Peluang Kerja di Jepang dan Jerman Bagi Perawat Asal NTT

Indonesia menjalin kerja sama penempatan PMI di luar negeri melalui program G to G. PMI yang akan kerja melalui program ditempatkan di Jepang, Jerman

Kepala BP2MI NTT Benny Rhamdani melepas PMI program G to G ke Jepang pada Desember 2020 (dok. BP2MI)

Kepala BP2MI NTT Benny Rhamdani melepas PMI program G to G ke Jepang pada Desember 2020 (dok. BP2MI)

Kupang – Pemerintah Indonesia menjalin kerja sama penempatan pekerja migran Indonesia (PMI)  di luar negeri melalui program Government to Government (G to G). PMI yang akan kerja melalui skema ini ditempatkan di Jepang, Jerman dan Korea Selatan.

Kepala UPT. BP2MI Nusa Tenggara Timur (NTT), Siwa menjelaskan, PMI yang mengikuti program ini akan ditempatkan langsung oleh Pemerintah Indonesia ke negara tujuan penempatan. Dalam program ini, Pemerintah Indonesia diwakili oleh BP2MI.

Siwa mengatakan, Indonesia menjalin kerja sama dengan Jepang dan Jerman untuk mengirim tenaga perawat. Sedangkan kerja sama dengan Korea Selatan disepakti untuk bidang industri dan perikanan.

“Alur proses penempatan PMI setiap negara sedikit berbeda, namun semua dimulai dari pendaftaran melalui website BP2MI,” kata Siwa kepada KatongNTT, Kamis (5/5/2022).

Penempatan PMI di Jepang untuk tahun 2023 sudah dibuka. Kendati demikian, kata Siwa, dari NTT belum ada yang mendaftar. Menurutnya, ada PMI asal NTT yang bekerja dari tahun sebelumnya, namun mereka mendaftar di luar Provinsi NTT dan prosesnya tidak dilakukan di NTT.

Pemerintah sudah membuka pendaftaran penempatan PMI di Jerman pada April 2022 lalu. Sedangkan penempatan tahun 2022 ini dibuka tahun 2021 lalu.

Siwa menjelaskan, ada 12 orang dari NTT yang mendaftar untuk bekerja di Jerman. Verifikasi dokumen 4 orang calon PMI dilakukan di NTT, sisanya dilakukan di luar NTT. Dari 12 orang tersebut, 4 orang dinyatakan tidak lulus. Saat ini jelas Siwa ada 8 orang yang sedang mengikuti tahap latihan Bahasa Jerman.

“Korea Selatan belum ada PMI asal NTT,” ujarnya.

Informasi peluang kerja ke luar negeri ini sudah disebarkan oleh UPT. BP2MI NTT melalui sosialisasi kepada semua STIKES dan Poltekkes di Kota Kupang. Siwa menjelaskan, pihaknya juga sudah bersurat  kepada Dinas Ketenagakerjaan masing-masing daerah di NTT untuk menyampaikan informasi tersebut kepada para pencari kerja.

“Belum lama ini kami kerja sama dengan Poltekkes Kemenkes Kupang dan STIKES Maranatha Kupang untuk sosialisasi melalui webinar,” jelasnya.

Direktur Poltekkes Kemenkes Kupang, R. H. Kristina mengatakan, program G to G merupakan angin segar di tengah penyerapan tenaga kesehatan yang terbatas. Pihaknya menyambut baik program dari Pemerintah tersebut.

Menurutnya, Poltekkes Kemenkes Kupang setiap tahun menghasilkan lulusan perawat baik D3 maupun ners (profesi) dalam jumlah yang cukup banyak. Namun di pasar kerja, kebutuhan IDUKA (industri dunia kerja) sangat terbatas.

Pihaknya mendorong para lulusan maupun mahasiswa untuk memanfaatkan peluang bekerja di luar negeri yang disiapkan oleh Pemerintah ini. Jurusan Keperawatan di Poltekkes Kemenkes Kupang, kata Kristina tersebar di empat daerah yakni di Kota Kupang, Ende, Waingapu dan Waikabubak.

Ia menjelaskan, institusi sudah menyiapkan berbagai strategi seperti sosialisasi dan mediasi peluang kerja ke luar negeri, menjalin kerja sama dengan BP2MI dan kerja sama dengan lembaga khusus yang merekrut pekerja ke luar negeri. Di dalam institusi, kampus akan menerapkan mata kuliah bahasa Jepang pada mata kuliah kurikulum lokal.

“Kerjasama dengan BP2MI meliputi mediasi, rekrutmen lulusan ke luar negeri, webinar-webinar yang melibatkan pengurus pusat pekerja migran dengan pihak luar negeri,” ujar Kristina.

Kendala calon PMI asal NTT diterima bekerja di luar negeri adalah penguasaan bahasa. Siwa menjelaskan, bagi calon PMI yang akan bekerja di Jepang diharuskan untuk memiliki kemampuan dasar berbahasa Jepang level N5. Level ini merupakan level paling dasar dalam bahasa Jepang. Sementara yang ingin bekerja di Korea Selatan sudah harus bisa berbahasa Korea saat mengikuti tes.

Bagi calon PMI yang akan bekerja di Jepang, kata Siwa, setelah lulus akan dilatih bahasa Jepang oleh Japan Pundation selama 6 bulan di Jakarta.

“Jerman bagus karena kalau lulus tes wawancara oleh Dinas Tenaga Kerja mereka akan dilatih bahasa Jepang baru berangkat. Jerman dilatih oleh orang Jerman,” kata Siwa.

Siwa mengatakan, ada beberapa keuntungan yang bisa didapatkan oleh PMI yang mengikut program G to G, yakni penempatan sesuai jabatan keahlian, gaji besar dan soal perlindungan selama di negara tujuan bekerja menjadi tanggungjawab negara.

Ia mengatakan, calon PMI yang akan bekerja di Jepang dan Jerman merupakan perawat lulusan S1 nurse dan diploma kesehatan. Untuk industri dan perikan di Korea Selatan sesuai jabatan keahlian. Ia menyarankan para pencari kerja mengakses website bp2mi.go.id untuk mengetahui informasi lebih lengkap terkait program G to G.

“Bagi Pencaker asal NTT  yang memenuhi syarat dan domumen Program G to G kiranya dapat merebut kesempatan kerja tersebut sehingga tidak bergantung pada Jabatan Penata Laksana Rumah Tangga dan Pekerja Perkebunan pada Negara tertentu saja,” kata Siwa.(Joe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *