Malapedho C berada di bagian hulu Gunung Inerie. Warga sekitar menjaga kawasan hutan sekitar Gunung Inerie dari pengrusakan.

Jurnalis Ekora NTT yang berada di lokasi kemarin juga memberikan penjelasan kepada KatongNTT bahwa banjir bandang yang terjadi pada larut malam itu baru pertama kali terjadi.

Belum ada penjelasan resmi penyebab terjadinya banjir bandang yang membawa lumpur, bebatuan dari arah hulu membuat sungai meluap dan menerjang Dusun Malapedho C Desa Inerie. (Rh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *