Jakarta – SMAN Habibola yang merupakan kelas Filial dari SMAN 1 Bola, Kabupaten Sikka, ikut dalam Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) yang diselenggarakan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud RI. Sekolah ini menjadi satu-satunya wakil SMA dari Provinsi Nusa Tenggara (NTT) yang tampil di Jakarta selama 20-29 Oktober 2023.
Informasi yang diperoleh KatongNTT.com menyebutkan sekolah yang baru dua tahun berdiri ini mengutus 26 siswa bersama para guru pendamping. Kegiatannya menampilkan Togo Apur yakni sebuah tarian khas masyarakat Desa Waihawa yang terancam hilang. Dari jadwal yang diterima, Tarian Togo Apur ini ditampilkan sejak dari pembukaan hingga beberapa kegiatan dalam agenda PKN tersebut.
Baca : Sinergi untuk Antisipasi Bencana Kekeringan Perlu Terus Ditingkatkan
Salah satu tokoh masyarakat Waihawa, Yulio, memberi apresiasi atas sekolah yang masih baru tersebut tetapi sudah bisa menampilkan kegiatan berkualitas di tingkat nasional. Kendala dana pun terus diupayakan dengan mengatur keberangkatan dalam dua kelompok. Kelompok pertama menggunakan kapal KM Dharma Rucitra VII dan rombongan lainnya dengan pesawat. “Banyak keterbatasan, terutama dana, tetapi semangat semua yang terlibat luar biasa. Kami masih mengharapkan dukungan dari berbagai pihak,” ujar Yulio, Sabtu (21/10/2023) di Gedung Stovia, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta.
Tim Presisi Togo Apur didaulat mengiringi tarian hegong papak dan huler wair untuk menjemput tamu VIP di lokasi pembukaan PKN. Setelah itu, ada beberapa agenda rutin yang menampikan para penari dari SMAN Habibola ini.
Dari Sikka terdapat dua dari 7 sekolah di seluruh Indonesia yang lolos seleksi nasional PKN dan tampil di Jakarta. Selain SMAN Habibola sebagai Kelas Filial dari SMAN 1 Bola, ada juga SMP Saint Carlos Habi dengan menampilkan pembuatan lem dari biji asam.
Baca : Perubahan Iklim, Limbah Makanan dan Pangan Berkelanjutan di Flores Barat
Sebagai informasi, Togo Apur sendiri adalah sebuah tarian khas masyarakat Desa Waihawa yang dibuat untuk mengiringi ritual pembakaran Watu Ruho. Ritual dimulai dari memanggil batu karang di laut sebagai bahan baku utama untuk Rope Apur, menyusun kayu dan batu, membacakan bait syair hingga memanen kapur setelah proses pembakaran. Hasil pembakaran digunakan sebagai bahan pelengkap sajian sirih pinang (apur), pewarna pakaian alami, dan juga bahan dasar menghaluskan dinding rumah sebelum dicat.
Adapun Minggu (22/10/2023) malam ini (19.00 WIB), Tarian Togo Apur kembali ditampilkan di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat. [Anto]




