Padma: Pemerintah Bertanggungjawab Umumkan Resmi Nasib 7 ABK Hilang di Mauritius

Klaudius-Ukat-satu-dari-7-ABK-Hilang-di-Perairan-Mauritius (Katongntt)

Klaudius-Ukat-satu-dari-7-ABK-Hilang-di-Perairan-Mauritius (Katongntt)

Kupang– Ketua Dewan Pembina Padma Indonesia, Gabriel Goa mengatakan pemerintah Indonesia bertanggung jawab untuk mengumumkan secara resmi nasib 7 ABK hilang sudah 11 bulan lamanya di perairan Mauiritius, Afrika.

Sedangkan pembayaran klaim asuransi yang dilakukan perusahaan perekrut 7 ABK ini dinilai telah bertindak sepihak. Menurut Gabriel, perusahaan perekrut 7 ABK hilang menjelaskan lebih dahulu kepada pemerintah tentang peristiwa yang menyebabkan mereka hilang.

Keluarga juga berhak mendapatkan informasi resmi dari perusahaan perekrut 7 ABK tentang apa yang terjadi hingga anggota keluarga mereka disebut hilang.

“Kok perusahaan mendahului tanpa memberikan penjelasan apakah mereka masih hidup atau tidak? Surat ini sepihak dari perusahaan,” kata Gabriel Goa kepada KatongNTT, 12 Januari 2022.

“Surat ini tentunya batal demi hukum karena proses pengumuman resmi orang hilang belum ada dari negara. Ini sepihak perusahaan, mau cari aman. Keluarga ini jadi korban. Kewajiban negara untuk hadir,” ujar Gabriel menegaskan.

Dari surat permohonan bantuan hukum Gabriel Unu Tunabenani, orangtua dari satu ABK yang hilang kepada Padma Indonesia bertanggal 10 Desember 2021, tercantum nama 7 ABK hilang yakni:

  1. Rudi Herdiana (Brebes, 23 Mei 1988).
  2. Dadan (Ciamis, 20 Juli 1994).
  3. Petrus Crisologus Tunabenani (Covalima, 30 Juli 1994).
  4. Klaudius Ukat (Abat, 15 Februari 1997).
  5. Galih Candra Kusuma (Kebumen, 5 Februari 1996).
  6. Muhamad Jafar.
  7. Anton Pradana.

Ketujuh pekerja migran di bidang perikanan dan kelautan ini berasal dari beberapa perusahaan jasa perekrut. Satu di antaranya PT Lumbung Artha Segara yang merekrut Petrus Crisologus Tunabenani, anak dari Gabriel Unu Tunabenani.

Padma, Gabriel Goa melanjutkan, telah menerima permohonan bantuan hukum dari Gabriel Unu. Selanjutnya Padma meminta perlindungan sekaligus informasi resmi dari Direktorat Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri. Informasi yang dia terima, pemerintah sedang mencari tahu tentang peristiwa 7 ABK hilang.

Gabriel Goa juga menerima informasi ada orang yang mengaku dari asuransi meminta keluarga 7 ABK hilang untuk melengkapi berkas. Dia menyarankan agar keluarga berhati-hati untuk tidak melayani orang tersebut.

“Kami sampaikan kita belum menerima keterangan resmi dari pemerintah tentang 7 ABK, apakah dikriminalisasi atau apa? Kan belum ada keterangan resmi. Harus jelas dulu,” kata Gabriel Goa.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Lumbung Artha Segara yang merekrut ABK bernama Petrus Crisologus Tunabenani menjelaskan kepada KatongNTT, 12 Januari 2022 telah mengirimkan surat kepada orangtua Petrus. Surat itu intinya tentang pembayaran klaim asuransi Rp 250 juta dan dana santunan belangsungkawa US$ 6000.

Setelah dana diterima, seperti tertulis dalam surat:“Kasus ini dinyatakan telah selesai melalui musyawarah dan mufakat, tidak ada tuntutan di kemudian hari kepada perusahaan perantara Indonesia dan Taiwan,…”

Gabriel Unu, ayah ABK Petrus mengaku telah menerima dana asuransi karena terpaksa. Sementara dana santunan dia tolak meskipun sudah ada notifikasi dana sudah masuk ke rekening banknya.

“Sejak awal saya menuntut keberadaan anak saya, tapi saya dipaksa menerimanya, dibujuk, karena 6 keluarga ABK sudah terima,” ujarnya kepada KatongNTT, 11 Januari 2022.

Padma meminta perusahaan-perusahaan perekrut dipanggil resmi oleh pemerintah untuk dimintai pertanggujawaban atas nasib hilangnya 7 warga Indonesia di perairan Mauritius, Afrika. Begitu juga perusahaan pemilik kapal untuk dipanggil resmi guna dimintai keterangan.

Perusahaan perekrut juga harus dicek apakah memiliki izin resmi untuk menjalankan bisnis sektor perikanan dan kelautan.

“Perusahaan ini harus terdaftar di Kementerian Tenaga Kerja. Perusahaan tidak hanya merekrut namun juga wajib melindungi ABK,” kata Gabriel Goa.

Negara, ujarnya, wajib mempertemukan keluarga 7 ABK hilang dengan ABK Vietnam, mandor dan kapten kapal yang selamat dan kini kabarnya ditahan oleh kepolisian Mauritius. Keluarga ingin mencari tahu dari mereka apa sebenarnya yang terjadi dan mengapa anggota keluarga mereka tak kunjung ditemukan.

Informasi yang diterima keluarga, 7 ABK hilang setelah terjadi pertengkaran dengan ABK Vietnam saat kapal sandar di pelabuhan di perairan Mauritius pada 26 Februari 2021.

Peristiwa itu berawal dari pesta perpisahan ABK Petrus yang sudah berakhir kontrak kerja. Petrus mengundang rekan ABK asal Indonesia ke kapal.

Di saat itu terjadi percekcokan antara Petrus dengan ABK Vietnam. Kemudian kapal yang sandar dilepas menuju tengah laut pada malam itu. Setelah itu diketahui 7 ABK hilang dan ABK Vietnam bersama mandor dan kapten kapal diamankan polisi Mauritius. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *